Thursday, May 14, 2020

Kenalilah Mereka



04.Kenalilah Mereka
Keluar pertanyaan yang berbeda dari kebodohanku dan terjun kedalam dunia mereka. Tanpa kusadari, aku masih tetap seperti patung berdiri di pinggir pintu. Aku memang bodoh, tidak mengetahui apa yang kakakku lakukan. Pandangan mataku seperti tak mau lepas, untuk terus menatap ibu yang sedang memegang beberapa buah lembar poto. Pecah sudah pandanganku terhadapanya, ketika ia melemparkan senyum kearahku. Tersadar aku dari senyuman yang diberikan bahwa aku sudah terlalu jauh lama memandang. Akupun membalas senyum, menganggukkan kepala dan berlalu pergi. Aku tidak mau terlihat bodoh di tengah-tengah para tamu yang datang. Dan memutuskan untuk menunggu kakakku di luar. Ibu muda cantik blasteran indo telah membuyarkan fokusku. Dengan membawa sejuta tanda tanya yang belum terjawab. Langkah kakiku terus menapaki jalan bebatuan menghampiri sebuah bale-bale yang terletak tidak berapa jauh dari rumah aneh itu.
Daun-daun kering berterbangan tertiup angin. Aku menikmati semilirnya angin yang hinggap diwajah karena lelah. Tak lepas dimanapun aku berada, selalu ada saja yang mencuri pusat perhatianku. Salah satu bocah sibuk berusaha untuk mencoba kakinya sampai pada pedal sepeda. Berupaya untuk bisa menjalankan sepedanya. Rasa penasaran bergejolak dalam diri bocah tersebut, ia keluar dari sepeda dan berdiri di belakang lalu mendorongnya tanpa sepeda itu dinaiki. Aku tersenyum malu melihat tingkahnya, ia lebih cerdas dari apa yang kubayangkan. Ia mau terus berusaha. Tanpa sebuah tangisan ia berjuang keras. Dengan sebuah ide cemerlang hanya demi sebuah sepeda dapat ia jalankan. Aku melihat bocah itu berjuang dan mengorbankan dirinya mendorong sepeda. Aku tak secerdas bocah itu. Mungkin, ketika aku berada diposisinya. Beberapa anak berlari kejar-kejaran dengan teman sebaya tanpa memperdulikan alam sekitar. Aku sangat sering membaca karakter dalam tragedy perkembangan anak didalam tiap permasalahan yang terjadi. Karena orangtua yang terlalu otoriter dan megekang dalam membentuk pribadi anak. Mereka tidak diizinkan untuk mengembangkan potensi yang ada dalam diri mereka. Karena keegoisan orangtua, tanpa mereka sadari bahwa anak memiliki hak asazi manusia juga. Seperti yang aku simak dalam kacamata keluargaku maupun keluarga lain yang ada di sekitar. Bahwa keberhasilan seorang anak dikarenakan turut campur tangan seorang ibu. Dan kehancuran seorang anak dapat dilakukan oleh seorang ayah karena hati mereka terluka. Tapi ketika orangtua. Atau yang aku maksud adalah ayah dan ibu. Mereka memberikan suatu kenyamanan dan mengerti akan kepribadian anaknya sendiri, maka yang akan terjadi adalah sebuah kebahagian yang akan didapatkan.
Teringat olehku. Kejadian masa kecil. Ketika itu aku sangat senang bermain music. Entah apa penyebabnya. Tiba-tiba saja papa marah dan membanting gitarku, hingga terbelah dua. Aku hanya terdiam melihat gitar kesayanganku pecah. Ingin rasanya aku marah terhadap perlakuan papa. Tapi apalah dayaku. Aku hanyalah seorang anak kecil yang tak dapat melawan. Kejadian itu tidak membuatku putus asa. Aku mencari sesuatu hal yang baru dan tidak membuat papaku marah. Dengan menggambar pikirku. Itu tidak akan membangkitkan amarah papa. Semua kertas aku gambar dan aku tempelkan di seluruh dinding rumah. Salah. Ternyata hal itupun bagi papa salah. Kembali lagi hantaman pukulan mendarat ditubuhku. Apapun yang aku lakukan semua itu salah di mata papa. Kejadian-kejadian yang membuatku luka. Aku tak ingin mereka mengalami hal yang sama seperti diriku. Sebuah dunia yang tidak kenal ada dendam, iri, saingan, yang ada hanyalah dunia yang penuh canda tawa.
Semua anak yang dilahirkan dimuka bumi ini sepaket dengan sifat yang mencerminkan dengan kepribadian tertentu, sifat yang dibawa dari kecil inilah yang akan membantu kita memahami. Apakah tertawa atau menangis begitu wajahnya berubah. Tapi semua itu hanya sebagian dari dirinya saja. Sebagian lagi adalah bagaimana kita merespon terhadap kecenderungan sifat uniknya. Seperti seorang anak yang memiliki sifat sanguinis yaitu ciri anak yang cenderung memiliki energy yang besar, suka bersenang-senang dengan teman sebayanya dan lebih supel. Anak yang memiliki sifat kepribadian ini lebih suka membawa dirinya bergembira dalam situasi apapun, lebih senang menjadi sorotan dan lebih suka memotivasi orang lain, kemampuan dalam menghidupkan komunikasi didalam komunitasnya sangat besar. Sehingga mempunyai banyak teman, meskipun demikian mereka lebih banyak tidak teratur, emosional dan hipersensitif.
Lain halnya dengan kepribadian seorang anak yang memiliki sifat koleris, mereka merupakan anak yang secara natural berorientasi pada sasaran yang dimilikinya, hidupnya dicurahkan untuk dapat berprestasi, dan juga yang cepat dapat mengorganisasikan. Mereka yang memiliki kepribadian ini selalu menuntut loyalitas dan juga penghargaan dari orang-orang di lingkungannya. Dan yang sangat unik dari sifat kepribadiaan anak yang memiliki sifat melankolis, anak dengan memiliki kepribadian seperti ini lebih cenderung untuk mengejar kesempurnaan dalam segala hal yang akan dilakukannya. Hingga banyak sekali anak yang seringkali kecewa karena hasilnya kurang sempurna di mata mereka. Anak yang memiliki kepribadiaan ini lebih cenderung membutuhkan kepekaan dan dukungan dari orang lain. Dari beberapa karakter itulah kita harus dapat memahami dan mengerti cara menangani  seorang anak. Karena anak-anak menuntut kita mengerti dan memahami diri mereka. Meskipun terkadang sangatlah jauh bertentangan dengan keinginan kita sebagai orangtua.
Terkadang aku jenuh dan muak dengan segala macam berita-berita baik melalui televisi, Koran ataupun segala macam bentuk berita yang disampaikan mengenai kekerasan terhadap anak. Aku hanya berfikir dari dasar otak cerdasku yang paling terdalam, mengapa begitu tega dan kejamnya orangtua yang sanggup menyiksa, bahkan ada yang sampai dibunuh oleh orangtua kandungnya. Monsterkah mereka. Sampai tidak memiliki hati sedikitpun terhadap anak yang sudah ia besarkan dan diberi makan. Ataukah sebuah keegoisan yang begitu besar. Mereka melupakan keberadaan anak. Melupakan hal akibat birahi yang sudah menghasilkan benih nyawa dan tak ingin dijadikan beban untuk mereka. Sehingga diakibatkan pemusnahan secara sengaja.
Pikiranku melayang-layang bagaikan layang-layang yang oleng. Tanpa ada kendali sipenarik tali untuk membuat layangan itu tetap stabil melayang di angkasa luas. Berpikir keras untuk tidak melukai anak-anak. Pengalaman pahit kurasakan yang memiliki seorang papa begitu kejam. Papa tidak pernah memikirkan perasaan. Sesuka hatinya menghukum. Tangannya mudah melayang memukul. Kami tak dapat melawan, jika papa marah. Ia seperti kesetanan membabi buta memukuli. Ataukah dibuat pemerintah sekolah kepribadian untuk orangtua cara mendidik dan mengurus anak. Atau juga mentraining mereka dalam mengasuh anak. Aku rasa sudah banyak seminar-seminar yang membahas cara mengenal pribadi dan mendidik anak. Tapi dimanakah itu semua. Masih saja aku selalu mendengar berita tentang kekerasan orangtua terhadap anak. Memang aku belum menikah apalagi memiliki seorang anak, tapi aku sangat mengasihi anak-anak karena mereka lugu dan polos. Layaknya kertas putih yang siap ditaburi oleh segala macam warna, yang akan menghiasi dan membentuk warna itu menjadi sebuah gambar lukisan yang hidup dalam kepribadiaan mereka. Aku selalu mengikuti perkembangan berita yang selalu ada terselib sebuah berita tentang orangtua yang selalu menjadi monster untuk anaknya sendiri.
Mereka yang polos bagaikan sebatang bongkahan kayu, yang akan siap diukir dan dibentuk menjadi sesuatu yang berguna. Dan bermanfaat bukan hanya untuk orangtuanya saja tapi untuk dirinya sendiri dan orang lain. Membentuk seorang anak untuk lebih berguna sesuai dengan karakter dan keinginan mereka masing-masing.  Bukan mereka dijadikan mesin pencetak uang serta memanfaatkan sifat kepolosan yang mereka miliki. Layaknya aku yang selalu membuat design dengan tema dan konsep yang klien inginkan. Ukuran, kertas, warna dan naik mesin apa yang layak untuk mencetak semua sesuai keinginan mereka. Untuk dapat menghasilkan dan puas akan yang ia tuju. Seharusnya itupun yang harus kita lakukan, kita harus memikirkan akan masa depan mereka melalui, pendidkan, perhatian, kasihsayang, arahan dan bahkan nasehat-nasehat sebagai bekal mereka nantinya. Aku akui anak-anak pada zaman sekarang ini sangatlah jauh berbeda pada masa zaman kanak-kanak aku dulu. Aku yang menikmati permainan tradisional. Beda sangat jauh dengan kondisi di era zaman globalisasi modern seperti sekarang ini. Anak-anak pada zaman sekarang mereka dijejali oleh berbagai macam permainan elktronik yang canggih. Terutama anak-anak yang memiliki orangtua dengan segudang uang. Tanpa memikirkan akan bagaimana nanti masa depan yang akan mereka jalani.
Dunia anak-anak sangatlah jauh dari kebencian dan dendam, yang ada didalam diri mereka hanyalah kegembiraan dan keceriaan saat bermain. Mereka bebas tanpa ada beban yang mereka pikirkan, hanya senyum penuh keceriaan dilalui hari demi hari. Ketika ia dilukai dan tersakiti yang dapat mereka lakukan hanyalah mengadu dan menangis. Serta menceritakan hal yang telah terjadi menimpa dirinya. Kepada seseorang yang dapat mendengarkan penderitaan mereka dan dianggap sebagai tempat pelindung. Karena itulah, mengapa aku menyukai dan menyayangi anak-anak. Dengan kepolosan dan ketulusan yang ada pada mereka, membuat aku menyayangi dan mencintai mereka.
Mereka berlari kesana kemari sambil berkejar-kejaran bersama, tanpa mengenal apakah itu bahaya yang ada di depan. Mereka tidak perduli dan tetap terus bermain dengan keceriaan. Ketika bahaya itu menimpa. Mereka lakukan hanyalah berlari sambil menangis tanpa ada rasa penyesalan, kembali bermain. Terpancar diwajahnya suatu bentuk kebahagian yang dulupun aku pernah miliki. Ya, saat aku seusia diri merekapun melakukan hal yang serupa. Anak-anak memiliki sebuah pribadi yang sangat lembut dan tidak bisa dikerasi, mereka hanya menginginkan kita mengerti apa yang mereka ingini. Banyak hal yang aku pelajari dari sifat kepribadian anak. Mereka begitu bebas lepas hidup yang di jalani. Sambil memperlihatkan mainan yang mereka miliki. Tanpa memperdulikan barang mahal maupun barang murah. Berbeda dengan kita yang jauh diatas umur mereka, kita banyak memiliki kebodohan dan ke konyolan. Bahkan tanpa kita sadari kita sudah melukai dan dilukai seseorang. Pada akhirnya menimbulkan suatu sikap pendendam dan berusaha membalas. Apa yang sudah dilakukan seseorang terhadap kita bahkan sebaliknya.
Tak urung niat mereka untuk pulang. Karena takut ketika mereka pulang akan dilarang oleh orangtuanya kembali untuk bermain. Seperti keponakanku, ia asyik bermain hingga lupa waktunya untuk makan ataupun mandi. Kakakku sering kali marah- marah kepadaku. Karena aku memanjakan terlalu berlebihan, aku hanya tersenyum dan berlalu pergi ketika kakakku sedang marah. Aku memang sangat dekat pada anak-anak terutama keponakanku sendiri. Ia lebih merasa nyaman berada didekatku dari pada mamanya. Anak-anak yang hatinya masih polos, tanpa cacat tidak mengerti apalah artinya sebuah kemarahan dari orangtua. Yang hanya mereka pikirkan bermain, makan, jajan, mandi lalu pulang dan tidur. Itulah dunia mereka. Papa yang ringan tangan memukul,menjadikan diriku seorang yang tangguh. Perlakuan papa terhadapku membawa diriku mengasihi anak-anak.
***

1 comment:

  1. kelinci99
    Togel Online Terpercaya Dan Games Laiinnya Live Casino.
    HOT PROMO NEW MEMBER FREECHIPS 5ribu !!
    NEXT DEPOSIT 50ribu FREECHIPS 5RB !!
    Ada Bagi2 Freechips Untuk New Member + Bonus Depositnya Loh ,
    Yuk Daftarkan Sekarang Mumpung Ada Freechips Setiap Harinya
    segera daftar dan bermain ya selain Togel ad juga Games Online Betting lain nya ,
    yang bisa di mainkan dgn 1 userid saja .
    yukk daftar di www.kelinci99.casino

    ReplyDelete