Sunday, May 10, 2020

03. Rumah Aneh


03. Rumah  Aneh
Kembali aku hisap rokok yang berada ditengah-tengah jari tanganku. Menikmati sore hari dengan berbagai cerita dan karakter yang berbeda di kampung ini. Treet…treet. Suara viber Hp dari kantung celanaku membuyarkan isi otakku berceceran kemana-mana, perhatianku telah terpecah dan terbagi oleh getaran yang berasal dari kantung celanaku. Sebuah pesan masuk: Jemput gw di rumah Mbah.
Para prajurit telah pergi dari lapangan perang dan hanya tersisa dua orang ibu serta diriku dibarisan pinggir lapangan. Suasana kini mulai sepi. Aku dan si biru begerak meninggalkan  lapangan. Sejak kakakku bercerai dengan suaminya, aku tidak pernah mengetahui kegiatan apa saja yang telah ia lakukan.
Cukup jauh perjalananku yang ditemani debu jalan dan asap mengepul keluar dari setiap pengendara. Sehingga hinggap di mukaku tanpa lapisan penutup muka. Aneka ragam raut wajah terpancar dari setiap para pengendara motor dan sangat jauh berbeda dengan pengendara kaleng beroda empat yang ditemani mesin pendingin ruangan. Mataku liar menjalar kesana kemari memperhatikan sekitarku yang tampak kesal. Kendaraan yang ditumpangi sama sekali tak bergerak sedikitpun. Pedagang asongan pinggir jalan berpesta ria menjajakan barang yang mereka jual. Mereka menawarkan barang dagangan yang dijual dari kendaraan satu ke kendaraan lainnya. Bisingnya suara klakson yang bersahut-sahutan membuat akupun tak sabar untuk berlalu dari kepadatan jalan ini.
 Kakakku sangat mengenali pribadiku. Hingga kakakku memberi julukan namaku, seperti kakak perempuanku yang si jahil memberikan nama untukku si bolang (Bocah Petualang), sementara kakakku si pengaduan itu memberikan nama yang berbeda. Ia menyebutku DK (Duta Keliling) seorang yang sangat mengenal jalan. Aku memang sangat suka berkeliling dengan si biru kendaraanku dan membawaku berpetualang mencari objek untuk aku foto, serta menemaniku mendapatkan sebuah cerita-cerita kehidupan yang aku temui di jalan.
Kupalingkan wajah kearah angkutan umum yang tepat disisi kiriku, para penumpang angkutan umum tak terlihat resah. Mereka begitu menikmati jalan. Meskipun dibanjiri oleh keringat dan bising suara klakson dari setiap pengendara. Kembali lagi aku melanjutkan perjalanan dan meninggalkan keadaan yang telah memenjarakanku sesaat. Aku menghentikan kendaraan tepat di sebuah warung sederhana dan cukup ramai oleh para pengunjung yang ingin melepaskan dahaga kering dari kerongkongan.
“Pak es jeruknya satu, tolong dibungkus saja. Maaf pak alamat ini ada didekat mana, iya. Pak?” Sambil memesan es jeruk kepada sang pemilik warung, aku membacakan alamat yang ada di handphone selularku.
“Kamu lurus ikutin jalan ini saja. Tapi sampai pertigaan jalan, nanti kamu tanya lagi, iya.” Aku menganggukan kepala tanda mengerti penjelasan yang sudah aku rekam ke dalam otakku. Dengan sangat ramah beliau memberikan petunjuk alamat buta yang aku cari untuk mejemput si pengaduan itu. Namun sangat disayangkan aku sepertinya tersesat dengan petunjuk yang diberikan olehnya. Aku berputar-putar di tempat yang sama. Mungkin amnesiaku kambuh atau bisa saja sel-sel dalam memori otakku tidak sempat merekam petunjuk dari bapak warung tersebut. Setelah berpikir sejenak, aku meraih sebatang rokok dari bungkusnya lalu kuhisap sebagai tanda memulihkan otakku yang bodoh. Hanya satu dalam pemikiran bodohku. Aku harus segera tiba dan mejemput kakakku yang sedang berkunjung di rumah Mbah. Entah, Mbah itu siapa dan sedang apa ia lakukan di rumah itu. Aku tak ingin ia menunggu dan marah karena keterlambatanku menjemput dirinya. Aku tak tahu tujuannya apa. Ia selalu saja pergi ke rumah yang disebut Mbah. Sejak pisah dengan suaminya. Kegiatan yang ia lakukan tak kuketahui sama sekali, sampai sejauh ini aku harus menjemputnya. Kutelusuri jalan perkampungan yang tidak terlalu ramai oleh penduduk kampong sekitar. Tidak berapa jauh, aku melihat beberapa orang ibu yang sedang mengobrol di sebuah warung kecil dan memutuskan untuk kembali menanyakan alamat yang aku cari.
“Sore bu. Maaf saya menganggu. Saya mau tanya alamat ini di daerah mana, iya?” Aku mengeluarkan handphone selularku yang bersarang di kantung celana. Segera kubacakan alamat tersebut, ke salah satu ibu yang berada di saung. Aku tak ingin kesalahan yang baru saja terulang lagi.
“Ooh…rumah si Mbah. Kamu nanti belok kiri dari sini. Ngak jauh lagi kok. Rumahnya persis di ujung jalan.” Aku terkejut dengan penjelasan ibu tersebut. Nama si Mbah telah tersohor bagaikan artis oleh penduduk kampong yang tinggal disini. Aku hanya menganggukan kepala dan kembali merekam perkataan ibu barusan.
Perjalanan yang aneh dengan tanda-tanda aneh. Aneh yang aku maksud ketika aku menemukan uang, tak lama kemudian aku bertemu dengan warung. Kejadian pertama terulang. Nominal uang yang kutemukan di warung pertama cukup lumayan walau 20 ribu. Total uang yang aku temui 170 ribu di tiga lokasi. Tak ku hiraukan semua perkataan yang berasal dari dalam otakku. Aku kembali focus pada tujuanku menjemput kakakku. Akhirnya aku sampai juga di tempat Mbah, dimana kakakku sekarang berada. Aku menghampiri rumah tersebut. Penuh ruangan itu dengan ibu-ibu dan beberapa tamu lainnya. Seperti menunggu giliran untuk namanya dipanggil.  Aku. Tentu bukan namaku yang dipanggil, karena aku hanya menjemput kakakku yang sedang berkunjung ke rumah ini. Banyak sekali tamunya berdatangan. Bahkan kakakkupun adalah salah satu diantara mereka yang sering berkunjung. Bau wangi hio, dupa dan menyan. Aroma itu menyebar harum di sekitar ruangan, hingga sampai keluar rumah. Bau wangian yang sama pada saat aku tiba di rumah kakakku, dan aroma yang sama pula menyambutku. Asap rokok menggepul di setiap sudut ruang dari bibir para tamu. Ibu-ibu muda cantik dan para gadis muda cantik yang berada di dalam.
Aku memperhatikan satu persatu tamu dalam ruangan, mencari keberadaan kakakku dengan menelusuri wajah setiap para tamu. Hanya satu orang ibu seperti blasteran Indo mencuri pusat perhatianku. Ia membawa beberapa buah lembar poto di tangan dan seorang anak perempuan kecil berada didekatnya. Anak itu sesekali menatap ibu muda tersebut dan memperhatikan para tamu-tamu yang hadir dalam ruangan ini. Ia mendekap erat tangan ibu muda cantik yang sudah mencuri perhatianku. Anak kecil itu menjadikan dirinya objek utama yang membuatku terdiam mematung di pinggir pintu rumah. Memperhatikan semua yang hadir dalam kumpulan asap yang mereka hirup. Obrolan yang sangat serius dan tak dapatku mengerti. Aku tetap memperhatikan sambil mencari keberadaan kakakku, aku hanya bisa terdiam mematung memperhatikan.
Mataku semakin liar berkeliling memperhatikan wajah ibu-ibu cantik dan para gadis muda. Otakku langsung bekerja cepat memberi pertanyaan kepada diriku yang tidak dapat kujawab. Entah, itu poto siapa dan untuk apa. Siapakah anak itu sebenarnya? Pertanyaan itu terlintas begitu saja lewat dari pikiranku. Aku seperti orang bodoh yang memperhatikan dengan seribu tanya dalam otak. Tanpa mengerti dan mengetahui mereka sedang apa. Aku semakin bingung sebenarnya ini rumah siapa dan mengapa begitu ramai dengan para tamu-tamu cantik. Mereka semua tidak menghiraukan keberadaan anak perempuan kecil tersebut.
Anak  itu telah mencuri pusat perhatianku dalam ruangan ini. Wanita itu acuh tak acuh. Aneh. Kembali lagi kebodohan menduduki tahta dalam otakku dan merajainya dengan seribu pertanyaan. Tak ada reaksi sama sekali dari ibu itu. Seolah-olah ia tidak berada di dalam ruangan. Bodoh. Aku sungguh bodoh. Virus apa yang sudah merasuki jaringan urat sel dalam otakku. Sehingga aku berpikir sangat jauh tentang mereka. Pemikiran cerdasku membantah sangat kuat dari dalam. Masih dalam posisi yang sama aku memperhatikan mereka. Bagaikan patung penjaga rumah, aku berdiri dekat pintu. Bukan aku engan untuk masuk dan mencoba mencari kakakku secara dekat, tapi untuk apa aku hadir di tengah-tengah mereka. Jika aku ikut berada di dalam ruangan, akan membuat diriku semakin bodoh tanpa mengerti harus melakukan apa. Wangi itu sudah tidak asing buatku, karena sejak aku tinggal di rumah kakakku wangi itu telah menempel di rongga-rongga sel urat penciumanku setiap hari. Satu hari dalam 24jam, entah berapa banyak yang kakakku bakar untuk mewangikan seisi ruangan rumahnya. Tujuan kakakku membakar wangi-wangian tersebutpun aku tak tahu. Mungkin saja menurut pemikiran bodoh yang aku miliki, hanyalah sekedar mewangikan ruangan saja.
Dan segala macam aktifitas yang ia kerjakanpun aku tidak mengetahuinyai. Anak itu masih saja memegangi tangan ibu yang berada di dekatnya. Mata yang polos itu menghiasi wajah cantiknya dalam pandangan yang ingin diperhatikan dan diakui keberadaanya. Tak sedikitpun ibu muda cantik blasteran indo meresponi. Ia tersenyum manis ketika mata kami bertemu pandang. Aku membalas senyuman yang diberikan tanpa menghiraukan semua yang ada. Pikiranku melayang-layang tinggi dalam celah-celah asap dan aroma yang mewangikan ruangan. Membawa aku dalam seribu tanya yang tak terungkap. Sebuah misteri dan pertanyaan yang membelenggu otak cerdasku. Dalam ke bodohan yang telah menyeretku. Ibu muda itu sungguh tidak mengetahui ataukah memang ia tak menyadari keberadaan anak tersebut. Sehingga ia bersikap cuek terhadap anak yang berada disampingnya. Aku tambah terlihat bingung.
Ibu itu terlihat acuh dan asyik mengobrol dengan seorang gadis yang memegang sebuah cincin dan dihiasi batu. Mataku sibuk bergerak kesana kemari sambil mencari sosok tubuh yang kukenal. Otakku mulai menghantam pikiranku yang membuat urat-urat sel otakku menjadi kusut. Kakakku si pengaduan itu sedang berbuat apa di dalam sana. Pertanyaan-pertanyaan menjadi virus tersimpan dalam jaringan otak sarafku. Aku menggaruk-garukan kepala, berharap  virus itu keluar dari sel-sel saraf melalui pori-pori kulit ari di kepalaku. Gatal melanda kepalaku, seperti seekor kutu yang berjalan dan menghisap darah serta berpesta pora merayakan darahku yang terhisap. Binatang sekecil ini sungguh menyebalkan dan ia bersarang di atas kepalaku dan bersembunyi dibalik helai-helai rambut. Bodoh. Kenapa aku berpikiran sejauh itu memikirkan kegiatan kakakku sehari-hari seperti seekor kutu.
Akuakui. Dari sekian tamu yang hadir di dalam ruangan ini. Hanya ibu muda cantik tersebut yang menjadi pusat sasaran utama mataku. Pakaian yang sederhana dengan cincin emas, gelang tangan, serta kalung dengan kemilau liontin bergelantung di leher. Bola mataku tertuju pada sebuah benda yang ada didekat tasnya. Botol minuman yang ia bawa. Sungguh bukan wanita sembarangan, level kelas atas aku rasa. Ia menjaga sekali dan tidak sembarangan minum. Aku beralih ke tamu yang lain. Mereka semua memiliki minuman botol juga. Tapi bedanya tamu-tamu itu memesannya dari warung yang ada disekitar pemukiman. Aku saja tidak memiliki botol minuman yang seharusnya aku bawa menyertai perjalananku. Menurut ahli kesehatan jika banyak-banyak mengkomsumsi air mineral dapat membuat sel-sel jaringan darah kotor bergerak keluar melalui buang air kecil. Lebih sangat steril lagi jika kita membawa bekal makanan dari rumah. Bukan pelit ataupun tidak ingin mengeluarkan uang. Hanya makanan rumah lebih terjamin masakannya dan lebih higeinis dari jajanan di luar sana. Bukan aku beranggapan jajanan luar tidak terjamin atau higeinis. Pandanganku bubar seketika, ada seorang wanita muda cantik keluar dari dalam dan menyapa para tamu yang ada di dalam ruangan ini. Bag…bidadari turun dari kayangan membuat terpesona alam sekitar. Dan burungpun bernyanyi, serta awan berarak yang mengiringi desiran air mengalir. Begitu  sejuknya mata memandang alam keatas sampai bawah. Sangat sempurnanya Ia menciptakan keindahan ini. Terukir diraut wajah wanita muda yang baru saja keluar dari dalam.
“Eh…Bunda, sudah lama baru kelihatan. Kemana saja.” Pertanyaan itu ditujukan kepada seorang ibu blasteran Indo yang mencuri perhatianku dari seluruh tamu dalam ruangan ini. Suara itu memecahkan suasana.
“Iya, Mbah. Baru sempat.” Seorang wanita muda nan cantik menggelarkan nama dirinya Mbah. Argumen dialogpun terjadi diantara mereka, aku yang hanya berdiri di luar pintu memperhatikan suasana dalam ruangan. Wajar saja semua yang hadir para ibu-ibu muda dan gadis muda cantik-cantik yang berdatangan. Aku melihat diriku yang bodoh ini, jauh sekali dengan mereka.
Sedikit aku mulai mengikuti alur sebuah cerita yang sangat menarik. Aku semakin penasaran. Apakah mereka semua yang hadir disini mengetahui dan melihat keberadaan seorang anak di sekitar mereka. Silih berganti tamu hadir dan dilayani dengan baik serta senyum ramah menghiasi wajah si Mbah. Aku  semakin tampak sangat bodoh sekali dengan sebuah adegan cerita yang ada di dalam. Bagaimana caranya aku untuk mencari informasi lengkap mengenai sosok wanita cantik, yang mereka semua hadir memanggil dirinya Mbah. Sungguh bodohnya diriku. Dan menjadi sebuah PR besar untukku mencari tahu apa yang sudah si pengaduan itu kerjakan.
***

1 comment:

  1. kelinci99
    Togel Online Terpercaya Dan Games Laiinnya Live Casino.
    HOT PROMO NEW MEMBER FREECHIPS 5ribu !!
    NEXT DEPOSIT 50ribu FREECHIPS 5RB !!
    Ada Bagi2 Freechips Untuk New Member + Bonus Depositnya Loh ,
    Yuk Daftarkan Sekarang Mumpung Ada Freechips Setiap Harinya
    segera daftar dan bermain ya selain Togel ad juga Games Online Betting lain nya ,
    yang bisa di mainkan dgn 1 userid saja .
    yukk daftar di www.kelinci99.casino

    ReplyDelete