Thursday, May 14, 2020

Anak Perempuan Kecil


05.Anak Perempuan Kecil
Tak berapa lama kemudian, kakakku keluar dari rumah tersebut. Cukup lumayan lama aku menunggunya di luar. Ia berjalan menghampiri dan ditemani seorang ibu blasteran Indo yang telah mencuri perhatianku. Aku beranjak dari tempat dudukku yang sempat memanjakan beberapa saat. Anak perempuan kecil itu bersembunyi dibalik rok ibu muda cantik teman kakakku. Aku hanya menjalankan tugas untuk menjemput dirinya. Layaknya seorang tukang ojek yang menunggu langganan yang sudah dipesan untuk menjemput. Memang kakakku tidaklah terlalu sering datang ke rumah tersebut. Terkadang ia mengantarkan makanan, minuman, kembang tujuh rupa bahkan ayam hitam yang hidup. Seperti pesan delevry ia mengantarkan semua permintaan yang diperintahkan oleh si Mbah. Korek apiku terjatuh seperti ada seseorang menyenggol tanganku. Hingga jatuh tepat di bawah kaki ibu muda tersebut.
“Kenalin ini adik aku.”
Kakakku memperkenalkan diriku dengan seorang ibu muda cantik yang telah mencuri perhatianku. Kesadaran diri tak tampak dari kakakku dan ibu muda cantik itu. Sambil mengeluarkan botol minuman yang aromanya tak sedap. Aku tidak menyangka bahwa botol minuman itu bukanlah air mineral. Iya. Itu minuman keras yang dapat membuat kepala menjadi oleng, seperti sesorang yang berada di dalam kapal. Dihempaskan ombak hingga bergoyang ke kanan maupun ke kiri. Bau yang tak asing kuhirup. Jujur akupun terkadang melakukan hal demikian bersama teman-teman. Kami merayakan kemenangan  telah menyelesaikan pekerjaan dengan baik.
“Ain.”
Saat tanganku meraih uluran tangan yang begitu lembut dari ibu muda cantik ini. Jauh berbeda dengan tanganku yang kasar seperti buruh panggul berada di pasar. Aku hanya membuat barisan senyum tanpa menyebutkan nama. Siapakah anak perempuan kecil dan ada hubungan apa antara ibu muda cantik  dan anak ini yang mengikutinya. Pertanyaan-pertanyaan itu. Begitu cepat merasuk dalam otakku.
 “Kalau kalian sudah besar nanti. Apa yang akan kalian beri untuk mama?” Dengan senyum manis mama ucapkan pertanyaan itu pada kami.
“Abang akan beliin mama rumah besar. Supaya kita tidak dimarahin terus. Karena telat bayar sewa rumah.”
“Kalau aku mau beliin mama mobil. Biar kita bisa jalan-jalan.”
“Aku mau kasih mama uang yang banyak. Supaya mama masakin kami makanan yang enak.”
“Tinggal Ney yang belum memberi sama mama.” Aku tak dapat menjawab pertanyaan itu. Apa yang harus kuberikan pada peri penyelamat kami. Hubungan kami sangat penuh dengan kebahagian. Ketika papa tidak ada di rumah.
“Aku mau kasih mama anjing. Biar mama ada yang jaga. Kalau tiba-tiba papa datang, kami semua ngak ada. Anjing itu yang gigit papa.” Riuh serta gaduh suasana terjadi.
Aku benci papa. Kebencianku terhadap papa tak dapat terhapuskan. Peristiwa itu selalu menari-nari bebas di mataku. Dan tak dapat kumelupakan semuanya. Mama bagiku adalah seorang peri yang dikirim Tuhan, untuk melindungi keberadaanku berserta ketiga kakakku. Mama tidak pernah melawan pada saat kepalan tangan begitu cepat meluncur ke raut wajahnya. Kami berempat tak dapat berbuat apa-apa, melihat mama diperlakukan seperti itu. Ya, karena kami masih dibawah umur. Kami hanyalah sebagai penonton. Bagaikan dilayar kotak kaca dengan sebuah adegan drama yang menyayat hati. Masih teringat dimataku hingga kini adegan itu selalu berkeliaran dengan bebasnya. Didalam sebuah penglihatanku yang paling terdalam. Meskipun kami tidak mendapat sebongkah receh yang bisa kami tukar dengan kemewahan. Dan tinggal dalam gedung mewah untuk menjauhkan kami dari kelaparan dan panasnya terik matahari yang menyengat. Kami bertiga selepas pulang sekolah berkeliaran menjajahkan jajanan yang dibuat sendiri oleh mama. Bahkan terkadang kami mejajakan buah-buahan dan menawarkan kepada setiap penumpang bus yang sedang menunggu di halte.
Hingga pada suatu malam sesuatu terjadi menimpa diriku. ketika kami ingin pulang kerumah. Aku mengalami sebuah kecelakaan, pada saat aku dan abang serta kakakku si pengaduan itu. Menyebrangi jalan raya besar yang ada di pusat kota. Mobil menyeretku sepanjang lima meter dalam kolong mulut mobil. Membawa aku menjauh dan terpisah dari kedua kakakku. Sang Pencipta yang mendesign hidupku dengan indah, masih mengizinkan aku untuk menikmati hidup. Walau tak seindah yang aku jalani. Tapi keindahan itu aku dapati ketika melihat mamaku tersenyum menyayangi kami. Aku selamat dari kecelakaan extreme yang menimpa diriku. Mama panic. Kami belum tiba juga di rumah. Mama dan kakakku si jail berusaha mencari keberadaan kami ditengah malam. Saat kerisauan hati seorang ibu yang memikirkan keadaan anaknya berada. Tiba-tiba seorang pemuda mabuk menghampiri mama dalam kebingungannya.
“Maaf bu. Ibu kenal dengan mamanya Ney?” Ia bertanya pada mamaku. Meskipun pemuda itu dalam keadaan mabuk. Ia menyampaikan pesan dan hampir saja membuat mama jatuh pingsan. Mama dan kakakku si jail menyusul papa ke rumah wanita simpanannya. Mama memberitahukan papa, bahwa aku mengalami kecelakaan dan berada di rumah sakit. Papa, mama dan kakakku si jail segera meluncur untuk menemui kami bertiga ke rumah sakit. Kebiasaan buruk papa masih saja melekat dalam dirinya. Tukang taxi yang membawa aku dan kedua kakakku. Habis kena cacian dan makian oleh papa. Bahkan dokter serta susterpun kena peluru sasaran kemarahan papa. Ia tidak pernah sedikitpun menyelesaikan masalah dengan baik. Cacian, makian, hantaman yang bisa dilakukan. Semakin teramat dalam kebencianku terhadapnya. Ia tak pantas dan layak dipanggil papa ataupun menjadi orangtua.
Ingatan itu tak lepas dari pelupuk mataku dan membentuk aku dalam sebuah kepribadian yang berbeda dari ketiga kakakku. Pribadi yang terbentuk itu hadir sendiri, pada saat papa mengusir diriku keluar dari rumah. Dan mengucapkan kata yang tidak pantas didengar. Serta mengoreskan luka yang dalam dihatiku dan membunuh karakter yang aku miliki.
“Pergi saja kau dari rumah ini. Aku tidak perduli, kau mau jadi perempuan apa diluar sana.” Dengan intonasi suara yang tinggi papa meneriaki dan mengusirku dari rumah.  Masih tergiang keras suara itu ditelingaku, hingga saat ini.
“Jangan pergi nak. Papamu hanya marah saja.” Pukulan keras menimpa mama.  Mama yang mencegahku pergi kena sasaran tinju di wajahnya. Aku marah saat papa memukul mama. Aku sudah bukan bocah kecil lagi yang tak dapat memabalas amarah tersebut. Aku memutuskan pergi dari rumah. Dalam kebodohanku. Membawa luka yang telah papa goreskan padaku. Hubungan antara papa dan diriku rusak. Papa tidak pernah menyadari balok yang ada dimatanya dan papa tidak melihatnya dengan jelas untuk mengeluarkan kata-kata itu, kepadaku anak perempuan yang paling kecil di dalam keluarga. Trauma yang membawa diriku, tidak dapat bergerak bebas dan penuh ketakutan. Seperti hantu mengikuti langkah-langkahku.
***

1 comment:

  1. kelinci99
    Togel Online Terpercaya Dan Games Laiinnya Live Casino.
    HOT PROMO NEW MEMBER FREECHIPS 5ribu !!
    NEXT DEPOSIT 50ribu FREECHIPS 5RB !!
    Ada Bagi2 Freechips Untuk New Member + Bonus Depositnya Loh ,
    Yuk Daftarkan Sekarang Mumpung Ada Freechips Setiap Harinya
    segera daftar dan bermain ya selain Togel ad juga Games Online Betting lain nya ,
    yang bisa di mainkan dgn 1 userid saja .
    yukk daftar di www.kelinci99.casino

    ReplyDelete