Thursday, May 14, 2020

Tolong Aku



09. Tolong Aku
Kota ini kering dan berdebu. Sebuah satelit yang tak terawat, 30 kilometer dari ibukota, dan semata-mata ada untuk melayani sang kapital. Hanya ada satu mal kelas C di sana-sini tumbuh kompleks tempet tinggal ukuran kecil yang rumah-rumahnya banyak dikontrakkan. Penduduknya kebanyakan pendatang yang dikirim oleh perusahaan tempat mereka mencari nafkah, untuk bekerja di pabrik yang bergerak siang-malam tanpa henti. Seperti diriku sendiri. Bos mengirimku ke sini untuk membuka kantor cabang sekaligus mengawasi mutu percetakan dengan mesin-mesin besar yang dibangun di kawasan khusus kota industry ini. Bosku itu orang baik. Dan sebetulnya ia cukup ganteng. Tapi, yang lebih penting bagiku adalah dia orang yang akrab dan setia kawan, bahkan pada anak buahnya. Ia tak pernah memaksa. Seperti ketika ia hendak memindahkan aku ke kota ini. Ia Cuma berkata, “Saya ada sedikit urusan pribadi di kota itu. Kota itu punya makna cukup istimewa bagi saya. Kalau kamu mau jadi kepala cabang di sana, saya bakal senang sekali. Saya akan sering ke sana.” Aku tak mampu menolaknya.
Dan di sinilah aku terdampar sejak lima bulan lalu. Tak ada istimewa selain jalan yang berdebu, truk-truk yang datang dan pergi dari kawasan industry menuju pelabuhan. Angkot-angkot dan pasukan motor yang tak pernah mematuhi lampu lalulintas. Tak ada yang istimewa, sampai kali aku mengantar kakakku dan  anaknya yang, ah, tak kelihatan bagi semua orang kecuali bagiku.
Awalnya, kupikir aku kurang tidur dan jadi halusinasi. Jangan-jangan tembakau oplosan dari temanku yang waktu itu kuhisap mengandung ganja sehingga aku melihat ada anak kecil menarik-narik rok seorang ibu muda cantik. Tapi aku tetap melihat anak itu lagi dalam pertemuan kedua kami di mal. Jadi, apa yang salah denganku? Ada apa dengan kota ini? Apakah tempat yang kering ini membuatku jadi bisa melihat?
Hari ini bos menugaskan aku untuk berjaga di percetakan. Ia punya pesanan brosur mobil yang membutuhkan presisi warna. Kliennya tak mau ada pergeseran warna. Untuk itu aku harus begadang di percetakan, mengecek dan member persetujuan setelan mesin pencampur warna tiap kali lembaran akan naik cetak. Kata bos, hanya aku yang mau dan bisa melakukan ini. Bahkan pegawai lelaki yang sudah berkeluarga tak becus melakukan tugas ini. Aku selalu bilang padanya, siap Bos. Pesannya, perhatikan warna merahnya. Harus merah darah. Tak boleh merah yang lain. Merah darah yang segar. Tak boleh darah yang mongering kehitaman.
Di luar matahari telah tenggelam. Di dalam bunyi mesin bergemuruh. Bau tinta dan minyak pelumas tak lagibisa dideteksi satu jam orang berada di sana. Mataku memelototi monitor dan lembaran contoh, sambil otakku mengulang-ulang pesan Bos: merah darah yang segar, merah darah yang segar…
Jam menunjukkan lewat pukul dua ketika aku merasa semua aman. Ketika itulah aku baru merasa mataku kering dan penat. Layard an meja tampak agak cembung sekarang. Dan jika aku berganti foukus pandangan, aku merasa buram sesaat sebelum betul-betul bisa melihat. Pastilah mataku keletihan. Juga tubuhku.
Aku pergi ke kamar kecil untuk hal yang telah sedari tadi kutahan, serta untuk menyegarkan wajahku yang terasa melorot. Pabrik cetak ini hanya punya kamar kecil untuk perempuan di lantai lobi. Hanya resepsionis dan tamu yang perempuan yang biasanya ada di sini, dan mereka biasanya tidak sampai ke bagian mesin. Dan biasanya mereka tak ada lagi setelah gelap. Hanya aku satu-satunya yang bukan lelaki. Aku sebetulnya berpikir untuk menggunakan WC pria terdekat. Tapi, belakangan ini orang-orang di kota ini makin konservatif, mereka selalu ingin memisahkan wilayah pria dan wanita. Jadi, aku pergi ke toilet wanita di area belakang lantai lobi yang telah senyap dan gelap.
Langkahku bergaung di lorong. Seolah-olah ada yang mengikuti aku. Aku menoleh ke belakang, tapi tentu saja tak ada siapa-siapa. Bosku kadang berkata: Kamu pasti aman meskipun jalan sendirian. Tak ada yang berani memperkosamu. Kamu sangat perkasa. Kupikir, ya, pada jam dua malam lewat, aku satu-satunya yang bukan lelaki di bangunan industry ini. Tapi, tiba-tiba seperti ada yang menegur pikiran itu dan berkata, tidak, aku bukan satu-satunya perempuan di sana.
Aku tertegun. Ketika aku berada di dalam kabin toilet, aku merasa mendengar ada orang lain di area wastafel. Seperti suara orang mengulung tisu. Ketika aku keluar tak kulihat siapapun. Tapi gulungan tisu dekat cermin menyisakan sedikit gerakan. Mungkin mataku yang masih kabur karena keletihan. Aku mengerjap-ngerjap, membangunkan mataku yang lelah agar bisa melihat lebih jelas. Kunyalakan kran untuk membasuh wajahku. Kulihat yang keluar dari sana adalah warna merah. Merah darah yang segar…
Aku meloncat mundur. Mataku melotot. Tapi kulihat yang mengalir itu memang warna merah. Merah yang segar. Bukan merah yang menghitam. Aku mencoba membuat semua ini masuk akal. Air tanah yang mengandung karat dan logam. Bukankah ini daerah industry. Tapi, lalu kudengar suara bergesek dan aku menoleh: Samar-samar kulihat gulungan tisu berputar ke bawah tanpa ada siapapun. Mataku yang letih tak bisa beralih focus dengan cepat. Adam omen kabur sesaat. Dan ketika itulah aku melihat dalam cermin seorang anak kecil. Si anak kecil. Ya, bocah kecil berwajah sedih yang telah dua kali kulihat. Ia seperti tersesat. Ia seperti minta tolong padaku.
Ketika mataku mendapatkan ketajamannya kembali, aku tak melihat apa-apa lagi. Air dari kran telah jernih, dan tak ada siapapun di sana kecuali aku. Kulihat tisu gulung itu memang telah terjatuh.

***

1 comment:

  1. kelinci99
    Togel Online Terpercaya Dan Games Laiinnya Live Casino.
    HOT PROMO NEW MEMBER FREECHIPS 5ribu !!
    NEXT DEPOSIT 50ribu FREECHIPS 5RB !!
    Ada Bagi2 Freechips Untuk New Member + Bonus Depositnya Loh ,
    Yuk Daftarkan Sekarang Mumpung Ada Freechips Setiap Harinya
    segera daftar dan bermain ya selain Togel ad juga Games Online Betting lain nya ,
    yang bisa di mainkan dgn 1 userid saja .
    yukk daftar di www.kelinci99.casino

    ReplyDelete