04.Kenalilah Mereka
Keluar pertanyaan yang berbeda dari
kebodohanku dan terjun kedalam dunia mereka. Tanpa kusadari, aku masih tetap
seperti patung berdiri di pinggir pintu. Aku memang bodoh,
tidak mengetahui apa yang kakakku lakukan. Pandangan mataku
seperti tak mau lepas, untuk terus menatap ibu yang sedang memegang beberapa
buah lembar poto. Pecah sudah pandanganku terhadapanya,
ketika ia melemparkan senyum kearahku. Tersadar aku dari senyuman yang
diberikan bahwa aku sudah terlalu jauh lama memandang. Akupun membalas senyum,
menganggukkan kepala dan berlalu pergi. Aku tidak mau
terlihat bodoh di tengah-tengah para tamu yang datang. Dan memutuskan untuk menunggu kakakku di luar. Ibu muda cantik
blasteran indo telah membuyarkan fokusku. Dengan membawa
sejuta tanda tanya yang belum terjawab. Langkah kakiku
terus menapaki jalan bebatuan menghampiri sebuah bale-bale yang terletak tidak
berapa jauh dari rumah aneh itu.
Daun-daun kering berterbangan tertiup
angin. Aku menikmati semilirnya angin yang hinggap diwajah karena lelah. Tak
lepas dimanapun aku berada, selalu ada saja yang mencuri pusat perhatianku.
Salah satu bocah sibuk berusaha untuk mencoba kakinya sampai pada pedal sepeda.
Berupaya untuk bisa menjalankan sepedanya. Rasa penasaran bergejolak dalam diri
bocah tersebut, ia keluar dari sepeda dan berdiri di belakang lalu mendorongnya
tanpa sepeda itu dinaiki. Aku tersenyum malu melihat tingkahnya, ia
lebih cerdas dari apa yang kubayangkan. Ia mau terus berusaha. Tanpa sebuah tangisan ia berjuang keras. Dengan sebuah ide
cemerlang hanya demi sebuah sepeda dapat ia jalankan. Aku melihat bocah itu
berjuang dan mengorbankan dirinya mendorong sepeda. Aku tak secerdas bocah itu. Mungkin, ketika aku berada diposisinya.
Beberapa anak berlari kejar-kejaran dengan teman sebaya tanpa memperdulikan
alam sekitar. Aku sangat sering membaca karakter dalam tragedy perkembangan
anak didalam tiap permasalahan yang terjadi. Karena orangtua yang terlalu
otoriter dan megekang dalam membentuk pribadi anak. Mereka tidak diizinkan
untuk mengembangkan potensi yang ada dalam diri mereka. Karena keegoisan
orangtua, tanpa mereka sadari bahwa anak memiliki hak asazi manusia juga.
Seperti yang aku simak dalam kacamata keluargaku maupun
keluarga lain yang ada di sekitar. Bahwa keberhasilan seorang anak dikarenakan
turut campur tangan seorang ibu. Dan kehancuran
seorang anak dapat dilakukan oleh seorang ayah karena hati mereka terluka. Tapi ketika orangtua. Atau yang aku
maksud adalah ayah dan ibu. Mereka memberikan suatu kenyamanan dan mengerti
akan kepribadian anaknya sendiri, maka yang akan terjadi adalah sebuah
kebahagian yang akan didapatkan.
Teringat
olehku. Kejadian masa kecil. Ketika itu aku sangat senang bermain music. Entah
apa penyebabnya. Tiba-tiba saja papa marah dan membanting gitarku, hingga
terbelah dua. Aku hanya terdiam melihat gitar
kesayanganku pecah. Ingin rasanya aku marah terhadap perlakuan papa. Tapi
apalah dayaku. Aku hanyalah seorang anak kecil yang tak dapat melawan. Kejadian
itu tidak membuatku putus asa. Aku mencari sesuatu hal yang baru dan tidak
membuat papaku marah. Dengan menggambar pikirku. Itu tidak akan membangkitkan
amarah papa. Semua kertas aku gambar dan aku tempelkan di seluruh dinding
rumah. Salah. Ternyata hal itupun bagi papa salah. Kembali lagi hantaman
pukulan mendarat ditubuhku. Apapun yang aku lakukan semua itu salah di mata
papa. Kejadian-kejadian yang membuatku luka. Aku tak ingin mereka mengalami hal
yang sama seperti diriku. Sebuah dunia yang tidak kenal ada dendam,
iri, saingan, yang ada hanyalah dunia yang penuh canda tawa.
Semua
anak yang dilahirkan dimuka bumi ini sepaket dengan sifat yang mencerminkan
dengan kepribadian tertentu, sifat yang dibawa dari kecil inilah yang akan
membantu kita memahami. Apakah tertawa atau menangis begitu
wajahnya berubah. Tapi semua itu hanya sebagian dari dirinya
saja. Sebagian lagi adalah bagaimana kita merespon terhadap kecenderungan sifat
uniknya. Seperti seorang anak yang memiliki sifat sanguinis yaitu ciri anak
yang cenderung memiliki energy yang besar, suka
bersenang-senang dengan teman sebayanya dan lebih supel. Anak yang memiliki sifat kepribadian ini lebih suka membawa
dirinya bergembira dalam situasi apapun, lebih senang menjadi sorotan dan lebih
suka memotivasi orang lain, kemampuan dalam menghidupkan komunikasi
didalam komunitasnya sangat besar. Sehingga
mempunyai banyak teman, meskipun demikian mereka lebih banyak tidak teratur,
emosional dan hipersensitif.
Lain
halnya dengan kepribadian seorang anak yang memiliki sifat koleris, mereka
merupakan anak yang secara natural berorientasi pada sasaran yang dimilikinya,
hidupnya dicurahkan untuk dapat berprestasi, dan juga yang cepat dapat
mengorganisasikan. Mereka yang memiliki kepribadian ini
selalu menuntut loyalitas dan juga penghargaan dari orang-orang di lingkungannya. Dan yang sangat unik dari sifat kepribadiaan anak yang memiliki sifat
melankolis, anak dengan memiliki kepribadian seperti ini lebih cenderung untuk
mengejar kesempurnaan dalam segala hal yang akan dilakukannya. Hingga banyak sekali anak yang seringkali kecewa karena hasilnya
kurang sempurna di mata mereka.
Anak yang memiliki
kepribadiaan ini lebih cenderung membutuhkan kepekaan dan dukungan dari orang
lain. Dari beberapa karakter itulah kita harus
dapat memahami dan mengerti cara menangani
seorang anak. Karena anak-anak menuntut kita mengerti
dan memahami diri mereka. Meskipun terkadang sangatlah jauh bertentangan dengan
keinginan kita sebagai orangtua.
Terkadang
aku jenuh dan muak dengan segala macam berita-berita baik melalui televisi,
Koran ataupun segala macam bentuk berita yang disampaikan mengenai kekerasan
terhadap anak. Aku hanya berfikir dari dasar otak cerdasku yang paling
terdalam, mengapa begitu tega dan kejamnya orangtua yang sanggup menyiksa,
bahkan ada yang sampai dibunuh oleh orangtua kandungnya. Monsterkah
mereka. Sampai tidak memiliki hati sedikitpun terhadap anak yang sudah ia
besarkan dan diberi makan. Ataukah sebuah keegoisan yang begitu besar. Mereka
melupakan keberadaan anak. Melupakan hal akibat birahi yang sudah menghasilkan
benih nyawa dan tak ingin dijadikan beban untuk mereka. Sehingga diakibatkan
pemusnahan secara sengaja.
Pikiranku
melayang-layang bagaikan layang-layang yang oleng. Tanpa ada kendali sipenarik
tali untuk membuat layangan itu tetap stabil melayang di angkasa luas. Berpikir
keras untuk tidak melukai anak-anak. Pengalaman pahit kurasakan yang memiliki
seorang papa begitu kejam. Papa tidak pernah memikirkan perasaan. Sesuka
hatinya menghukum. Tangannya mudah melayang memukul. Kami tak dapat melawan,
jika papa marah. Ia seperti kesetanan membabi buta memukuli. Ataukah dibuat
pemerintah sekolah kepribadian untuk orangtua cara mendidik dan mengurus anak.
Atau juga mentraining mereka dalam mengasuh anak. Aku rasa sudah banyak
seminar-seminar yang membahas cara mengenal pribadi dan mendidik anak. Tapi
dimanakah itu semua. Masih saja aku selalu mendengar berita tentang kekerasan
orangtua terhadap anak. Memang aku belum menikah apalagi memiliki seorang anak,
tapi aku sangat mengasihi anak-anak karena mereka lugu dan polos. Layaknya
kertas putih yang siap ditaburi oleh segala macam warna, yang akan menghiasi
dan membentuk warna itu menjadi sebuah gambar lukisan yang hidup dalam
kepribadiaan mereka. Aku selalu mengikuti perkembangan berita yang selalu ada
terselib sebuah berita tentang orangtua yang selalu menjadi monster untuk
anaknya sendiri.
Mereka yang
polos bagaikan sebatang bongkahan kayu, yang akan siap diukir dan dibentuk
menjadi sesuatu yang berguna. Dan bermanfaat bukan hanya untuk orangtuanya saja
tapi untuk dirinya sendiri dan orang lain. Membentuk seorang anak untuk lebih
berguna sesuai dengan karakter dan keinginan mereka masing-masing. Bukan mereka dijadikan mesin pencetak uang
serta memanfaatkan sifat kepolosan yang mereka miliki. Layaknya aku yang selalu
membuat design dengan tema dan konsep yang klien inginkan. Ukuran, kertas,
warna dan naik mesin apa yang layak untuk mencetak semua sesuai keinginan
mereka. Untuk dapat menghasilkan dan puas akan yang ia tuju. Seharusnya itupun
yang harus kita lakukan, kita harus memikirkan akan masa depan mereka melalui,
pendidkan, perhatian, kasihsayang, arahan dan bahkan nasehat-nasehat sebagai
bekal mereka nantinya. Aku akui anak-anak pada zaman
sekarang ini sangatlah jauh berbeda pada masa zaman kanak-kanak aku dulu. Aku
yang menikmati permainan tradisional. Beda sangat jauh dengan kondisi di era zaman
globalisasi modern seperti sekarang ini. Anak-anak pada zaman sekarang mereka dijejali oleh berbagai
macam permainan elktronik yang canggih. Terutama anak-anak yang memiliki orangtua dengan segudang
uang. Tanpa
memikirkan akan bagaimana nanti masa depan yang akan mereka jalani.
Dunia
anak-anak sangatlah jauh dari kebencian dan dendam, yang ada didalam diri
mereka hanyalah kegembiraan dan keceriaan saat bermain. Mereka bebas tanpa ada beban yang mereka pikirkan, hanya senyum
penuh keceriaan dilalui hari demi hari. Ketika ia dilukai dan tersakiti yang
dapat mereka lakukan hanyalah mengadu dan menangis. Serta menceritakan hal yang telah terjadi menimpa dirinya. Kepada
seseorang yang dapat mendengarkan penderitaan mereka dan dianggap sebagai
tempat pelindung. Karena itulah, mengapa aku menyukai dan
menyayangi anak-anak. Dengan kepolosan dan ketulusan yang ada
pada mereka, membuat aku menyayangi dan mencintai mereka.
Mereka
berlari kesana kemari sambil berkejar-kejaran bersama, tanpa mengenal apakah
itu bahaya yang ada di depan. Mereka tidak perduli dan tetap terus
bermain dengan keceriaan. Ketika bahaya itu menimpa. Mereka lakukan
hanyalah berlari sambil menangis tanpa ada rasa penyesalan, kembali bermain.
Terpancar diwajahnya suatu bentuk kebahagian yang dulupun aku pernah miliki.
Ya, saat aku seusia diri merekapun melakukan hal yang serupa. Anak-anak
memiliki sebuah pribadi yang sangat lembut dan tidak bisa dikerasi, mereka
hanya menginginkan kita mengerti apa yang mereka ingini. Banyak hal yang aku
pelajari dari sifat kepribadian anak. Mereka begitu bebas lepas hidup yang di
jalani. Sambil memperlihatkan mainan yang mereka
miliki. Tanpa memperdulikan barang mahal maupun barang murah. Berbeda dengan kita yang jauh diatas umur mereka, kita banyak memiliki
kebodohan dan ke konyolan. Bahkan tanpa kita sadari kita sudah melukai dan
dilukai seseorang. Pada akhirnya menimbulkan suatu sikap
pendendam dan berusaha membalas. Apa yang sudah dilakukan seseorang terhadap
kita bahkan sebaliknya.
Tak
urung niat mereka untuk pulang. Karena takut ketika mereka pulang akan dilarang
oleh orangtuanya kembali untuk bermain. Seperti keponakanku, ia asyik bermain
hingga lupa waktunya untuk makan ataupun mandi. Kakakku sering kali
marah- marah kepadaku. Karena aku memanjakan terlalu berlebihan, aku hanya
tersenyum dan berlalu pergi ketika kakakku sedang marah. Aku memang sangat
dekat pada anak-anak terutama keponakanku sendiri. Ia lebih merasa nyaman
berada didekatku dari pada mamanya. Anak-anak yang hatinya masih polos, tanpa
cacat tidak mengerti apalah artinya sebuah kemarahan dari orangtua. Yang hanya
mereka pikirkan bermain, makan, jajan, mandi lalu pulang dan tidur. Itulah
dunia mereka. Papa yang ringan tangan
memukul,menjadikan diriku seorang yang tangguh. Perlakuan papa terhadapku
membawa diriku mengasihi anak-anak.
***

kelinci99
ReplyDeleteTogel Online Terpercaya Dan Games Laiinnya Live Casino.
HOT PROMO NEW MEMBER FREECHIPS 5ribu !!
NEXT DEPOSIT 50ribu FREECHIPS 5RB !!
Ada Bagi2 Freechips Untuk New Member + Bonus Depositnya Loh ,
Yuk Daftarkan Sekarang Mumpung Ada Freechips Setiap Harinya
segera daftar dan bermain ya selain Togel ad juga Games Online Betting lain nya ,
yang bisa di mainkan dgn 1 userid saja .
yukk daftar di www.kelinci99.casino