Thursday, May 14, 2020

Sebuah Perintah



10.Sebuah Perintah
Aku menerima telepon dari Rayno sahabat sekaligus atasanku untuk menemui dirinya. Aku memanglah sahabat sekaligus karyawan yang diandalkan. Setibanya aku di restaurant dan menghampiri Rayno bersama dengan seorang wanita yang bukan istrinya. Sedikit tampak terkejut bercampur bingung, serta bertanya dalam hati. Siapakah wanita yang bersama Rayno?! Mamuca itu lagi dalam hatiku. Rayno langsung memperkenalkan wanita yang bernama Ain. Rayno meminta bantuanku untuk membuatkan sebuah design promosi. Pertanyaan bodoh mulai menyelinap dalam otakku. Apa hubungan ia dengan Rayno. Darimana ia mengenal wanita ini. Sedikitpun ia tidak menceritakan tentang dirinya padaku. Aku baru mengenalnya beberapa minggu belakangan ini. Kini sahabatkupun memperkenalkan wanita yang kukenal. Tidak ada kecurigaan sedikitpun aku terhadap Rayno. Wajar ia dikelilingi wanita-wanita cantik. Rayno adalah seorang pengusaha muda dan ia memiliki banyak partner kerja. Iya, salah satunya adalah wanita yang aku kenal. Aku ditugaskan untuk membuat design promosi untuk café yang akan launching. Sebuah bisnis kuliner yang akan dirintis oleh wanita tersebut. Dan aku ditunjuk sebagai penanggung jawab.
Rayno tidak mengetahui bahwa akupun sudah mengenal dirinya sebelum ia memperkenalkan aku kepada ibu muda cantik ini. Aku hanya diam dan memperhatikan Rayno yang asyik berbicara. Sementara makanan belum dihidangkan sama sekali diatas meja. Aku mengalihkan perhatianku dengan membaca menu yang telah tersedia. Sesekali pandangan mataku bertatapan dengan wanita yang berada dekat Rayno. Anak perempuan kecil inipun ikut hadir disini. Sepertinya anak ini senang melihat kehadiranku. Masih sama saja aku lihat ibu muda cantik ini, selalu  menengak botol minuman yang berisikan aroma tak sedap itu. Kertas dan pulpen untuk menuliskan menu yang aku pesan itu terjatuh. Rayno dan ibu muda cantik itu, dengan cepat pandangan mereka melihatku. Aku melemparkan senyum sambil meraih kertas dan pulpen yang terjatuh. Lagi-lagi aku dapati kertas itu sudah tertulis dengan sebuah kata “Ia menyukaimu”. Aku segera merobek kertas itu dan mengantungkannya dalam jaket kusamku. Mereka masih asyik saja berbicara tanpa menghiraukan diriku yang ada. Serius sekali pembicaraan mereka, sampai mereka lupa untuk memesan makanan. Aku langsung saja memanggil pelayan restaurant untuk mengambil menu pesananku. Rayno menatapku seperti harimau yang kelaparan.
“ Oh…ya, gw ampe lupa. Loe udah pesenin makanan buat gw juga?”         Rayno, akhirnya tersadar. Bahwa ia belum sama sekali memesan menu makanan untuk dirinya. Aku menggelengkan kepala menjawab pertanyaannya. Rayno melempar tissue tepat ke mukaku. Aku membalas tissue yang ia lemparkan.
“Hahaa…dasar, loe. Dari dulu kaga berubah. Loe kalo udah laper kaga ingat makhluk di bumi.”
 Aku tersenyum santai sambil membuka media social di handphoneku. Rayno sangat mengenali karakterku, saat perutku sudah berteriak. Tak sedikitpun aku dapat melihat makhluk-makhluk yang ada di sekitarku. Termasuk Rayno dan wanita yang ada didekatnya itu. Akhirnya mereka meninggalkan obrolan serius dan beralih ke menu makanan yang telah tersedia.
“Ney. Gw udah jelasin, kalo loe yang bakalan ngurus semua.”
 Diam-diam aku mencuri pandanganku ke wanita yang ada di depanku. Pelayan restaurantpun berlalu pergi dari hadapan kami. Anak perempuan kecil ini mendekatiku. Ia memperhatikan diriku yang asyik melihat-lihat gambar dari handphone. Sebagai bahan refrensiku untuk mengarap design yang akan ditugaskan oleh Rayno.
 “Menurut loe. Nama Café apa yang cocok?”
Rayno meminta pendapatku nama apa untuk café yang akan dibuka. Konsep semua ada dalam tangaku serta nama yang akan dijadikan untuk bisnis tersebut. Aku masih belum menjawab atas pertanyaan yang baru saja ia sampaikan. Sambil berpaling kepada wanita yang aku kenal. Tak lama kemudian makanan yang kami pesanpun, akhirnya datang juga. Aku menganggukan kepala mendengar penjelasannya. Sambil mendengarkan tugas yang diberikan Rayno padaku.
“Ngedate Café Echa.”
Nama yang baru saja aku sebut spontan terucap begitu saja. Ibu muda cantik itu menyirami makanannya dengan bubuk garam. Aku memperhatikan dirinya yang menaburi bubuk garam begitu banyak ke sup yang ia pesan.
“Sudah cukup garamnya.” Aku melarang dirinya. Melihat hal itu mata Rayno melotot heran. Aku memang pernah melarang mama Rayno menaburkan garam ke makanannya. Kinipun aku mengulangi hal yang sama pada wanita yang ada didekatnya.
“Haahaaa…kamu, Ney. Semua orang kamu larang untuk makan yang asin. Aku jadi kangen sama mama, lihat ulahmu ini.”
            Aku gugup dengan ledekan Rayno. Ibu muda cantik yang ada didekatnya pun, langsung menghentikan garam yang ia taburi itu.
“Bagus namanya. Tolong jelaskan. Kenapa pakai nama itu.”
Rayno setuju aku memberikan nama itu untuk café yang akan launching. Aku harus presentase di meja makan. Aku menceritakan masakan kuliner ini. Dengan disuguhkan berbagai macam makanan dan kue. Tujuan nama ini, semua orang bisa berkencang dengan menyimpan rekaman. Bisa juga untuk acara ulang tahun dan pernikahan. Café ini tidak memandang usia. Siapapun bisa berkencan disini.
“Maksudnya rekaman?”
Rayno tampak bingung dan belum mengerti apa penjelasanku. Perlahan-lahan aku  memberi gambaran mengenai café kuliner tersebut. Rekaman yang aku maksud adalah bonus untuk mereka yang datang sebagai data pribadi dan bisa dijadikan bisnis. Tujuannya mereka mendapat sebuah kenangan cantik yang kita berikan. Ngedat Café Echa bukan hanya sebuah café. Tapi sebagai café yang merekam kenangan dalam suasana apapun yang terjadi. Termasuk kencan bersama orangtuanya sendiri, dengan merayakan kebahagian yang hadir dalam hidup mereka.
Akhirnya Rayno mengerti kenapa alasanku memberi nama Ngedate Café Echa. Aku juga tidak mengerti. Kenapa aku memberikan nama itu dan menjelaskannya dengan sangat begitu lancar. Aku dan anak perempuan kecil ini tak dapat berbuat apa-apa. Kami hanya memperhatikan dirinya yang menikmati botol ke sayangan, yang selalu ia bawa kemana-mana. Aku hanya berpikir mengenai tulisan tempo lalu. Bahwa anak perempuan kecil ini mengingatkanku untuk tidak memberikan makanan padanya terlalu asin. Aku hanya menyimak pembicaraan dan penjelasaan Rayno, sambil memperhatikan sosok anak kecil yang berada disamping wanita yang bernama Ain tersebut. Setelah beberapa lama kemudian pembicaraan mengenai  usaha kuliner yang akan dijalani oleh Ainpun selesai dibahas oleh Rayno. Dan akupun menyetujui serta siap membantu untuk masalah design. 
***

1 comment:

  1. kelinci99
    Togel Online Terpercaya Dan Games Laiinnya Live Casino.
    HOT PROMO NEW MEMBER FREECHIPS 5ribu !!
    NEXT DEPOSIT 50ribu FREECHIPS 5RB !!
    Ada Bagi2 Freechips Untuk New Member + Bonus Depositnya Loh ,
    Yuk Daftarkan Sekarang Mumpung Ada Freechips Setiap Harinya
    segera daftar dan bermain ya selain Togel ad juga Games Online Betting lain nya ,
    yang bisa di mainkan dgn 1 userid saja .
    yukk daftar di www.kelinci99.casino

    ReplyDelete