07.Pertemuan Yang Tak Terduga
Aku
melanjutkan perjalananku menuju kesebuah mal sederhana di kota ini untuk
membeli sesuatu yang tidak ada di warung mang Udin. Sebuah mainan tokoh kesukaanku Bart Simpson
yang terbuat dari karet. Lampu penerangan jalan sudah mulai dinyalakan tak
terasa waktu terus bergerak, seperti mentari yang bergeser untuk bersembunyi
serta melepaskan tugasnya dipagi hari. Rembulan mulai sedikit nampak menyinari
dan siap menjalankan tugas peralihan. Hari mulai sedikit agak gelap. Malam
mulai menonjolkan diri, pertanda penguasa malam mulai berkuasa dan siap untuk
menemani kesendirianku melalui pergantian waktu. Suasana mal begitu ramai hilir
mudik oleh pengunjung yang sangat sibuk dengan keperluan dan kebutuhan untuk
dibeli. Kaca-kaca mengelilingi seluruh bangunan kokoh ini, seperti ada di akuarium
besar aku sekarang. Pengunjung yang datang memakai busana dari yang mewah
sampai busana sederhana, terkecuali SATPAM.
Akupun
memasuki gedung yang berlapiskan dinding kaca dan udara sejuk menyambut
kedatanganku. Aku menulusuri pertokoan yang berada di dalam mal. Lelah sudah
aku mencari barang yang aku ingini telah habis terjual dan belum diantar lagi
ke toko. Putus asa menyelusuri dan menghasutku untuk menyesal tidak membelinya.
Mainan itu sudah lama aku cari. Saat aku tidak memiliki uang, mainan itu tak
dapat kubeli. Ketika aku memiliki sedikit uang dan aku ingin membelinya, barang
itu sudah tidak terpajang lagi. Aku tak ingin menyia-nyiakan waktu yang kumiliki
dan tetap terus mencari tokoh maianan yang kuingini. Para penjaga toko duduk menunggu datangnya
pembeli dari balik tembok kaca, sebagian toko lain yang kulewati
berteriak-teriak menawarkan barang. Pernak pernik disuguhkan oleh pihak gedung.
Alunan music bersaut-sautan di setiap toko yang ada. Anak-anak berlarian begitu
bebas lepas melihat ruangan yang begitu luas. Toko-toko berlomba untuk
mempertunjukkan produk yang mereka jual dan mencoba mencuri perhatian dari para
pengunjung mal.
SALE,
DISKON.
Tulisan
itulah yang menggugah hati para pengunjung yang berdatangan di mal tersebut.
Terutama para ibu-ibu berlomba-lomba untuk melihat produk apa yang ada
bertulisan SALE di depan toko. Ruangan sebesar ini udaranya begitu dingin. Bukan
karena suasana hujan tapi central dari pusatlah yang mengeluarkan udara dingin.
Sehingga para pengunjung dari kelas atas sampai bawah merasa nyaman. Aku dapat
memperhatikan mereka semua dari dalam, begitupun mereka dapat melihatku yang
hanya terpisah oleh tembok kaca. Dan toko inilah pijakan terakhirku untuk
mencarinya. Aku menyisiri setiap rak dan hampir semua rak tak terlewatkan olehku.
Bart Simpson mainan yang aku ingini sejak dulu. Tiba diriku di pengujung rak.
Rasa penasaranku yang menahan dan mengurungku untuk tetap terus mencari tokoh
tersebut. Berakhir sudah pencarianku. Tak dapat kusesali lagi waktu yang telah
lalu. Keadaanku saat itu memang tidak memiliki uang untuk membelinya.
Penyesalan dan kesedihan menjadi satu perasaan yang terlebur dalam hati.
Sia-sia sudah perjalananku ke tempat ini.
Tak
berapa lama kemudian pandangan mataku yang liar memperhatikan sekeliling
mendadak terhenti. Tertuju kepada seorang anak perempuan kecil yang pernah
berjumpa denganku. Anak itu bersama dua orang ibu. Mereka berdiri tepat di samping
dan membelakangi posisiku. Sehingga mereka tidak mengetahui keberadaanku. Hanya
anak perempuan kecil itulah yang melihat dan melemparkan senyum manis dari
wajah polos seorang anak. Akupun membalas senyuman yang ia berikan padaku.
“Aha…mamuca (mama muda cantik) dan anak kecil itu berada disini juga.” Aku
menggumam dalam hati sambil memperhatikan mereka. Barang yang aku cari tidak
ada. Tapi aku sangat senang berjumpa lagi dengannya yang sudah mencuri
perhatianku. Ibu muda cantik itu sungguh menggugah selera setiap mata yang
memandang. Perhiasan mewah yang di pergelangan tangan, cincin emas berjejer di jemari
serta kalung yang melingkar di lehernya. Mencerminkan ia orang berbeda. Rok
mini di atas lutut hingga terlihat betapa mulus kulitnya bersinar serta kemeja
ketat dengan kancing yang sedikit terbuka, membuat belahan dadanya terlihat.
Meskipun rambutnya di ikat tidak rapi, tapi ia terlihat sangat seksi dan
cantik. Dengan bibir yang di cat merah. Make up yang ia pakaipun tidak terlalu
tebal. Aku terpesona melihat ke cantikan dirinya dan tubuh seksi yang semok,
sehingga membuat seseorang ingin memeluk.
Bodoh
sekali diriku. Aku terlalu jauh memikirkan dan menilai seorang mamuca. Ia
menarik tangan diantara salah satu ibu yang berada di dekatnya. Mecoba
memberitahukan keberadaanku. Akupun membalas senyumannya sambil menggelengkan
kepala sebagai tanda tidak setuju, ia berbuat demikian. Ia menganggukan kepala
sambil menarik kembali. Ibu itupun tersentak kaget. Dan menoleh melihat sekeliling
untuk memastikan siapa yang sudah menarik tangannya. Matanya terus berputar mencari sumber penyebab seseorang yang
sudah menarik tangannya. Akhirnya mata itu tertuju padaku,
sepertinya seolah-olah akulah penyebab dari kejadian yang baru saja ia alami
dan aku merasa terintimidasi menjadi salah tingkah. Langsung saja aku membuang pandangan mataku
ke salah satu mainan yang berada dihadapanku. Ketika aku ingin melihat kembali
anak itu. Ia sudah tidak ada. Ada sesuatu yang menarik hatiku dan rasa
ingin mengenalnya lebih dekat.
“Hai,
kok bisa kebetulan ketemu disini.”
Aku tersentak kaget karena target yang aku
cari sekarang berada di hadapanku. Anak perempuan kecil itu tersenyum.
“Kita
cari makan, yuk.”
Akhirnya
kamipun berlalu meninggalkan toko mainan yang aku singgahi. Tiba-tiba saja ia
memeluk tanganku dengan erat. Seperti sepasang kekasih yang sedang berjalan di
tengah-tengah keramain. Tubuhnya telah oleng karena terlalu banyak minum.
“Kita
mau makan di mana, tante?” Tanyaku pada ibu muda cantik yang sudah terlihat
mabuk.
“Iiih…jangan
panggil tante, ah.” Ia menolak menunjukkan protes ketidak sukaannya terhadapku,
memanggil dirinya tante. Aku mengerutkan alis.
“Kita
makan di sini aja, yah.” Ibu muda cantik itu hanya menganggukan kepala. Seperti
ada daya tarik yang sangat kuat aku dengan dirinya. Entah itu apa.
“Aku
mau makan ikan asin.”
Seolah-olah memohon padaku untuk memenuhi
permintaan yang baru saja ia sampaikan. Tubuhnya terasa
hangat menempel di kulitku. Perasaanku bergejolak
tiba-tiba. Tanpa sengaja aku melihat di bahu kirinya ada memar merah
kebiru-biruan. Seperti lembam pukulan. Aku membiarkan dirinya bermanja bahagia,
mendekap erat tanganku yang hampir keram kesemutan. Akankah ada sebuah kisah
yang terurai dari ibu muda cantik ini. Kini aku sadar. Bahwa hanya akulah yang
dapat melihatnya yang sedang berlari-larian penuh bahagia.
Akhirnya
kamipun masuk ke restaurant yang sudah dipilih oleh anak itu. Ia terlihat
sangat bahagia, ketika aku menyetujui tempat untuk kami makan. Sebagai rasa terima
kasihnya padaku, ia tersenyum sambil berlari kearah sebuah ruangan khusus dan
langsung duduk di bangku yang ia pilih. Aku sangat senang melihatnya. Ia duduk
sambil mengoyang-goyangkan kakinya mendengar alunan music yang diputar oleh
restaurant. Aku memanggil salah satu pelayan untuk memesan menu yang ada di daftar
meja. Ketika saat aku ingin menulis. Kertas itu terjatuh. Aku membaca pesan
yang baru saja aku ambil dari bawah lantai. Aku menoleh ke arahnya. Ia memberi
suatu pesan rahasia melalui senyuman. Aku tidak mengerti bahasa isyarat yang
dimilikinya.
“Kok,
kamu tahu aku suka asin?”
Ibu muda cantik itu terlihat kaget. Kuhisap rokok yang baru saja
kubakar, untuk mengusir gugup dengan mencoba mencari jawaban yang tepat.
“Menurut dokter. Usia seumur tante sekarang,
tidak boleh banyak makanan asin.” Aku menjelaskan.
Ia tersenyum bahagia, ketika aku menjelaskan menu makanan untuk dirinya.
“Ria,
ini Ney. Barusan yang aku ceritain tadi.”
Ia mencoba memperkenalkan aku dengan teman
yang ada disampingnya. Bodoh. Aku memang bodoh, aku belum tahu siapa ibu muda
ini. Rasa penasaran mendorongku. Untuk mencari tahu
siapa yang dimaksud Mbah.
“Maaf
tante. Eh…Ain. Aduh salah lagi gua.”Tiba-tiba saja kertas dan pulpen jatuh
tepat di kakiku. Sesaat aku membiarkan kertas itu beberap menit. Tetap pada
tujuan utamaku untuk mencari jawaban tentang sosok Mbah. Bukan maksud hatiku
mengabaikannya.
“Heeehee,
kenapa Ney?” Aku hanya mengikuti aturan main yang baru saja dimulai saat ini.
“Maaf,
saya mau tanya. Mbah itu siapa yak?!” Ku raih kertas dan pulpen yang terjatuh.
Sebuah tulisan tertera dengan sebuah kata. “Ia menyukaimu.” Isyarat apalagi
yang anak ini akan sampaikan. Siapa ia yang dimaksud anak perempuan ini.
“Ooh, Mbah. Memangnya ada apa?!”
“Ngak papa. Cuman penggen tau aja.” Secepat
kilat kata-kata itu meluncur begitu saja.
“Mbah
itu masih muda dan cantik, makanya kami datang untuk meminta penggasihan
darinya.”
“Pengasihan
itu apa, sih?!” Pertanyaan bodoh ku lontarkan kepadanya dan ia hanya membalas
senyuman.
Pengasihan
itu semacam pemanis untuk bertemu sesorang atau bicara dengan seseorang. Mereka
yang datang harus memakan bunga kantil. Satu persatu mereka diajak masuk
keruangan praktek. Sebuah mangkuk terbuat dari tanah liat yang berisikan
kembang tujuh rupa dan di tengahnya telah terbakar dua buah hio. Menurutnya
itulah cara berkomunikasi dengan arwah. Bahkan sebuah tungku untuk membakar
menyanpun terdapat di dalam ruangan. Dua buah kelapa hijau di taruh
bersandingan dengan tungku menyan dan mangkuk tujuh kembang. Setiap tamu yang
datang diberikan batu cincin. Batu yang diberikan itu bermacam-macam bentuk
rupanya. Tamu-tamu yang hadir akan dimandikan air kembang. Tujuannya untuk
membuka aura. Adapun tamu yang diberikan oleh si Mbah hanya sebuah jarum dan
silet yang terbungkus dalam kain hitam. Jika tamu yang memiliki permasalahan
dengan suaminya. Mereka hanya menyerahakan celana dalam bekas pakai si suami.
Juga ada beberapa tamu yang menyerahkan foto dengan di tuliskan nama, tanggal
lahir serta nama orangtua laki-laki. Aku menyimak ceritanya begitu serius.
Teringat
akan sesuatu pada saat aku membuka kulkas. Ada sebotol minyak wangi yang
berisikan beberapa helai seperti bulu. Bulu itu dinamakan bulu perindu. Aku
pernah mendengar percakapan kakakku. Bulu perindu itu untuk sesorang yang akan
selalu merindukan si pemakainya. Kakakku memakai minyak itu, ketika ia bertemu
dengan mantan suaminya. Kembali kufokuskan otakku untuk mendengarkan cerita
selanjutnya. Terkadang para tamu membawakan ayam hitam untuk diambil darahnya
dan disiram ke foto yang diserahkan kepada Mbah. Mereka semua yang datang
berobat atau berkonsultasi memberikan amplop yang berisi uang semampu mereka
yang datang. Si Mbah memberikan saran untuk para tamunya dengan menyerahkan
uang syariat untuk permohonan kepada ratu putri. Dan ada lagi keanehan terjadi.
Sesekali si Mbah kemasukan roh-roh yang berbeda. Suaranya terkadang berubah
menjadi seorang nenek-nenek tua, suara laki-laki bahkan suara anak-anak.
Setelah berobat dengan si Mbah usaha mereka laris dan ada yang berhasil
suaminya tunduk pada istri.
Ada
pernah terdengar kabar. Bahwa salah satu pasien si Mbah, ketika usahanya laris
dan ia lupa memberi syariat yang diminta oleh si Mbah. Dalam sekejap saja usaha
itu langsung bangkrut. Aku tertegun mendengar cerita seru dari sosok Mbah.
Menurut cerita yang aku dengar dari mamuca. Bahwa setiap tamu-tamunya
menyerahkan kalung emas, cincin emas dan gelang emas. Alasan si Mbah untuk
diisi sesuatu sebagai jimat atau pelindung bagi pemilik barang tersebut.
***

kelinci99
ReplyDeleteTogel Online Terpercaya Dan Games Laiinnya Live Casino.
HOT PROMO NEW MEMBER FREECHIPS 5ribu !!
NEXT DEPOSIT 50ribu FREECHIPS 5RB !!
Ada Bagi2 Freechips Untuk New Member + Bonus Depositnya Loh ,
Yuk Daftarkan Sekarang Mumpung Ada Freechips Setiap Harinya
segera daftar dan bermain ya selain Togel ad juga Games Online Betting lain nya ,
yang bisa di mainkan dgn 1 userid saja .
yukk daftar di www.kelinci99.casino