09. Tolong Aku
Kota ini
kering dan berdebu. Sebuah satelit yang tak terawat, 30 kilometer dari ibukota,
dan semata-mata ada untuk melayani sang kapital. Hanya ada satu mal kelas C di
sana-sini tumbuh kompleks tempet tinggal ukuran kecil yang rumah-rumahnya
banyak dikontrakkan. Penduduknya kebanyakan pendatang yang dikirim oleh
perusahaan tempat mereka mencari nafkah, untuk bekerja di pabrik yang bergerak
siang-malam tanpa henti. Seperti diriku sendiri. Bos mengirimku ke sini untuk
membuka kantor cabang sekaligus mengawasi mutu percetakan dengan mesin-mesin
besar yang dibangun di kawasan khusus kota industry ini. Bosku itu orang baik.
Dan sebetulnya ia cukup ganteng. Tapi, yang lebih penting bagiku adalah dia
orang yang akrab dan setia kawan, bahkan pada anak buahnya. Ia tak pernah
memaksa. Seperti ketika ia hendak memindahkan aku ke kota ini. Ia Cuma berkata,
“Saya ada sedikit urusan pribadi di kota itu. Kota itu punya makna cukup
istimewa bagi saya. Kalau kamu mau jadi kepala cabang di sana, saya bakal
senang sekali. Saya akan sering ke sana.” Aku tak mampu menolaknya.
Dan di
sinilah aku terdampar sejak lima bulan lalu. Tak ada istimewa selain jalan yang
berdebu, truk-truk yang datang dan pergi dari kawasan industry menuju
pelabuhan. Angkot-angkot dan pasukan motor yang tak pernah mematuhi lampu
lalulintas. Tak ada yang istimewa, sampai kali aku mengantar kakakku dan anaknya yang, ah, tak kelihatan bagi semua
orang kecuali bagiku.
Awalnya, kupikir
aku kurang tidur dan jadi halusinasi. Jangan-jangan tembakau oplosan dari
temanku yang waktu itu kuhisap mengandung ganja sehingga aku melihat ada anak
kecil menarik-narik rok seorang ibu muda cantik. Tapi aku tetap melihat anak
itu lagi dalam pertemuan kedua kami di mal. Jadi, apa yang salah denganku? Ada
apa dengan kota ini? Apakah tempat yang kering ini membuatku jadi bisa melihat?
Hari ini bos
menugaskan aku untuk berjaga di percetakan. Ia punya pesanan brosur mobil yang
membutuhkan presisi warna. Kliennya tak mau ada pergeseran warna. Untuk itu aku
harus begadang di percetakan, mengecek dan member persetujuan setelan mesin
pencampur warna tiap kali lembaran akan naik cetak. Kata bos, hanya aku yang
mau dan bisa melakukan ini. Bahkan pegawai lelaki yang sudah berkeluarga tak
becus melakukan tugas ini. Aku selalu bilang padanya, siap Bos. Pesannya,
perhatikan warna merahnya. Harus merah darah. Tak boleh merah yang lain. Merah
darah yang segar. Tak boleh darah yang mongering kehitaman.
Di luar
matahari telah tenggelam. Di dalam bunyi mesin bergemuruh. Bau tinta dan minyak
pelumas tak lagibisa dideteksi satu jam orang berada di sana. Mataku memelototi
monitor dan lembaran contoh, sambil otakku mengulang-ulang pesan Bos: merah
darah yang segar, merah darah yang segar…
Jam
menunjukkan lewat pukul dua ketika aku merasa semua aman. Ketika itulah aku
baru merasa mataku kering dan penat. Layard an meja tampak agak cembung
sekarang. Dan jika aku berganti foukus pandangan, aku merasa buram sesaat
sebelum betul-betul bisa melihat. Pastilah mataku keletihan. Juga tubuhku.
Aku pergi ke
kamar kecil untuk hal yang telah sedari tadi kutahan, serta untuk menyegarkan
wajahku yang terasa melorot. Pabrik cetak ini hanya punya kamar kecil untuk
perempuan di lantai lobi. Hanya resepsionis dan tamu yang perempuan yang
biasanya ada di sini, dan mereka biasanya tidak sampai ke bagian mesin. Dan
biasanya mereka tak ada lagi setelah gelap. Hanya aku satu-satunya yang bukan
lelaki. Aku sebetulnya berpikir untuk menggunakan WC pria terdekat. Tapi,
belakangan ini orang-orang di kota ini makin konservatif, mereka selalu ingin
memisahkan wilayah pria dan wanita. Jadi, aku pergi ke toilet wanita di area
belakang lantai lobi yang telah senyap dan gelap.
Langkahku
bergaung di lorong. Seolah-olah ada yang mengikuti aku. Aku menoleh ke
belakang, tapi tentu saja tak ada siapa-siapa. Bosku kadang berkata: Kamu pasti
aman meskipun jalan sendirian. Tak ada yang berani memperkosamu. Kamu sangat
perkasa. Kupikir, ya, pada jam dua malam lewat, aku satu-satunya yang bukan
lelaki di bangunan industry ini. Tapi, tiba-tiba seperti ada yang menegur
pikiran itu dan berkata, tidak, aku bukan satu-satunya perempuan di sana.
Aku tertegun.
Ketika aku berada di dalam kabin toilet, aku merasa mendengar ada orang lain di
area wastafel. Seperti suara orang mengulung tisu. Ketika aku keluar tak
kulihat siapapun. Tapi gulungan tisu dekat cermin menyisakan sedikit gerakan.
Mungkin mataku yang masih kabur karena keletihan. Aku mengerjap-ngerjap,
membangunkan mataku yang lelah agar bisa melihat lebih jelas. Kunyalakan kran
untuk membasuh wajahku. Kulihat yang keluar dari sana adalah warna merah. Merah
darah yang segar…
Aku meloncat
mundur. Mataku melotot. Tapi kulihat yang mengalir itu memang warna merah.
Merah yang segar. Bukan merah yang menghitam. Aku mencoba membuat semua ini
masuk akal. Air tanah yang mengandung karat dan logam. Bukankah ini daerah
industry. Tapi, lalu kudengar suara bergesek dan aku menoleh: Samar-samar
kulihat gulungan tisu berputar ke bawah tanpa ada siapapun. Mataku yang letih
tak bisa beralih focus dengan cepat. Adam omen kabur sesaat. Dan ketika itulah
aku melihat dalam cermin seorang anak kecil. Si anak kecil. Ya, bocah kecil
berwajah sedih yang telah dua kali kulihat. Ia seperti tersesat. Ia seperti
minta tolong padaku.
Ketika mataku
mendapatkan ketajamannya kembali, aku tak melihat apa-apa lagi. Air dari kran
telah jernih, dan tak ada siapapun di sana kecuali aku. Kulihat tisu gulung itu
memang telah terjatuh.
***

kelinci99
ReplyDeleteTogel Online Terpercaya Dan Games Laiinnya Live Casino.
HOT PROMO NEW MEMBER FREECHIPS 5ribu !!
NEXT DEPOSIT 50ribu FREECHIPS 5RB !!
Ada Bagi2 Freechips Untuk New Member + Bonus Depositnya Loh ,
Yuk Daftarkan Sekarang Mumpung Ada Freechips Setiap Harinya
segera daftar dan bermain ya selain Togel ad juga Games Online Betting lain nya ,
yang bisa di mainkan dgn 1 userid saja .
yukk daftar di www.kelinci99.casino