08. Kesadaranku
Rumah kakakku itu seringkali ramai oleh
ibu-ibu muda nan cantik-cantik. Salah satunya adalah ibu blasteran indo, yang
aku beri gelar dengan nama panggilan mamuca. Terkadang aku menjadi risih dengan
mereka. Mereka semua adalah tamu-tamu Mbah. Dan persinggahan terakhir mereka
adalah rumah kakakku. Entah, apa yang mereka obrolkan. Mungkin saja praduga
bodohku saling berbagi cerita satu sama lain.
“Aku lagi kesel nih bunda.” Salah satu
teman kakakku memulai sebuah obrolan.
“Kenapa lagi memangnya.” Kakakku menyambut
perkataan temannya.
“Itu bapaknya anak-anak. Mulai gila lagi.
Aku ngak dikasih jatah belanja.” Sambil menekuk mukanya. Seperti kardus yang
dilipat dan siap untuk dikilo dan dijual. Tetap saja pandangan mataku tak lepas
memandang wajah cantik ibu muda blasteran indo tersebut. Kali ini ada yang
berbeda dari dirinya. Iya. Dimana anak perempuan kecil itu? Aku tidak
melihatnya. Ruangan ini pecah oleh gelak tawa mereka. Seperti berada di
tengah-tengah penonton yang sedang menyaksikan acara komedi. Kakakku dan
teman-temannya sibuk dengan perbincangan mereka. Mungkin alangkah lebih bagus.
Aku memberi judul acara untuk mereka “Curhatan Hati Para Istri”. Aku tertawa
dan senyum-senyum sendiri. Sepertinya layak judul yang otakku berikan untuk
mereka. Kutinggalkan ia yang sibuk dengan obrolan para istri. Kulangkahkan
kakiku yang rapuh. Menuju pembaringan manja dengan bantal guling yang kesepian.
Merindukan diriku untuk memeluknya. Hal yang terindah bagiku adalah bersembunyi
dibalik selimut. Melepas bebaskan diri dari seluruh tugas yang melelahkan.
Mumpung si pengaduan itu dikunjungi oleh teman-temannya.
Malam
udara begitu dingin. Derasnya air hujan membuat basah seluruh permukaan bumi,
enggan rasanya aku keluar dari balik selimut yang telah menghangatkanku. Aku
sangat senang dan menikmati udara seperti ini dengan bergelut dalam kemalasan
yang membuat diriku engan untuk beranjak. Suara petir bersahut-sahutan bagaikan
irama music yang mengalun keras, ditemani sang hujan yang berjatuhan ke atap.
Alunan lagu yang berasal dari komputerkupun tak mau kalah dengan kebisingan
suara-suara tersebut. Aku tak ingin
waktu yang kumiliki untuk beristirahat terganggu. Kegelisahan melanda jiwaku.
Mata ingin terpejam, otakku malah berkeliaran melukis wajah-wajah itu. Wajah
mereka berdua muncul dalam otakku dan tampak jelas kini di mata. Apakah
sebenarnya hubungan mereka. Orangtua dan anak, atau apa. Bodoh. Kenapa aku
begitu bodoh dengan pertanyaanku sendiri. Sulit bagiku mengusir bayangan mereka
dari mataku. Sejak pertemuan itu. Aku selalu memikirkan tentang mereka. Sejenak
aku termanjakan oleh kehangatan yang diberikan dari selimut ini, hingga aku
tertidur pulas.
Suatu rumah yang cukup mewah bagi
orang-orang yang memiliki segudang uang. Aku bingung dan bertanya-tanya dalam
otak cerdasku. Berpikir sangat keras dan mencoba mengingat-ingat apakah aku
pernah berada atau mengenali rumah ini. Pandangan mataku berkeliling, mencari
jejak atau petunjuk yang bisa kutemukan. Dalam keraguan yang bersarang sambil
mengendap-endap kumelangkah.
“Rumah siapakah ini? Kenapa aku berada di
rumah ini.”
Mungkin saja aku pernah ke rumah ini atau
mungkin juga amnesiaku kambuh sehingga aku tidak mengingatnya. Aku
memperhatikan foto-foto yang bergelantungan di dinding. Mataku yang liar
terhenti ketika melihat sebuah foto keluarga yang terletak di ruang kumpul
keluarga. Aku mengenali wanita yang berada difoto ini. Iya. Aku sangat
mengenali wajahnyanya. Wanita itu adalah mamuca. Ternyata ia memiliki suami
seorang pelayaran dan tiga orang anak, satu perempuan dan dua laki-laki. Lalu
siapa anak perempuan kecil itu.
Rahasia hidup membuat diriku menjadi bodoh.
Seandainya saja Tuhan memberitahukan sedikit saja, rahasia kehidupan yang aku
jalani. Aku seperti ada di dalam lorong labirin. Berputar-putar dengan terus
berusaha dapat menemukan jalan keluar. Tubuhku terpaku memperhatikan gambar
yang ada di dinding rumah. Aku sangat tidak mempercayai apa yang kulihat dan
berada dalam rumah mewah yang cukup lumayan mengkocek kantong. Anak perempuan
yang berada difoto ini, bukan seperti anak yang berjumpa denganku. Lalu kenapa
anak perempuan kecil itu selalu berada didekat mamuca.
“Kamu
yang sialan.”
Tiba-tiba
sebuah benda melayang kearahku, secepat kilat aku menghindar dari benda
tersebut. Aku pikir ada pesawat UFO yang datang tanpa diundang masuk. Aku
nampak bingung. Ada sebuah benda melayang menghampiri, untung benda itu tidak
mendarat diwajahku. Bodoh. Seketika itu juga, kumenghampiri asal mula benda tersebut.
“Menyesal
aku menikah denganmu.”
Suara
seorang laki-laki berteriak keras kudengar. Terlihat olehku laki-laki hitam
dengan muka seperti wajah monyet dan sangat mengerikan. Ia menghampiri ibu muda
cantik yang kukenal sambil menunjuk-nunjukan jari kewajahnya.
“Perempuan
sialan.”
Laki-laki
itu melayangkan kepalan tangannya kewajah ibu muda cantik itu, sehingga
mengeluarkan darah dari mulutnya. Aku shock melihat adegan tersebut. Dan
mengulang kembali masa lalu yang pernah hadir dan membekas dalam hidupku. Ibu
muda cantik itu tangannya ditarik hingga terpelintir dan tubuhnya diputar,
hingga kepalanya terbentur ke dinding. Persitwa yang mengerikan itu telah
terjadi kembali. Aku hanya bisa diam dan tanpa berbuat apa-apa.
“Berbohong
saja kamu kerjanya. Kamu pergi kemana?”
Ia
hanya terdiam. Terlihat olehku, laki-laki itu mengambil tali pinggang dari
celananya. Secepat kilat tali pinggang itu bersandar di tubuhnya. Dan
berulang-ulang kali laki-laki itu memukuli, bagaikan kuda yang dikebaskan oleh
si penunggang untuk berjalan kencang. Melihat hal itu ketiga anak dari ibu muda
cantik tersebut lari dengan sangat ketakutan dan bersembunyi di dalam kamar
mereka masing-masing. Mamuca itu telah disiksa seperti orang yang disandra
dalam perang, sampai lemas tak berdaya. Hanya sekedar mencari informasi apakah
ia seorang mata-mata. Pikiranku
berbicara sendiri dan menerawang jauh untuk bisa melupakan, hal yang baru saja kulihat.
Mamuca
itu sungguh jauh berbeda dengan mama. Mama tidak pernah melarikan diri dari
scenario hidupnya. Ia sangat baik menjalankan tugas yang Tuhan berikan. Mama
tidak menenangkan hatinya dengan minum-minuman keras maupun mencari seorang
pria tempat berlindung untuk mengadu. Hanya yang terlihat olehku, mama selalu
mengandalkan Tuhan dengan berdoa. Mama selalu mengucapkan hal-hal penting untuk
anak-anaknya. Ada sebuah kalimat yang ia sampaikan pada kami.
“Kalian
jangan pernah mengandalkan manusia. Karena manusia dapat mengecewakan. Tapi
kalian harus mengandalkan Tuhan. Karena Tuhan tidak pernah mengecewakan.
Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia. Tetapi diberkatilah orang yang
mengandalkan Tuhan.”
Hingga
saat ini, apa yang mama katakan aku jalani melewati kehidupanku. Sangat aku
sayangkan mamuca itu, ia lari dengan cara menegak minuman keras. Dua ke
pribadian yang jauh berbeda. Mamaku dan mamuca. Aku melihat dua sosok ibu yang
tersiksa. Satu ibu dengan berkelimpangan harta tapi tak memiliki sebuah
kebahagian hidup yang ia jalani. Satu ibu lagi dengan memiliki hati yang
mengampuni dan mendapatkan kebahagian dari ke empat anaknya. Mereka berdua
layaknya koin dilihat dari dua sisi yang berbeda. Aku menyayangi mama dan
akupun menyayangkan mamuca. Pelarian setiap makhluk hidup berbeda-beda. Bahkan
mereka rela mengkocek kantongnya untuk mendapatkan kebahagian di luar sana.
Bahkan sanggup membeli kebahagian yang mereka ingini. Setelah puas menyiksa
mamuca tersebut, laki-laki yang wajahnya mirip monyet itu berlalu pergi. Hatiku
teriris seperti disayat pisau melihat dirinya. Mamuca itu hanya terdiam dan
mengambil tas besarnya, sambil menghapus darah yang keluar dari mulut dengan
tissue, iapun menengak minuman itu sebagai penahan rasa sakit yang ia rasakan.
Baru
saja beberapa saat aku merebahkan tubuh dan menikmati lembutnya bantal guling
yang menghantarku terlelap. Pintu kamarku sudah ada yang mengetuk. Sial.
Umpatku kesal.
“Ney.
Buka pintunya dek.” Suara kakakku memanggil. Aku tidak pernah membantah setiap
ia menyuruku. Sampai-sampai mamapun cemburu padanya.
“Kalau
kakakmu yang menyuruh. Tanpa membantah. Langsung kau pergi.” Ungkapan kecemburuan
mama terhadap kakakku. Aku rasa. Aku cukup adil untuk mereka bertiga. Aku
selalu ada setiap kali semua membutuhkanku. Apalagi disaat kakakku si jail.
Ketika ia menghadapi kesulitan mengenai anaknya. Cucu mamaku yang pertama.
Tanpa membantah aku segera meluncur menemui dirinya.
“Ney.
Buka pintunya dek. Tolongin kakak sebentar aja.” Aku pikir kakakku telah pergi
dari depan pintu kamar. Tidakku jawab panggilannya.
“Ney.
Tolongin kakak sebentar.” Akhirnya tak tega hati ini dibuatnya. Telah
berulang-ulang kali ia memohon. Agar aku membukakan pintu. Sudah berusaha
keras, aku tidak mau membukakan pintu. Luluh juga hatiku.
“Apa.”
Jawabku sambil mengucek-ngucek mata. Kakakku yang satu ini teramat kusayang. Ia
sangat lemah dan cenggeng. Aku selalu ada untuk menjaganya. Kini ia jauh
berbeda. Tak seperti kakakku yang dulu. Ia terlihat tegar dan kuat, menghadapi
permasalahan yang terjadi dalam rumah tangganya.
“Tolongin
kakak sebentar.” Dengan suara yang memelas. Meminta agar aku dapat membantunya.
Baru saja aku ingin menolak permintaanya. Tiba-tiba saja mamuca muncul di
belakang kakakku.
“Tolong
anterin aku. Boleh ngak?” Ia menyahut menghampiri dan dengan nada manja ia
meminta.
“Iya.
Tolong anterin Ain sebentar. Ia mau beli makanan.” Langsung saja kakakku menyambar.
Seperti bensin yang tesulut api, hingga cepat menyala. Tanpa banyak komentar
aku menganggukkan kepala. Kakakku berlalu pergi. Sementara mamuca masih berada
di depan kamar. Malas rasanya aku beranjak keluar. Tapi permintaan itu tak bisa
kumenolaknya. Mau tak mau, harus mau. Aku tak ingin kakakku kecewa dan mamuca
itupun kelaparan. Mau minta pertolongan pada siapa lagi mereka. Kalau bukan aku
yang diandalkan. Aku ambil topi dan jaket yang berada di balik pintu. Aku pergi
mengantarnya membeli sesuatu yang ia butuhkan. Tiba-tiba ia memeluk pinggang
dan bersandar pada pundakku. Ku biarkan kenyaman itu ia nikmati. Sesaat aku
teringat. Dengan mimpiku yang baru saja hadir mengenai dirinya. Dan bekas
lembam yang ku lihat waktu itu. Aku tak boleh terlarut dengan mereka berdua.
Ini akan membahayakan bagi diriku sendiri.
***

kelinci99
ReplyDeleteTogel Online Terpercaya Dan Games Laiinnya Live Casino.
HOT PROMO NEW MEMBER FREECHIPS 5ribu !!
NEXT DEPOSIT 50ribu FREECHIPS 5RB !!
Ada Bagi2 Freechips Untuk New Member + Bonus Depositnya Loh ,
Yuk Daftarkan Sekarang Mumpung Ada Freechips Setiap Harinya
segera daftar dan bermain ya selain Togel ad juga Games Online Betting lain nya ,
yang bisa di mainkan dgn 1 userid saja .
yukk daftar di www.kelinci99.casino