02C.Tragedy Extrem
Namaku
Ney, entah mengapa orang tuaku memberi nama singkat hanya tiga huruf. Sebuah
nama yang tak ada arti tapi penuh makna. Aku yang terlahir
dalam sebuah kelurga yang keras dan memiliki seorang papa yang cukup ringan
tangan terhadap anak dan istirnya. Papa meninggalkan kami semua tanpa ada kabar
berita. Datang dan pergi begitu saja tanpa memikirkan bagaimana kami makan,
biaya uang sekolah. Sementara mama berjuang mencari uang hanya untuk memenuhi
kebutuhan aku dan ketiga kakakku. Mama mencari nafkah dengan menjahit baju.
Matanya hanya terkejap sesaat. Malam hari bergelut dengan kain-kain yang
diambil untuk diselesaikan, hingga menghasilkan uang. Mamaku adalah wanita yang
terhebat dan terbaik untukku. Ia berjuang seorang diri untuk membesarkan kami
berempat. Dan dilakukannya tanpa ada seorang suami yang entah dimana anta
beranta rimbanya berada. Mama selalu menanamkan mengenai prihal mengampuni,
semua kesalahan-kesalahan yang papa perbuat terhadap kami. Dengan sebuah alasan
yang kuat “Tanpa papa, kalian tidak akan ada”. Aku hanya bisa terdiam ketika
papa marah dan selalu memukul mama dihadapanku dan kakak-kakak.
Teringat
olehku sebuah adegan extreme yang aku saksikan. Ketika kami berada di dalam
sebuah kotak berjalan dengan putaran billing yang menentukan kotak ini
berhenti. Mama, aku dan ketiga kakakku berada di dalamnya. Begitu cepatnya
gerakan papa menyambar mama. Papa membuka pintu kotak tersebut, dan ingin
mendorong mama keluar dari kotak berjalan yang melaju cepat begitu saja. Dengan
spontan kami berteriak. Mamaaaaaaaaaa. Bagaikan paduan suara yang tak beraturan
dan tanpa arah intonasi nada yang benar. Papa langsung menarik kembali mama ke
dalam kotak. Yang melacu melesat, bagaikan peluru meluncur keluar dari sarang
kokangan senapan. Siap mendarat kemanapun ia inginkan. Ketika hal itu terjadi
pada malam yang sangat menakutkan untukku, entah apakah perasaan yang sama ada
dalam benak ketiga kakakkupun aku tak tahu. Ruas jalan bergerak cepat. Dengan
diterangi oleh lampu-lampu di pinggir trotoar jalan, malam yang sepi dan
kotak-kotak berodapun meramaikan suasana malam yang mencekam. Untuk aku dan
ketiga kakakku, melihat apa yang telah diperbuat oleh papa terhadap mama
dimalam itu. Catatan sejarah dengan pristiwa penting dalam hidupku, hingga kini
tetap ada dipelupuk mataku yang paling dalam sekalipun. Mama adalah sosok peri
yang dikirimkan Tuhan untuk menjaga kami.
Papa
cukup memiliki posisi yang terpandang di kantor pemerintahan. Opung Doliku
adalah Dirjen Anggaran di Negeri ini. Dengan kemewahaan dan kekuasaan yang ia
miliki. Papa lupa dan dibutakan oleh nafsu yang menjerat hidupnya. Papa mulai
memperlakukan mama tidak seperti seorang istri. Mama selalu disiksa dengan
segala macam pukulan. Sungguh kejam
kelakuan papa. Rumah bukannya menjadi tempat bersemainya kasih sayang
diantara kami, tetapi telah berubah menjadi ajang penyiksaan yang tidak terduga
sama sekali. Belai kasih sayang seolah hilang disapu angin. Cumbu mesra pun
berlalu tiada arti. Hidup benar-benar seperti sebuah impian. Aku tak
mengira semua ini bisa terjadi, padahal tadinya aku mengira papa adalah lelaki
yang penuh perhatian dan kasih sayang.
Aneh, mengapa papaku bisa berubah 180 derajat? Apakah yang menjadi
penyebab semua itu? Aku tak habis pikir dan tak bisa kumengerti dengan perilaku
papa yang bagaikan orang kesetanan. Ia seakan menjadi monster di rumah. Ketika
mama mencoba protes atas sikap dan tindakannya, ia malah balik menyerang
dengan ucapan yang sangat tidak pantas. Papa monster yang paling aku benci di
muka bumi ini. Kekejamannya terhadap mama. Menabur benci dan dendam pada
diriku.
“Pokoknya kamu harus tunduk sama aku. Di rumah ini yang
berkuasa adalah aku. Kamu jangan berbuat sesuatu yang tidak aku sukai.” katanya.
Aku tak habis pikir dengan keadaan papa yang berubah. Mengapa dulu papa tidak
pernah marah atau membentak, namun sekarang mama sering disiksa.
“Diam! Kamu jangan banyak bicara. Pokoknya kalau kamu
membantah, aku akan bertindak lebih kasar lagi!” Matanya melotot dan tangannya
langsung menampar ke wajah mama. Mama meringgis kesakitan. Bukan kali ini saja,
dia menampar, sering sekali ia menyakiti. Mama berusaha bertahan dengan
sikap suami yang keterlaluan itu. Mama hidup bagaikan terpenjara. Ia hanya terdiam,
tidak bisa berkata apa-apa. Papa memang tidak mau kalah dan akan terus
nyeroscos bicara kalau mama melawan. Ujung-ujungnya mama akan ditampar atau
disiksa dengan kayu.
“Aku sudah katakan, kamu jangan ke rumah tetangga, buat
apa ke sana, kamu diam saja di rumah.”
“Tapi ada tetangga yang sakit, masa kita tidak menengok?”
Mama tertunduk dan menggelengkan kepala, tidak mengira
sikap papa seperti itu. Mama sendiri kerapkali melawan kalau sudah diperlakukan
kasar, namun tak berdaya menghadapi semua itu. Badan mama yang terlihat sering
ada bekas pukulan atau siksaan. Mama masih bertahan dan berharap papa berubah
kelakukannya. Tetapi harapan dan keinginan itu hanyalah mimpi belaka. Aku
merasa tidak nyaman berada di rumah, karena sikapnya yang bagaikan musuh. Aku
sendiri rasanya berada di depan harimau bila berhadapan dengan dia. Teringat
lagi olehku kejadian buruk itu. Papa membawa setumpuk pakaian mama. Lalu dia
pergi ke dapur untuk mengambil minyak tanah. Meski mama menangis dan memohon
agar tidak dibakar baju-bajunya, namun usaha itu tidak ada artinya, sia-sia
belaka. Dia melemparkan baju-baju itu ke halaman rumah. Beberapa tetangga
melihat perilaku papa, yang memang sudah dimaklumi. Minyak tanah satu jerigen
ditumpahkan ke baju-baju mama, lalu dia mengambil korek api dan langsung
membakarnya. Tanpa sedikit pun ada rasa kasihan kepada yang meminta agar jangan
dibakar, namun dia seperti tuli dan keras hati. Mama hanya menangis, ketika
melihat kobaran api sudah menyala di halaman rumah. Baju-baju itu musnah sudah
dalam sekejap.
Sejak kejadian itu, aku menyimpan kebencian dan dendam yang
mendalam dalam kalbuku. Penderitaan itu tak lagi dapat dibendung oleh
kesabaran. Diam-diam mama pergi ke kantor papa, menemui mertuanya. Mama meminta
papa dikeluarkan atau diberhentikan dari pekerjaannya. Mama menceritakan perlakuan papa yang
selalu
membentak-bentak seraya tangannya melayang kearah wajah mama.
“Aku tak tahan lagi, Amang. Cukup sabar aku disiksanya. Aku
bertahan hanya untuk anak-anak.” Keluh mama pada Opung di ruang kerjanya.
Opungku tahu juga akan keadaan mama seringkali disiksa. Tubuh mama yang
terlihat sering ada bekas pukulan. Opungkupun telah berulang-ulang kali
menasehati papa. Sayangnya omongan daripada orangtuanya tak dianggap. Opung
sudah putus asa menghadapi sikap papa yang sudah diluar batas. Papa seperti
monster yang ingin menyatap siapa saja yang menghalanginya.
“Bukan hakku untuk memecatnya. Posisinya saat ini sedang
sekolah untuk kenaikan jabatan.” Tapi sangat disayangkan Opungkupun tak mampu memecat
papa berhenti. Kepala Personaliapun tak mampu. Rasa putusasa terpancar diraut
wajahnya. Mama terus berisi keras meminta untuk Opungku memberhentikan papa.
Mama tidak mampu menghadapi tingkah laku yang diperbuat papa terhadapnya.
“Aku mengerti apa yang kau alami. Sudah ku ingatkan pula.
Tapi memang ia anak kurang ajar. Omongankupun tak dianggapnya.”
Akhirnya Opungku meminta mama menghadap ke Menteri Keuangan.
Untuk menceritakan serta menyampaikan keinginan untuk papaku berhenti bekerja.
Dengan secarik kertas yang diberikan oleh Opung kepada mama untuk menghadap.
Pada akhirnya mama menceritakan semua yang menimpa di dalam rumah tangganya.
Harapan mama besar yang diinginkan untuk papa tak dapat bekerja. Memang
keputusan itu tidaklah langsung dipenuhi. Semua melalui proses yang sangat
lama. Mama memperjuangkan haknya sebagai seorang ibu dan istri yang selalu
mendapatkan siksaan fisik. Mamaku berjuang untuk kami dan ingin melepaskan diri
dari monster kejam yang aku benci. Perlakuan papa tak layak dianggap sebagai
orangtua. Aku ingin sekali membalas atas semua perlakuan kasar papa terhadap
mama. Tapi aku belum mampu. Usiaku masih terlalu dini menghajar monster itu.
Pada tahun 1983 akhirnya keluarlah “PP 10” yang mempersulit
pegawai negeri, sipil serta militer untuk berpoligami. Perjuangan seorang ibu
yang tersiksa terpenuhi. Mamaku adalah pejuang bagi kami. Ia mempertahankan
haknya dan menjadi seorang pelopor untuk para istri-istri. Papa dipecat dari
kantor Departement Keuangan. Tak ada lagi bahu yang terangkat serta busung dada
yang angkuh terlihat. Papa tidak diakui sebagai seorang anak dari Direktur Jendral Anggaran. Dengan semua
apa yang telah terjadi pada papa. Bukanlah membuat ia berubah. Papa semakin
gila dan membabi buta menyiksa mama. Papa memukul, menendang serta membanting
mama tanpa ada rasa kasihan. Kami berempat hanya dapat menagis ketakutan
melihat perlakuan papa.
“Pa, sudah jangan siksa Mama!” teriak abang seraya memeluk
mamaku yang ketakutan. Aku dan kakak-kakakku menghampiri dengan tangis yang
tidak henti-hentinya. Kami sudah tahu kalau papa akan bertindak diluar
perikemanusiaan, maka kami semua segera melindungi mama. Aku begitu geram
melihat perlakuan papa. Tak dapat tangan mungil ini untuk membalas. Mamaku
wanita yang terhebat. Ia kuat dan tegar menghadapi penderitaan yang ia lalui.
Ia peri penyelamat untuk kami dari monster yang menggerikan. Tanpa mengeluh ia
menjalani takdir yang sudah ditulis dalam hidupnya. Kami semua selalu
menyayangi mama dan menjadi penjaga mama dari kejahatan papa. Papa adalah
seorang moster kejam dimataku. Tak ada sedikitpun gambar indah yang ia lukiskan
pada kami semua. Terutama aku yang sangat membeci papa. Dendam luka seorang
anak yang tak terhapuskan, masih berbekas dihati.
Goresan-goresan
luka yang ada pada mama. Menjadi benih kebencian padaku terhadap papa. Aku
selalu ingin menjaga mama selamanya. Takkan kubiarkan satu makhlukpun di muka
bumi ini yang menyakitinya. Papa tak pernah membuat kami tersenyum. Ia tak
pernah memberikan kebahagian pada kami. Hanya tangisan, luka perih yang
tergores dalam, tak terhapuskan bekas itu. Dendam, kebencian, tagisan,
penderitaan selalu ia gambarkan pada kami anak-anaknya. Ia biarkan kami
menyaksikan siksaan, hantaman yang bersarang di tubuh dan di wajah mama.
Sejak
alm papa tidak ada, aku dan mama hidup berdua sampai detik Ini. Aku Pergi dari
rumah mama dan tinggal sementara di rumah kakakku. Bukan karena ada
pertengkaran diantara kami. Kantor mengirim aku bertugas di kota kecil ini. Dan
seperti sebuah rencana yang baik dibuat oleh penguasa langit, yang berperan
sebagai sutradara dalam skenario kehidupan. Aku. Ya, akulah tokoh didalam
sebuah adegan drama panggung sandiwara. Harusku perankan dengan amat sangat
baik. Mama selalu mengajarkan kami dengan doktrin ke sabaran dan suka menolong
orang lain. Masih tersimpan dalam otak cerdasku perkataan mama. “Menyenangkan
hati seseorang itu sangatlah sulit. Tapi melukai hati seseorang sangatlah
mudah. Kalian semua harus ingat itu.” Mama menekankan perkataan yang ia ucapkan
kepada anak-anaknya.
Kebaikan
yang tanpa imbalan atau menuntut, itu yang selalu mamaku ajarkan. Hebatnya hati
mama. Aku sanggat bangga memiliki seorang mama seperti dirinya. Hati yang
selalu memiliki segudang pengampunan, kesabaran serta penyayang. Membuat aku
tak ingin jauh-jauh dari sisinya. Tegar menghadapi badai topan yang menghantam
kehidupannya membesarkan kami. Seiring jalannya waktu ketiga anak mama telah
keluar dan membangun keluarga kecil mereka. Aku yang masih senang bersenang
senang dalam kesendirianku untuk selalu berada disisi mama. Aku sangat
bersyukur diberi kesempatan untuk bisa mengurus mama semasa tuanya. Kehidupan
yang tanpa dapat dimengerti namun harus tetaplah dijalani. Karena hidup banyak
memiliki arti ketika kita dapat memaknai hidup secara bijak. Mamaku wanita yang
terhebat dimuka bumi ini, meskipun ia selalu dilukai oleh suaminya dengan bekas
lembam disekujur tubuh.
Papa
meninggal ketika usiaku masih remaja. Papa kembali kepada kami dalam kondisi
sakit-sakitan dan tanpa memiliki harta benda sedikitpun yang ia bawa untuk
kami. Mama yang memiliki hati mulia mau menerima papa kembali, tak ada
terlintas dalam benaknya untuk menolak berkumpul kepada kami semua. Papa tidak
pernah menyadari akan sikap buruk perlakuannya. Waktu tidak dapat memperbaiki
kerusakan hubungan kami. Waktu hanyalah membuat kenangan tentang kesalahan papa
menjadi agak kabur. Hubungan yang telah rusak itu tidaklah lagi dapat
dipulihkan, sampai pada akhirnya papa benar-benar pergi meninggalkan kami
semua. Dan meninggalkan dunia ini dengan sejuta luka-luka yang masih tergores
dalam hati kami.
***

kelinci99
ReplyDeleteTogel Online Terpercaya Dan Games Laiinnya Live Casino.
HOT PROMO NEW MEMBER FREECHIPS 5ribu !!
NEXT DEPOSIT 50ribu FREECHIPS 5RB !!
Ada Bagi2 Freechips Untuk New Member + Bonus Depositnya Loh ,
Yuk Daftarkan Sekarang Mumpung Ada Freechips Setiap Harinya
segera daftar dan bermain ya selain Togel ad juga Games Online Betting lain nya ,
yang bisa di mainkan dgn 1 userid saja .
yukk daftar di www.kelinci99.casino