Sunday, May 10, 2020

02C.Tragedy Extrem



02C.Tragedy Extrem
Namaku Ney, entah mengapa orang tuaku memberi nama singkat hanya tiga huruf. Sebuah nama yang tak ada arti tapi penuh makna. Aku yang terlahir dalam sebuah kelurga yang keras dan memiliki seorang papa yang cukup ringan tangan terhadap anak dan istirnya. Papa meninggalkan kami semua tanpa ada kabar berita. Datang dan pergi begitu saja tanpa memikirkan bagaimana kami makan, biaya uang sekolah. Sementara mama berjuang mencari uang hanya untuk memenuhi kebutuhan aku dan ketiga kakakku. Mama mencari nafkah dengan menjahit baju. Matanya hanya terkejap sesaat. Malam hari bergelut dengan kain-kain yang diambil untuk diselesaikan, hingga menghasilkan uang. Mamaku adalah wanita yang terhebat dan terbaik untukku. Ia berjuang seorang diri untuk membesarkan kami berempat. Dan dilakukannya tanpa ada seorang suami yang entah dimana anta beranta rimbanya berada. Mama selalu menanamkan mengenai prihal mengampuni, semua kesalahan-kesalahan yang papa perbuat terhadap kami. Dengan sebuah alasan yang kuat “Tanpa papa, kalian tidak akan ada”. Aku hanya bisa terdiam ketika papa marah dan selalu memukul mama dihadapanku dan kakak-kakak.
Teringat olehku sebuah adegan extreme yang aku saksikan. Ketika kami berada di dalam sebuah kotak berjalan dengan putaran billing yang menentukan kotak ini berhenti. Mama, aku dan ketiga kakakku berada di dalamnya. Begitu cepatnya gerakan papa menyambar mama. Papa membuka pintu kotak tersebut, dan ingin mendorong mama keluar dari kotak berjalan yang melaju cepat begitu saja. Dengan spontan kami berteriak. Mamaaaaaaaaaa. Bagaikan paduan suara yang tak beraturan dan tanpa arah intonasi nada yang benar. Papa langsung menarik kembali mama ke dalam kotak. Yang melacu melesat, bagaikan peluru meluncur keluar dari sarang kokangan senapan. Siap mendarat kemanapun ia inginkan. Ketika hal itu terjadi pada malam yang sangat menakutkan untukku, entah apakah perasaan yang sama ada dalam benak ketiga kakakkupun aku tak tahu. Ruas jalan bergerak cepat. Dengan diterangi oleh lampu-lampu di pinggir trotoar jalan, malam yang sepi dan kotak-kotak berodapun meramaikan suasana malam yang mencekam. Untuk aku dan ketiga kakakku, melihat apa yang telah diperbuat oleh papa terhadap mama dimalam itu. Catatan sejarah dengan pristiwa penting dalam hidupku, hingga kini tetap ada dipelupuk mataku yang paling dalam sekalipun. Mama adalah sosok peri yang dikirimkan Tuhan untuk menjaga kami.
Papa cukup memiliki posisi yang terpandang di kantor pemerintahan. Opung Doliku adalah Dirjen Anggaran di Negeri ini. Dengan kemewahaan dan kekuasaan yang ia miliki. Papa lupa dan dibutakan oleh nafsu yang menjerat hidupnya. Papa mulai memperlakukan mama tidak seperti seorang istri. Mama selalu disiksa dengan segala macam pukulan. Sungguh kejam kelakuan papa. Rumah bukannya menjadi tempat bersemainya kasih sayang diantara kami, tetapi telah berubah menjadi ajang penyiksaan yang tidak terduga sama sekali. Belai kasih sayang seolah hilang disapu angin. Cumbu mesra pun berlalu tiada arti. Hidup benar-benar seperti sebuah impian.  Aku tak mengira semua ini bisa terjadi, padahal tadinya aku mengira papa adalah lelaki yang penuh perhatian dan kasih sayang.  Aneh, mengapa papaku bisa berubah 180 derajat? Apakah yang menjadi penyebab semua itu? Aku tak habis pikir dan tak bisa kumengerti dengan perilaku papa yang bagaikan orang kesetanan. Ia seakan menjadi monster di rumah. Ketika mama mencoba protes atas sikap dan tindakannya, ia  malah balik menyerang dengan ucapan yang sangat tidak pantas. Papa monster yang paling aku benci di muka bumi ini. Kekejamannya terhadap mama. Menabur benci dan dendam pada diriku.
“Pokoknya kamu harus tunduk sama aku. Di rumah ini yang berkuasa adalah aku. Kamu jangan berbuat sesuatu yang tidak aku sukai.” katanya. Aku tak habis pikir dengan keadaan papa yang berubah. Mengapa dulu papa tidak pernah marah atau membentak, namun sekarang mama sering disiksa.
“Diam! Kamu jangan banyak bicara. Pokoknya kalau kamu membantah, aku akan bertindak lebih kasar lagi!” Matanya melotot dan tangannya langsung menampar ke wajah mama. Mama meringgis kesakitan. Bukan kali ini saja, dia menampar, sering sekali ia menyakiti. Mama berusaha  bertahan dengan sikap suami yang keterlaluan itu. Mama hidup bagaikan terpenjara. Ia hanya terdiam, tidak bisa berkata apa-apa. Papa memang tidak mau kalah dan akan terus nyeroscos bicara kalau mama melawan. Ujung-ujungnya mama akan ditampar atau disiksa dengan kayu. 
“Aku sudah katakan, kamu jangan ke rumah tetangga, buat apa  ke sana, kamu diam saja di rumah.”
“Tapi ada tetangga yang sakit, masa kita tidak menengok?”
Mama tertunduk dan menggelengkan kepala, tidak mengira  sikap papa seperti itu. Mama sendiri kerapkali melawan kalau sudah diperlakukan kasar, namun tak berdaya menghadapi semua itu. Badan mama yang terlihat sering ada bekas pukulan atau siksaan. Mama masih bertahan dan berharap papa berubah kelakukannya. Tetapi harapan dan keinginan itu hanyalah mimpi belaka. Aku merasa tidak nyaman berada di rumah, karena sikapnya yang bagaikan musuh. Aku sendiri rasanya berada di depan harimau bila berhadapan dengan dia. Teringat lagi olehku kejadian buruk itu. Papa membawa setumpuk pakaian mama. Lalu dia pergi ke dapur untuk mengambil minyak tanah. Meski mama menangis dan memohon agar tidak dibakar baju-bajunya, namun usaha itu tidak ada artinya, sia-sia belaka. Dia melemparkan baju-baju itu ke halaman rumah. Beberapa tetangga melihat perilaku papa, yang memang sudah dimaklumi. Minyak tanah satu jerigen ditumpahkan ke baju-baju mama, lalu dia mengambil korek api dan langsung membakarnya. Tanpa sedikit pun ada rasa kasihan kepada yang meminta agar jangan dibakar, namun dia seperti tuli dan keras hati. Mama hanya menangis, ketika melihat kobaran api sudah menyala di halaman rumah. Baju-baju itu musnah sudah dalam sekejap.
Sejak kejadian itu, aku menyimpan kebencian dan dendam yang mendalam dalam kalbuku. Penderitaan itu tak lagi dapat dibendung oleh kesabaran. Diam-diam mama pergi ke kantor papa, menemui mertuanya. Mama meminta papa dikeluarkan atau diberhentikan dari pekerjaannya. Mama menceritakan perlakuan papa yang selalu membentak-bentak seraya tangannya melayang kearah wajah mama.
“Aku tak tahan lagi, Amang. Cukup sabar aku disiksanya. Aku bertahan hanya untuk anak-anak.” Keluh mama pada Opung di ruang kerjanya. Opungku tahu juga akan keadaan mama seringkali disiksa. Tubuh mama yang terlihat sering ada bekas pukulan. Opungkupun telah berulang-ulang kali menasehati papa. Sayangnya omongan daripada orangtuanya tak dianggap. Opung sudah putus asa menghadapi sikap papa yang sudah diluar batas. Papa seperti monster yang ingin menyatap siapa saja yang menghalanginya.
“Bukan hakku untuk memecatnya. Posisinya saat ini sedang sekolah untuk kenaikan jabatan.” Tapi sangat disayangkan Opungkupun tak mampu memecat papa berhenti. Kepala Personaliapun tak mampu. Rasa putusasa terpancar diraut wajahnya. Mama terus berisi keras meminta untuk Opungku memberhentikan papa. Mama tidak mampu menghadapi tingkah laku yang diperbuat papa terhadapnya.
“Aku mengerti apa yang kau alami. Sudah ku ingatkan pula. Tapi memang ia anak kurang ajar. Omongankupun tak dianggapnya.”
Akhirnya Opungku meminta mama menghadap ke Menteri Keuangan. Untuk menceritakan serta menyampaikan keinginan untuk papaku berhenti bekerja. Dengan secarik kertas yang diberikan oleh Opung kepada mama untuk menghadap. Pada akhirnya mama menceritakan semua yang menimpa di dalam rumah tangganya. Harapan mama besar yang diinginkan untuk papa tak dapat bekerja. Memang keputusan itu tidaklah langsung dipenuhi. Semua melalui proses yang sangat lama. Mama memperjuangkan haknya sebagai seorang ibu dan istri yang selalu mendapatkan siksaan fisik. Mamaku berjuang untuk kami dan ingin melepaskan diri dari monster kejam yang aku benci. Perlakuan papa tak layak dianggap sebagai orangtua. Aku ingin sekali membalas atas semua perlakuan kasar papa terhadap mama. Tapi aku belum mampu. Usiaku masih terlalu dini menghajar monster itu.
Pada tahun 1983 akhirnya keluarlah “PP 10” yang mempersulit pegawai negeri, sipil serta militer untuk berpoligami. Perjuangan seorang ibu yang tersiksa terpenuhi. Mamaku adalah pejuang bagi kami. Ia mempertahankan haknya dan menjadi seorang pelopor untuk para istri-istri. Papa dipecat dari kantor Departement Keuangan. Tak ada lagi bahu yang terangkat serta busung dada yang angkuh terlihat. Papa tidak diakui sebagai seorang anak dari Direktur Jendral Anggaran. Dengan semua apa yang telah terjadi pada papa. Bukanlah membuat ia berubah. Papa semakin gila dan membabi buta menyiksa mama. Papa memukul, menendang serta membanting mama tanpa ada rasa kasihan. Kami berempat hanya dapat menagis ketakutan melihat perlakuan papa.
“Pa, sudah jangan siksa Mama!” teriak abang seraya memeluk mamaku yang ketakutan. Aku dan kakak-kakakku menghampiri dengan tangis yang tidak henti-hentinya. Kami sudah tahu kalau papa akan bertindak diluar perikemanusiaan, maka kami semua segera melindungi mama. Aku begitu geram melihat perlakuan papa. Tak dapat tangan mungil ini untuk membalas. Mamaku wanita yang terhebat. Ia kuat dan tegar menghadapi penderitaan yang ia lalui. Ia peri penyelamat untuk kami dari monster yang menggerikan. Tanpa mengeluh ia menjalani takdir yang sudah ditulis dalam hidupnya. Kami semua selalu menyayangi mama dan menjadi penjaga mama dari kejahatan papa. Papa adalah seorang moster kejam dimataku. Tak ada sedikitpun gambar indah yang ia lukiskan pada kami semua. Terutama aku yang sangat membeci papa. Dendam luka seorang anak yang tak terhapuskan, masih berbekas dihati.
Goresan-goresan luka yang ada pada mama. Menjadi benih kebencian padaku terhadap papa. Aku selalu ingin menjaga mama selamanya. Takkan kubiarkan satu makhlukpun di muka bumi ini yang menyakitinya. Papa tak pernah membuat kami tersenyum. Ia tak pernah memberikan kebahagian pada kami. Hanya tangisan, luka perih yang tergores dalam, tak terhapuskan bekas itu. Dendam, kebencian, tagisan, penderitaan selalu ia gambarkan pada kami anak-anaknya. Ia biarkan kami menyaksikan siksaan, hantaman yang bersarang di tubuh dan di wajah mama.
Sejak alm papa tidak ada, aku dan mama hidup berdua sampai detik Ini. Aku Pergi dari rumah mama dan tinggal sementara di rumah kakakku. Bukan karena ada pertengkaran diantara kami. Kantor mengirim aku bertugas di kota kecil ini. Dan seperti sebuah rencana yang baik dibuat oleh penguasa langit, yang berperan sebagai sutradara dalam skenario kehidupan. Aku. Ya, akulah tokoh didalam sebuah adegan drama panggung sandiwara. Harusku perankan dengan amat sangat baik. Mama selalu mengajarkan kami dengan doktrin ke sabaran dan suka menolong orang lain. Masih tersimpan dalam otak cerdasku perkataan mama. “Menyenangkan hati seseorang itu sangatlah sulit. Tapi melukai hati seseorang sangatlah mudah. Kalian semua harus ingat itu.” Mama menekankan perkataan yang ia ucapkan kepada anak-anaknya.
Kebaikan yang tanpa imbalan atau menuntut, itu yang selalu mamaku ajarkan. Hebatnya hati mama. Aku sanggat bangga memiliki seorang mama seperti dirinya. Hati yang selalu memiliki segudang pengampunan, kesabaran serta penyayang. Membuat aku tak ingin jauh-jauh dari sisinya. Tegar menghadapi badai topan yang menghantam kehidupannya membesarkan kami. Seiring jalannya waktu ketiga anak mama telah keluar dan membangun keluarga kecil mereka. Aku yang masih senang bersenang senang dalam kesendirianku untuk selalu berada disisi mama. Aku sangat bersyukur diberi kesempatan untuk bisa mengurus mama semasa tuanya. Kehidupan yang tanpa dapat dimengerti namun harus tetaplah dijalani. Karena hidup banyak memiliki arti ketika kita dapat memaknai hidup secara bijak. Mamaku wanita yang terhebat dimuka bumi ini, meskipun ia selalu dilukai oleh suaminya dengan bekas lembam disekujur tubuh.
Papa meninggal ketika usiaku masih remaja. Papa kembali kepada kami dalam kondisi sakit-sakitan dan tanpa memiliki harta benda sedikitpun yang ia bawa untuk kami. Mama yang memiliki hati mulia mau menerima papa kembali, tak ada terlintas dalam benaknya untuk menolak berkumpul kepada kami semua. Papa tidak pernah menyadari akan sikap buruk perlakuannya. Waktu tidak dapat memperbaiki kerusakan hubungan kami. Waktu hanyalah membuat kenangan tentang kesalahan papa menjadi agak kabur. Hubungan yang telah rusak itu tidaklah lagi dapat dipulihkan, sampai pada akhirnya papa benar-benar pergi meninggalkan kami semua. Dan meninggalkan dunia ini dengan sejuta luka-luka yang masih tergores dalam hati kami.
***

1 comment:

  1. kelinci99
    Togel Online Terpercaya Dan Games Laiinnya Live Casino.
    HOT PROMO NEW MEMBER FREECHIPS 5ribu !!
    NEXT DEPOSIT 50ribu FREECHIPS 5RB !!
    Ada Bagi2 Freechips Untuk New Member + Bonus Depositnya Loh ,
    Yuk Daftarkan Sekarang Mumpung Ada Freechips Setiap Harinya
    segera daftar dan bermain ya selain Togel ad juga Games Online Betting lain nya ,
    yang bisa di mainkan dgn 1 userid saja .
    yukk daftar di www.kelinci99.casino

    ReplyDelete