05.Anak Perempuan Kecil
Tak berapa lama kemudian, kakakku keluar
dari rumah tersebut. Cukup lumayan lama aku menunggunya di luar. Ia berjalan
menghampiri dan ditemani seorang ibu blasteran Indo yang telah mencuri
perhatianku. Aku beranjak dari tempat dudukku yang sempat memanjakan beberapa
saat. Anak perempuan kecil itu bersembunyi dibalik rok ibu muda cantik teman
kakakku. Aku hanya menjalankan tugas untuk menjemput dirinya. Layaknya seorang tukang ojek yang menunggu langganan yang sudah
dipesan untuk menjemput. Memang kakakku tidaklah terlalu sering datang ke rumah
tersebut. Terkadang ia mengantarkan makanan, minuman, kembang tujuh rupa bahkan
ayam hitam yang hidup. Seperti pesan delevry ia mengantarkan semua permintaan
yang diperintahkan oleh si Mbah. Korek apiku terjatuh seperti ada seseorang
menyenggol tanganku. Hingga jatuh tepat di bawah kaki ibu muda tersebut.
“Kenalin
ini adik aku.”
Kakakku
memperkenalkan diriku dengan seorang ibu muda cantik yang telah mencuri
perhatianku. Kesadaran diri tak tampak dari kakakku dan ibu muda cantik itu. Sambil
mengeluarkan botol minuman yang aromanya tak sedap. Aku tidak menyangka bahwa
botol minuman itu bukanlah air mineral. Iya. Itu minuman keras yang dapat membuat
kepala menjadi oleng, seperti sesorang yang berada di dalam kapal. Dihempaskan
ombak hingga bergoyang ke kanan maupun ke kiri. Bau yang tak asing kuhirup.
Jujur akupun terkadang melakukan hal demikian bersama teman-teman. Kami merayakan
kemenangan telah menyelesaikan pekerjaan
dengan baik.
“Ain.”
Saat
tanganku meraih uluran tangan yang begitu lembut dari ibu muda cantik ini. Jauh
berbeda dengan tanganku yang kasar seperti buruh panggul berada di pasar. Aku
hanya membuat barisan senyum tanpa menyebutkan nama. Siapakah anak perempuan
kecil dan ada hubungan apa antara ibu muda cantik dan anak ini yang mengikutinya.
Pertanyaan-pertanyaan itu. Begitu cepat merasuk dalam otakku.
“Kalau kalian sudah besar nanti. Apa yang akan
kalian beri untuk mama?” Dengan senyum manis mama ucapkan pertanyaan itu pada
kami.
“Abang
akan beliin mama rumah besar. Supaya kita tidak dimarahin terus. Karena telat
bayar sewa rumah.”
“Kalau
aku mau beliin mama mobil. Biar kita bisa jalan-jalan.”
“Aku
mau kasih mama uang yang banyak. Supaya mama masakin kami makanan yang enak.”
“Tinggal
Ney yang belum memberi sama mama.” Aku tak dapat menjawab pertanyaan itu. Apa
yang harus kuberikan pada peri penyelamat kami. Hubungan kami sangat penuh
dengan kebahagian. Ketika papa tidak ada di rumah.
“Aku
mau kasih mama anjing. Biar mama ada yang jaga. Kalau tiba-tiba papa datang,
kami semua ngak ada. Anjing itu yang gigit papa.” Riuh serta gaduh suasana
terjadi.
Aku
benci papa. Kebencianku terhadap papa tak dapat terhapuskan. Peristiwa itu selalu
menari-nari bebas di mataku. Dan tak dapat kumelupakan semuanya. Mama bagiku
adalah seorang peri yang dikirim Tuhan, untuk melindungi keberadaanku berserta
ketiga kakakku. Mama tidak pernah melawan pada saat kepalan tangan begitu cepat
meluncur ke raut wajahnya. Kami berempat tak dapat berbuat apa-apa, melihat
mama diperlakukan seperti itu. Ya, karena kami masih dibawah umur. Kami
hanyalah sebagai penonton. Bagaikan dilayar kotak kaca dengan sebuah adegan
drama yang menyayat hati. Masih teringat dimataku hingga kini adegan itu selalu
berkeliaran dengan bebasnya. Didalam sebuah penglihatanku yang paling terdalam.
Meskipun kami tidak mendapat sebongkah receh yang bisa kami tukar dengan
kemewahan. Dan tinggal dalam gedung mewah untuk menjauhkan kami dari kelaparan
dan panasnya terik matahari yang menyengat. Kami bertiga selepas pulang sekolah
berkeliaran menjajahkan jajanan yang dibuat sendiri oleh mama. Bahkan terkadang
kami mejajakan buah-buahan dan menawarkan kepada setiap penumpang bus yang
sedang menunggu di halte.
Hingga
pada suatu malam sesuatu terjadi menimpa diriku. ketika kami ingin pulang
kerumah. Aku mengalami sebuah kecelakaan, pada saat aku dan abang serta kakakku
si pengaduan itu. Menyebrangi jalan raya besar yang ada di pusat kota. Mobil menyeretku
sepanjang lima meter dalam kolong mulut mobil. Membawa aku menjauh dan terpisah
dari kedua kakakku. Sang Pencipta yang mendesign hidupku dengan indah, masih
mengizinkan aku untuk menikmati hidup. Walau tak seindah yang aku jalani. Tapi
keindahan itu aku dapati ketika melihat mamaku tersenyum menyayangi kami. Aku
selamat dari kecelakaan extreme yang menimpa diriku. Mama panic. Kami belum
tiba juga di rumah. Mama dan kakakku si jail berusaha mencari keberadaan kami
ditengah malam. Saat kerisauan hati seorang ibu yang memikirkan keadaan anaknya
berada. Tiba-tiba seorang pemuda mabuk menghampiri mama dalam kebingungannya.
“Maaf
bu. Ibu kenal dengan mamanya Ney?” Ia bertanya pada mamaku. Meskipun pemuda itu
dalam keadaan mabuk. Ia menyampaikan pesan dan hampir saja membuat mama jatuh
pingsan. Mama dan kakakku si jail menyusul papa ke rumah wanita simpanannya.
Mama memberitahukan papa, bahwa aku mengalami kecelakaan dan berada di rumah
sakit. Papa, mama dan kakakku si jail segera meluncur untuk menemui kami
bertiga ke rumah sakit. Kebiasaan buruk papa masih saja melekat dalam dirinya.
Tukang taxi yang membawa aku dan kedua kakakku. Habis kena cacian dan makian
oleh papa. Bahkan dokter serta susterpun kena peluru sasaran kemarahan papa. Ia
tidak pernah sedikitpun menyelesaikan masalah dengan baik. Cacian, makian,
hantaman yang bisa dilakukan. Semakin teramat dalam kebencianku terhadapnya. Ia
tak pantas dan layak dipanggil papa ataupun menjadi orangtua.
Ingatan
itu tak lepas dari pelupuk mataku dan membentuk aku dalam sebuah kepribadian
yang berbeda dari ketiga kakakku. Pribadi yang terbentuk itu hadir sendiri,
pada saat papa mengusir diriku keluar dari rumah. Dan mengucapkan kata yang
tidak pantas didengar. Serta mengoreskan luka yang dalam dihatiku dan membunuh
karakter yang aku miliki.
“Pergi
saja kau dari rumah ini. Aku tidak perduli, kau mau jadi perempuan apa diluar
sana.” Dengan intonasi suara yang tinggi papa meneriaki dan mengusirku dari
rumah. Masih tergiang keras suara itu
ditelingaku, hingga saat ini.
“Jangan
pergi nak. Papamu hanya marah saja.” Pukulan keras menimpa mama. Mama yang mencegahku pergi kena sasaran tinju
di wajahnya. Aku marah saat papa memukul mama. Aku sudah bukan bocah kecil lagi
yang tak dapat memabalas amarah tersebut. Aku memutuskan pergi dari rumah. Dalam
kebodohanku. Membawa luka yang telah papa goreskan padaku. Hubungan antara papa
dan diriku rusak. Papa tidak pernah menyadari balok yang ada dimatanya dan papa
tidak melihatnya dengan jelas untuk mengeluarkan kata-kata itu, kepadaku anak
perempuan yang paling kecil di dalam keluarga. Trauma yang membawa diriku,
tidak dapat bergerak bebas dan penuh ketakutan. Seperti hantu mengikuti langkah-langkahku.
***

kelinci99
ReplyDeleteTogel Online Terpercaya Dan Games Laiinnya Live Casino.
HOT PROMO NEW MEMBER FREECHIPS 5ribu !!
NEXT DEPOSIT 50ribu FREECHIPS 5RB !!
Ada Bagi2 Freechips Untuk New Member + Bonus Depositnya Loh ,
Yuk Daftarkan Sekarang Mumpung Ada Freechips Setiap Harinya
segera daftar dan bermain ya selain Togel ad juga Games Online Betting lain nya ,
yang bisa di mainkan dgn 1 userid saja .
yukk daftar di www.kelinci99.casino