03. Rumah Aneh
Kembali aku hisap rokok yang berada
ditengah-tengah jari tanganku. Menikmati sore hari dengan berbagai cerita dan
karakter yang berbeda di kampung ini. Treet…treet. Suara viber Hp dari kantung
celanaku membuyarkan isi otakku berceceran kemana-mana, perhatianku telah
terpecah dan terbagi oleh getaran yang berasal dari kantung celanaku. Sebuah
pesan masuk: Jemput gw di rumah Mbah.
Para prajurit telah pergi dari lapangan
perang dan hanya tersisa dua orang ibu serta diriku dibarisan pinggir lapangan.
Suasana kini mulai sepi. Aku dan si biru begerak meninggalkan lapangan. Sejak kakakku bercerai dengan
suaminya, aku tidak pernah mengetahui kegiatan apa saja yang telah ia lakukan.
Cukup jauh perjalananku yang ditemani debu
jalan dan asap mengepul keluar dari setiap pengendara. Sehingga hinggap di mukaku
tanpa lapisan penutup muka. Aneka ragam raut wajah terpancar dari setiap para
pengendara motor dan sangat jauh berbeda dengan pengendara kaleng beroda empat
yang ditemani mesin pendingin ruangan. Mataku liar menjalar kesana kemari
memperhatikan sekitarku yang tampak kesal. Kendaraan yang ditumpangi sama
sekali tak bergerak sedikitpun. Pedagang asongan pinggir jalan berpesta ria
menjajakan barang yang mereka jual. Mereka menawarkan barang dagangan yang
dijual dari kendaraan satu ke kendaraan lainnya. Bisingnya suara klakson yang
bersahut-sahutan membuat akupun tak sabar untuk berlalu dari kepadatan jalan
ini.
Kakakku
sangat mengenali pribadiku. Hingga kakakku memberi julukan namaku, seperti
kakak perempuanku yang si jahil memberikan nama untukku si bolang (Bocah
Petualang), sementara kakakku si pengaduan itu memberikan nama yang berbeda. Ia
menyebutku DK (Duta Keliling) seorang yang sangat mengenal jalan. Aku memang
sangat suka berkeliling dengan si biru kendaraanku dan membawaku berpetualang
mencari objek untuk aku foto, serta menemaniku mendapatkan sebuah cerita-cerita
kehidupan yang aku temui di jalan.
Kupalingkan wajah kearah angkutan umum
yang tepat disisi kiriku, para penumpang angkutan umum tak terlihat resah. Mereka
begitu menikmati jalan. Meskipun dibanjiri oleh keringat dan bising suara
klakson dari setiap pengendara. Kembali lagi aku melanjutkan perjalanan dan meninggalkan
keadaan yang telah memenjarakanku sesaat. Aku menghentikan kendaraan tepat di sebuah
warung sederhana dan cukup ramai oleh para pengunjung yang ingin melepaskan
dahaga kering dari kerongkongan.
“Pak
es jeruknya satu, tolong dibungkus saja. Maaf pak alamat ini ada didekat mana,
iya. Pak?” Sambil memesan es jeruk kepada sang pemilik warung, aku membacakan
alamat yang ada di handphone selularku.
“Kamu
lurus ikutin jalan ini saja. Tapi sampai pertigaan jalan, nanti kamu tanya
lagi, iya.” Aku menganggukan kepala tanda mengerti penjelasan yang sudah aku
rekam ke dalam otakku. Dengan sangat ramah beliau memberikan petunjuk alamat
buta yang aku cari untuk mejemput si pengaduan itu. Namun sangat disayangkan
aku sepertinya tersesat dengan petunjuk yang diberikan olehnya. Aku
berputar-putar di tempat yang sama. Mungkin amnesiaku kambuh atau bisa saja
sel-sel dalam memori otakku tidak sempat merekam petunjuk dari bapak warung
tersebut. Setelah berpikir sejenak, aku meraih sebatang rokok dari bungkusnya
lalu kuhisap sebagai tanda memulihkan otakku yang bodoh. Hanya satu dalam
pemikiran bodohku. Aku harus segera tiba dan mejemput kakakku yang sedang
berkunjung di rumah Mbah. Entah, Mbah itu siapa dan sedang apa ia lakukan di
rumah itu. Aku tak ingin ia menunggu dan marah karena keterlambatanku menjemput
dirinya. Aku tak tahu tujuannya apa. Ia selalu saja pergi ke rumah yang disebut
Mbah. Sejak pisah dengan suaminya. Kegiatan yang ia lakukan tak kuketahui sama
sekali, sampai sejauh ini aku harus menjemputnya. Kutelusuri jalan perkampungan
yang tidak terlalu ramai oleh penduduk kampong sekitar. Tidak berapa jauh, aku
melihat beberapa orang ibu yang sedang mengobrol di sebuah warung kecil dan
memutuskan untuk kembali menanyakan alamat yang aku cari.
“Sore
bu. Maaf saya menganggu. Saya mau tanya alamat ini di daerah mana, iya?” Aku
mengeluarkan handphone selularku yang bersarang di kantung celana. Segera
kubacakan alamat tersebut, ke salah satu ibu yang berada di saung. Aku tak
ingin kesalahan yang baru saja terulang lagi.
“Ooh…rumah
si Mbah. Kamu nanti belok kiri dari sini. Ngak jauh lagi kok. Rumahnya persis
di ujung jalan.” Aku terkejut dengan penjelasan ibu tersebut. Nama si Mbah
telah tersohor bagaikan artis oleh penduduk kampong yang tinggal disini. Aku
hanya menganggukan kepala dan kembali merekam perkataan ibu barusan.
Perjalanan
yang aneh dengan tanda-tanda aneh. Aneh yang aku maksud ketika aku menemukan
uang, tak lama kemudian aku bertemu dengan warung. Kejadian pertama terulang.
Nominal uang yang kutemukan di warung pertama cukup lumayan walau 20 ribu.
Total uang yang aku temui 170 ribu di tiga lokasi. Tak ku hiraukan semua
perkataan yang berasal dari dalam otakku. Aku kembali focus pada tujuanku menjemput
kakakku. Akhirnya aku sampai juga di tempat Mbah, dimana kakakku sekarang
berada. Aku menghampiri rumah tersebut. Penuh ruangan itu dengan ibu-ibu dan
beberapa tamu lainnya. Seperti menunggu giliran untuk namanya dipanggil. Aku. Tentu bukan namaku yang dipanggil,
karena aku hanya menjemput kakakku yang sedang berkunjung ke rumah ini. Banyak
sekali tamunya berdatangan. Bahkan kakakkupun adalah salah satu diantara mereka
yang sering berkunjung. Bau wangi hio, dupa dan menyan. Aroma itu menyebar
harum di sekitar ruangan, hingga sampai keluar rumah. Bau wangian yang sama
pada saat aku tiba di rumah kakakku, dan aroma yang sama pula menyambutku. Asap
rokok menggepul di setiap sudut ruang dari bibir para tamu. Ibu-ibu muda cantik
dan para gadis muda cantik yang berada di dalam.
Aku
memperhatikan satu persatu tamu dalam ruangan, mencari keberadaan kakakku
dengan menelusuri wajah setiap para tamu. Hanya satu orang ibu seperti
blasteran Indo mencuri pusat perhatianku. Ia membawa beberapa buah lembar poto
di tangan dan seorang anak perempuan kecil berada didekatnya. Anak itu sesekali
menatap ibu muda tersebut dan memperhatikan para tamu-tamu yang hadir dalam
ruangan ini. Ia mendekap erat tangan ibu muda cantik yang sudah mencuri
perhatianku. Anak kecil itu menjadikan dirinya objek utama yang membuatku
terdiam mematung di pinggir pintu rumah. Memperhatikan semua yang hadir dalam
kumpulan asap yang mereka hirup. Obrolan yang sangat serius dan tak dapatku
mengerti. Aku tetap memperhatikan sambil mencari keberadaan kakakku, aku hanya
bisa terdiam mematung memperhatikan.
Mataku
semakin liar berkeliling memperhatikan wajah ibu-ibu cantik dan para gadis muda.
Otakku langsung bekerja cepat memberi pertanyaan kepada diriku yang tidak dapat
kujawab. Entah, itu poto siapa dan untuk apa. Siapakah anak itu sebenarnya?
Pertanyaan itu terlintas begitu saja lewat dari pikiranku. Aku seperti orang
bodoh yang memperhatikan dengan seribu tanya dalam otak. Tanpa mengerti dan
mengetahui mereka sedang apa. Aku semakin bingung sebenarnya ini rumah
siapa dan mengapa begitu ramai dengan para tamu-tamu cantik. Mereka semua tidak
menghiraukan keberadaan anak perempuan kecil tersebut.
Anak itu telah mencuri pusat perhatianku dalam
ruangan ini. Wanita itu acuh tak acuh. Aneh. Kembali
lagi kebodohan menduduki tahta dalam otakku dan merajainya dengan seribu
pertanyaan. Tak ada reaksi sama sekali dari ibu itu. Seolah-olah ia tidak
berada di dalam ruangan. Bodoh. Aku sungguh bodoh. Virus apa yang sudah
merasuki jaringan urat sel dalam otakku. Sehingga aku berpikir sangat jauh
tentang mereka. Pemikiran cerdasku membantah sangat kuat dari dalam. Masih
dalam posisi yang sama aku memperhatikan mereka. Bagaikan patung penjaga rumah,
aku berdiri dekat pintu. Bukan aku engan untuk masuk dan mencoba mencari
kakakku secara dekat, tapi untuk apa aku hadir di tengah-tengah mereka. Jika
aku ikut berada di dalam ruangan, akan membuat diriku semakin bodoh tanpa
mengerti harus melakukan apa. Wangi itu sudah tidak asing buatku, karena
sejak aku tinggal di rumah kakakku wangi itu telah menempel di rongga-rongga
sel urat penciumanku setiap hari. Satu hari dalam 24jam, entah berapa banyak
yang kakakku bakar untuk mewangikan seisi ruangan rumahnya. Tujuan kakakku membakar wangi-wangian tersebutpun aku tak tahu.
Mungkin saja menurut pemikiran bodoh yang aku miliki, hanyalah sekedar
mewangikan ruangan saja.
Dan
segala macam aktifitas yang ia kerjakanpun aku tidak mengetahuinyai. Anak itu
masih saja memegangi tangan ibu yang berada di dekatnya. Mata yang polos itu menghiasi wajah cantiknya dalam pandangan yang
ingin diperhatikan dan diakui keberadaanya. Tak sedikitpun ibu muda cantik
blasteran indo meresponi. Ia tersenyum manis ketika mata kami bertemu pandang.
Aku membalas senyuman yang diberikan tanpa
menghiraukan semua yang ada. Pikiranku melayang-layang tinggi dalam celah-celah
asap dan aroma yang mewangikan ruangan. Membawa aku dalam seribu tanya yang tak
terungkap. Sebuah misteri dan pertanyaan yang membelenggu otak cerdasku. Dalam
ke bodohan yang telah menyeretku. Ibu muda itu
sungguh tidak mengetahui ataukah memang ia tak menyadari keberadaan anak
tersebut. Sehingga ia bersikap cuek terhadap anak yang berada disampingnya. Aku tambah terlihat bingung.
Ibu
itu terlihat acuh dan asyik mengobrol dengan seorang gadis yang memegang sebuah
cincin dan dihiasi batu. Mataku sibuk bergerak kesana kemari sambil
mencari sosok tubuh yang kukenal. Otakku mulai menghantam pikiranku yang
membuat urat-urat sel otakku menjadi kusut. Kakakku si pengaduan itu sedang
berbuat apa di dalam sana. Pertanyaan-pertanyaan menjadi virus tersimpan dalam
jaringan otak sarafku. Aku menggaruk-garukan kepala, berharap virus itu keluar dari sel-sel saraf melalui
pori-pori kulit ari di kepalaku. Gatal melanda kepalaku, seperti seekor kutu
yang berjalan dan menghisap darah serta berpesta pora merayakan darahku yang
terhisap. Binatang sekecil ini sungguh menyebalkan dan ia bersarang di atas
kepalaku dan bersembunyi dibalik helai-helai rambut. Bodoh. Kenapa aku berpikiran sejauh itu memikirkan kegiatan kakakku
sehari-hari seperti seekor kutu.
Akuakui. Dari sekian tamu yang hadir di dalam ruangan ini. Hanya ibu muda
cantik tersebut yang menjadi pusat sasaran utama mataku. Pakaian yang sederhana
dengan cincin emas, gelang tangan, serta kalung dengan kemilau liontin
bergelantung di leher. Bola mataku tertuju pada sebuah benda yang ada didekat
tasnya. Botol minuman yang ia bawa. Sungguh bukan
wanita sembarangan, level kelas atas aku rasa. Ia menjaga sekali dan tidak
sembarangan minum. Aku beralih ke tamu yang lain. Mereka
semua memiliki minuman botol juga. Tapi bedanya tamu-tamu itu memesannya dari
warung yang ada disekitar pemukiman. Aku saja tidak
memiliki botol minuman yang seharusnya aku bawa menyertai perjalananku. Menurut
ahli kesehatan jika banyak-banyak mengkomsumsi air mineral dapat membuat
sel-sel jaringan darah kotor bergerak keluar melalui buang air kecil. Lebih sangat steril lagi jika kita membawa bekal makanan dari
rumah. Bukan pelit ataupun tidak ingin mengeluarkan uang. Hanya makanan rumah
lebih terjamin masakannya dan lebih higeinis dari jajanan di luar sana. Bukan aku beranggapan jajanan luar tidak terjamin atau higeinis.
Pandanganku bubar seketika, ada seorang wanita muda cantik keluar dari dalam
dan menyapa para tamu yang ada di dalam ruangan ini. Bag…bidadari turun dari kayangan membuat terpesona alam sekitar. Dan
burungpun bernyanyi, serta awan berarak yang mengiringi desiran air mengalir. Begitu sejuknya mata memandang alam keatas sampai
bawah. Sangat sempurnanya Ia menciptakan keindahan ini. Terukir diraut wajah
wanita muda yang baru saja keluar dari dalam.
“Eh…Bunda,
sudah lama baru kelihatan. Kemana saja.” Pertanyaan itu ditujukan kepada
seorang ibu blasteran Indo yang mencuri perhatianku dari seluruh tamu dalam
ruangan ini. Suara itu memecahkan suasana.
“Iya,
Mbah. Baru sempat.” Seorang wanita muda nan cantik menggelarkan nama dirinya
Mbah. Argumen dialogpun terjadi diantara mereka, aku yang hanya berdiri di luar
pintu memperhatikan suasana dalam ruangan. Wajar saja semua yang hadir para
ibu-ibu muda dan gadis muda cantik-cantik yang berdatangan. Aku melihat diriku
yang bodoh ini, jauh sekali dengan mereka.
Sedikit
aku mulai mengikuti alur sebuah cerita yang sangat menarik. Aku semakin
penasaran. Apakah mereka semua yang hadir disini mengetahui dan melihat
keberadaan seorang anak di sekitar mereka. Silih berganti tamu hadir dan
dilayani dengan baik serta senyum ramah menghiasi wajah si Mbah. Aku semakin tampak sangat bodoh sekali dengan
sebuah adegan cerita yang ada di dalam. Bagaimana caranya aku untuk mencari
informasi lengkap mengenai sosok wanita cantik, yang mereka semua hadir
memanggil dirinya Mbah. Sungguh bodohnya diriku. Dan menjadi sebuah PR besar
untukku mencari tahu apa yang sudah si pengaduan itu kerjakan.
***

kelinci99
ReplyDeleteTogel Online Terpercaya Dan Games Laiinnya Live Casino.
HOT PROMO NEW MEMBER FREECHIPS 5ribu !!
NEXT DEPOSIT 50ribu FREECHIPS 5RB !!
Ada Bagi2 Freechips Untuk New Member + Bonus Depositnya Loh ,
Yuk Daftarkan Sekarang Mumpung Ada Freechips Setiap Harinya
segera daftar dan bermain ya selain Togel ad juga Games Online Betting lain nya ,
yang bisa di mainkan dgn 1 userid saja .
yukk daftar di www.kelinci99.casino