Thursday, May 14, 2020

Kesadaranku



08. Kesadaranku
Rumah kakakku itu seringkali ramai oleh ibu-ibu muda nan cantik-cantik. Salah satunya adalah ibu blasteran indo, yang aku beri gelar dengan nama panggilan mamuca. Terkadang aku menjadi risih dengan mereka. Mereka semua adalah tamu-tamu Mbah. Dan persinggahan terakhir mereka adalah rumah kakakku. Entah, apa yang mereka obrolkan. Mungkin saja praduga bodohku saling berbagi cerita satu sama lain.
“Aku lagi kesel nih bunda.” Salah satu teman kakakku memulai sebuah obrolan.
“Kenapa lagi memangnya.” Kakakku menyambut perkataan temannya.
“Itu bapaknya anak-anak. Mulai gila lagi. Aku ngak dikasih jatah belanja.” Sambil menekuk mukanya. Seperti kardus yang dilipat dan siap untuk dikilo dan dijual. Tetap saja pandangan mataku tak lepas memandang wajah cantik ibu muda blasteran indo tersebut. Kali ini ada yang berbeda dari dirinya. Iya. Dimana anak perempuan kecil itu? Aku tidak melihatnya. Ruangan ini pecah oleh gelak tawa mereka. Seperti berada di tengah-tengah penonton yang sedang menyaksikan acara komedi. Kakakku dan teman-temannya sibuk dengan perbincangan mereka. Mungkin alangkah lebih bagus. Aku memberi judul acara untuk mereka “Curhatan Hati Para Istri”. Aku tertawa dan senyum-senyum sendiri. Sepertinya layak judul yang otakku berikan untuk mereka. Kutinggalkan ia yang sibuk dengan obrolan para istri. Kulangkahkan kakiku yang rapuh. Menuju pembaringan manja dengan bantal guling yang kesepian. Merindukan diriku untuk memeluknya. Hal yang terindah bagiku adalah bersembunyi dibalik selimut. Melepas bebaskan diri dari seluruh tugas yang melelahkan. Mumpung si pengaduan itu dikunjungi oleh teman-temannya.
 Malam udara begitu dingin. Derasnya air hujan membuat basah seluruh permukaan bumi, enggan rasanya aku keluar dari balik selimut yang telah menghangatkanku. Aku sangat senang dan menikmati udara seperti ini dengan bergelut dalam kemalasan yang membuat diriku engan untuk beranjak. Suara petir bersahut-sahutan bagaikan irama music yang mengalun keras, ditemani sang hujan yang berjatuhan ke atap. Alunan lagu yang berasal dari komputerkupun tak mau kalah dengan kebisingan suara-suara tersebut.  Aku tak ingin waktu yang kumiliki untuk beristirahat terganggu. Kegelisahan melanda jiwaku. Mata ingin terpejam, otakku malah berkeliaran melukis wajah-wajah itu. Wajah mereka berdua muncul dalam otakku dan tampak jelas kini di mata. Apakah sebenarnya hubungan mereka. Orangtua dan anak, atau apa. Bodoh. Kenapa aku begitu bodoh dengan pertanyaanku sendiri. Sulit bagiku mengusir bayangan mereka dari mataku. Sejak pertemuan itu. Aku selalu memikirkan tentang mereka. Sejenak aku termanjakan oleh kehangatan yang diberikan dari selimut ini, hingga aku tertidur pulas.
Suatu rumah yang cukup mewah bagi orang-orang yang memiliki segudang uang. Aku bingung dan bertanya-tanya dalam otak cerdasku. Berpikir sangat keras dan mencoba mengingat-ingat apakah aku pernah berada atau mengenali rumah ini. Pandangan mataku berkeliling, mencari jejak atau petunjuk yang bisa kutemukan. Dalam keraguan yang bersarang sambil mengendap-endap kumelangkah.
“Rumah siapakah ini? Kenapa aku berada di rumah ini.”
Mungkin saja aku pernah ke rumah ini atau mungkin juga amnesiaku kambuh sehingga aku tidak mengingatnya. Aku memperhatikan foto-foto yang bergelantungan di dinding. Mataku yang liar terhenti ketika melihat sebuah foto keluarga yang terletak di ruang kumpul keluarga. Aku mengenali wanita yang berada difoto ini. Iya. Aku sangat mengenali wajahnyanya. Wanita itu adalah mamuca. Ternyata ia memiliki suami seorang pelayaran dan tiga orang anak, satu perempuan dan dua laki-laki. Lalu siapa anak perempuan kecil itu.
 Rahasia hidup membuat diriku menjadi bodoh. Seandainya saja Tuhan memberitahukan sedikit saja, rahasia kehidupan yang aku jalani. Aku seperti ada di dalam lorong labirin. Berputar-putar dengan terus berusaha dapat menemukan jalan keluar. Tubuhku terpaku memperhatikan gambar yang ada di dinding rumah. Aku sangat tidak mempercayai apa yang kulihat dan berada dalam rumah mewah yang cukup lumayan mengkocek kantong. Anak perempuan yang berada difoto ini, bukan seperti anak yang berjumpa denganku. Lalu kenapa anak perempuan kecil itu selalu berada didekat mamuca.
              “Kamu yang sialan.”
              Tiba-tiba sebuah benda melayang kearahku, secepat kilat aku menghindar dari benda tersebut. Aku pikir ada pesawat UFO yang datang tanpa diundang masuk. Aku nampak bingung. Ada sebuah benda melayang menghampiri, untung benda itu tidak mendarat diwajahku. Bodoh. Seketika itu juga, kumenghampiri asal mula benda tersebut.
              “Menyesal aku menikah denganmu.”
              Suara seorang laki-laki berteriak keras kudengar. Terlihat olehku laki-laki hitam dengan muka seperti wajah monyet dan sangat mengerikan. Ia menghampiri ibu muda cantik yang kukenal sambil menunjuk-nunjukan jari kewajahnya.
              “Perempuan sialan.”
              Laki-laki itu melayangkan kepalan tangannya kewajah ibu muda cantik itu, sehingga mengeluarkan darah dari mulutnya. Aku shock melihat adegan tersebut. Dan mengulang kembali masa lalu yang pernah hadir dan membekas dalam hidupku. Ibu muda cantik itu tangannya ditarik hingga terpelintir dan tubuhnya diputar, hingga kepalanya terbentur ke dinding. Persitwa yang mengerikan itu telah terjadi kembali. Aku hanya bisa diam dan tanpa berbuat apa-apa.
              “Berbohong saja kamu kerjanya. Kamu pergi kemana?”
              Ia hanya terdiam. Terlihat olehku, laki-laki itu mengambil tali pinggang dari celananya. Secepat kilat tali pinggang itu bersandar di tubuhnya. Dan berulang-ulang kali laki-laki itu memukuli, bagaikan kuda yang dikebaskan oleh si penunggang untuk berjalan kencang. Melihat hal itu ketiga anak dari ibu muda cantik tersebut lari dengan sangat ketakutan dan bersembunyi di dalam kamar mereka masing-masing. Mamuca itu telah disiksa seperti orang yang disandra dalam perang, sampai lemas tak berdaya. Hanya sekedar mencari informasi apakah ia seorang mata-mata.  Pikiranku berbicara sendiri dan menerawang jauh untuk bisa melupakan, hal yang baru saja kulihat.
              Mamuca itu sungguh jauh berbeda dengan mama. Mama tidak pernah melarikan diri dari scenario hidupnya. Ia sangat baik menjalankan tugas yang Tuhan berikan. Mama tidak menenangkan hatinya dengan minum-minuman keras maupun mencari seorang pria tempat berlindung untuk mengadu. Hanya yang terlihat olehku, mama selalu mengandalkan Tuhan dengan berdoa. Mama selalu mengucapkan hal-hal penting untuk anak-anaknya. Ada sebuah kalimat yang ia sampaikan pada kami.
              “Kalian jangan pernah mengandalkan manusia. Karena manusia dapat mengecewakan. Tapi kalian harus mengandalkan Tuhan. Karena Tuhan tidak pernah mengecewakan. Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia. Tetapi diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan.”
              Hingga saat ini, apa yang mama katakan aku jalani melewati kehidupanku. Sangat aku sayangkan mamuca itu, ia lari dengan cara menegak minuman keras. Dua ke pribadian yang jauh berbeda. Mamaku dan mamuca. Aku melihat dua sosok ibu yang tersiksa. Satu ibu dengan berkelimpangan harta tapi tak memiliki sebuah kebahagian hidup yang ia jalani. Satu ibu lagi dengan memiliki hati yang mengampuni dan mendapatkan kebahagian dari ke empat anaknya. Mereka berdua layaknya koin dilihat dari dua sisi yang berbeda. Aku menyayangi mama dan akupun menyayangkan mamuca. Pelarian setiap makhluk hidup berbeda-beda. Bahkan mereka rela mengkocek kantongnya untuk mendapatkan kebahagian di luar sana. Bahkan sanggup membeli kebahagian yang mereka ingini. Setelah puas menyiksa mamuca tersebut, laki-laki yang wajahnya mirip monyet itu berlalu pergi. Hatiku teriris seperti disayat pisau melihat dirinya. Mamuca itu hanya terdiam dan mengambil tas besarnya, sambil menghapus darah yang keluar dari mulut dengan tissue, iapun menengak minuman itu sebagai penahan rasa sakit yang ia rasakan.
              Baru saja beberapa saat aku merebahkan tubuh dan menikmati lembutnya bantal guling yang menghantarku terlelap. Pintu kamarku sudah ada yang mengetuk. Sial. Umpatku kesal.
              “Ney. Buka pintunya dek.” Suara kakakku memanggil. Aku tidak pernah membantah setiap ia menyuruku. Sampai-sampai mamapun cemburu padanya.
              “Kalau kakakmu yang menyuruh. Tanpa membantah. Langsung kau pergi.” Ungkapan kecemburuan mama terhadap kakakku. Aku rasa. Aku cukup adil untuk mereka bertiga. Aku selalu ada setiap kali semua membutuhkanku. Apalagi disaat kakakku si jail. Ketika ia menghadapi kesulitan mengenai anaknya. Cucu mamaku yang pertama. Tanpa membantah aku segera meluncur menemui dirinya.
              “Ney. Buka pintunya dek. Tolongin kakak sebentar aja.” Aku pikir kakakku telah pergi dari depan pintu kamar. Tidakku jawab panggilannya.
              “Ney. Tolongin kakak sebentar.” Akhirnya tak tega hati ini dibuatnya. Telah berulang-ulang kali ia memohon. Agar aku membukakan pintu. Sudah berusaha keras, aku tidak mau membukakan pintu. Luluh juga hatiku.
              “Apa.” Jawabku sambil mengucek-ngucek mata. Kakakku yang satu ini teramat kusayang. Ia sangat lemah dan cenggeng. Aku selalu ada untuk menjaganya. Kini ia jauh berbeda. Tak seperti kakakku yang dulu. Ia terlihat tegar dan kuat, menghadapi permasalahan yang terjadi dalam rumah tangganya.
              “Tolongin kakak sebentar.” Dengan suara yang memelas. Meminta agar aku dapat membantunya. Baru saja aku ingin menolak permintaanya. Tiba-tiba saja mamuca muncul di belakang kakakku.
              “Tolong anterin aku. Boleh ngak?” Ia menyahut menghampiri dan dengan nada manja ia meminta.
              “Iya. Tolong anterin Ain sebentar. Ia mau beli makanan.” Langsung saja kakakku menyambar. Seperti bensin yang tesulut api, hingga cepat menyala. Tanpa banyak komentar aku menganggukkan kepala. Kakakku berlalu pergi. Sementara mamuca masih berada di depan kamar. Malas rasanya aku beranjak keluar. Tapi permintaan itu tak bisa kumenolaknya. Mau tak mau, harus mau. Aku tak ingin kakakku kecewa dan mamuca itupun kelaparan. Mau minta pertolongan pada siapa lagi mereka. Kalau bukan aku yang diandalkan. Aku ambil topi dan jaket yang berada di balik pintu. Aku pergi mengantarnya membeli sesuatu yang ia butuhkan. Tiba-tiba ia memeluk pinggang dan bersandar pada pundakku. Ku biarkan kenyaman itu ia nikmati. Sesaat aku teringat. Dengan mimpiku yang baru saja hadir mengenai dirinya. Dan bekas lembam yang ku lihat waktu itu. Aku tak boleh terlarut dengan mereka berdua. Ini akan membahayakan bagi diriku sendiri.
***

1 comment:

  1. kelinci99
    Togel Online Terpercaya Dan Games Laiinnya Live Casino.
    HOT PROMO NEW MEMBER FREECHIPS 5ribu !!
    NEXT DEPOSIT 50ribu FREECHIPS 5RB !!
    Ada Bagi2 Freechips Untuk New Member + Bonus Depositnya Loh ,
    Yuk Daftarkan Sekarang Mumpung Ada Freechips Setiap Harinya
    segera daftar dan bermain ya selain Togel ad juga Games Online Betting lain nya ,
    yang bisa di mainkan dgn 1 userid saja .
    yukk daftar di www.kelinci99.casino

    ReplyDelete