Thursday, May 14, 2020

Kecemburuanku



06. Kecemburuanku
Siang ini tampak langit begitu cerah, awan diatas berkejar kejaran menghiasi keindahan langit. Terlihat oleh mata kameraku seorang anak yang sedang asyik menikmati es yang berada di dalam kantung plastic dan disisi lainnya ada sebuah karung kumal. Ia berteduh dari teriknya matahari dan menyederkan tubuhnya ke salah satu pohon yang berdiri kokoh. Terlihat dari wajahnya, begitu sangat kelelahan mencari barang-barang bekas untuk dapat dikilo. Tak lama kemudian seseorang anak datang menghampiri. Seorang kakak bersama adik kecilnya, menikmati seruputan es. Senyumku mebias seperti matahari yang sedang mereka hindari. Di balik pohon kokoh yang membuat dirinya nyaman dan beristirahat. Melihat keberadaan keindahan sang pencipta, aku segera membidik objek yang terlihat dari mata kameraku. Setiap hasil jepretan kamera, selalu aku edit di computer dan membuat design baru sebagai bank file yang suatu saat akan aku perlukan. Tak pernah sedikitpun aku mau ke hilangan moment, yang menurut aku sangat penting untuk koleksi-koleksi file design yang aku butuhkan. Untuk perusahaan di mana aku bekerja.
Aku bekerja dibidang percetakan. Rayno adalah atasan sekaligus sahabatku sejak SMP. Dengan segala macam aktifitas yang membuat tembok jarak diantara kami. Orangtua Rayno sangat dekat denganku dan mereka begitu menyayangiku seperti anaknya sendiri. Sejak aku diusir oleh papa dengan alasan yang tidak jelas, aku melangkahkan kaki keluar dari rumah. Rayno memanglah anak manja. Karena ia anak tunggal, yang tidak memiliki adik maupun kakak. Apapun yang diminta olehnya, pasti diturutii semua. Aku diberi kepercayaan olehnya untuk mengurusi anak perusahaan di kota kecil ini. Keluarga Rayno tidak kesepian, sejak aku tinggal di rumahnya. Dari rumah inilah pribadiku terbentuk sendiri. Rasa syukurku terhadap Tuhan yang mengirim mereka untuk menerimaku. Andai saja Tuhan tidak mempertemukan aku, pada saat papa mengusirku. Mungkin saja perkataan papaku itu tergenapi. Dan mungkin juga, aku tidak menjadi sosok manusia seperti sekarang. Rayno adalah sahabat sekaligus boss di perusahaan yang aku awasi sekarang. Akuakui. Rayno memanglah suka mempermainkan dan memberikan janji-janji bui kepada setiap perempuan. Pernah suatu hari, rumahnya kedatangan orangtua yang menuntut pertanggung jawaban Rayno. Kembali aku berpikir. Prihal cara mendidik anak. Pandangan kacamataku, orangtua Rayno sangatlah mendidiknya sangat baik. Dari pendidikan, kasih sayang, perhatian bahkan sangat mengerti apa yang diinginkan seorang anak. Hanya satu kekurangan dari keluarga ini. Akhirnya membuat ke pribadian yang Rayno miliki sesuka hati. Semua masalah begitu mudah diselesaikan orangtua Rayno dengan mengandalkan uang mereka yang berlebih. Rayno bukanlah sesosok laki-laki yang tidak bertanggung jawab yang aku kenal. Bukan berarti aku membelanya, karena utang budi atau apapun menurut anggapan kalian semua. Tapi aku sangat memahami karakternya. Ia memang konyol. Dan sangat benci sekali dengan sikap perempuan yang gampangan.
“Guys. Kenalin ini Ney, saudara angkat gw. Cewe ganteng.”
  Aku merasa tersanjung sekaligus minder berada ditengah-tengah mereka semua. Lebih sangat terkejut lagi ketika ia mengenaliku pada temannya sebagai saudara angkat.
“Elo, tuh bukan cewe. Ney. Elo cewe ganteng saudara angkat gw.”
Kata-kata itu terlalu amat sering aku dengar dari mulutnya. Menjadikan aku seseorang yang lebih berarti dan berbeda dari perempuan-perempuan yang ia jumpai. Sehingga diriku merasakan gambaran makna sebuah keluarga. Aku memang terlahir disebuah keluarga yang memiliki seorang papa yang tabiatnya kurang baik. Aku terkadang merasa memiliki utang budi. Tapi semua itu aku buang jauh-jauh, hanya kasih sayang dari merekalah yang selalu aku ingat. Menurut pendapat bodohku ini. Seorang sahabat selalu ada untuk sahabat lainnya. Baik dalam susah maupun senang dan seorang sahabat tidak pernah menyembunyikan suatu rahasia dari sahabatnya yang lain. Arti seorang sahabat yang menganggapku seperti saudara kandungnya sendiri.
“Kalau ada masalah segera berikabar.”
Dari kejauhan ia tetap sebagai atasanku, ketika bertemu ia adalah seorang sahabat bagiku. Terkadang Raynopun memarahiku jika aku tidak melaporkan masalah dalam perusahaannya. Kemewahan fasilitas yang diberikan orangtua Rayno selalu aku tolak. Karena mama mengajarkanku tidak boleh memanfaatkan kebaikan orang pada kita. Sehingga hal demikian tidaklah membuat aku terbuai atas segala fasilitas kemewahan tersebut. Tapi pada dasarnya Tuhan telah mengatur dan merancangkan diriku seindah mungkin dan dilahirkan dari rahim siapa dan keluarga yang seperti apa. Peran. Setiap kita yang ada di muka bumi ini memiliki peran masing-masing. Ketika peran itu sudah menjadi sebuah tokoh karakter yang kita perankan, untuk menjadi actor terbaik untuk diri kita sendiri. Penulis Skenario dan Sutradara terbaik adalah Tuhan. Ketika kita terjebak dalam kesusahan maupun penderitaan, hanya satu yang aku ingat. Aku termasuk salah satu yang dipilih Tuhan untuk masuk dalam rencananya. Meskipun kini aku dalam perangkap sebuah sekolah kehidupan dan berada di kelas Penderitaan.
Aku  melanjutkan perjalanan ini kembali dan meninggalkan kepadatan jalan yang membuat aku penat. Warung mang Udin adalah tempat biasa aku singgah sambil meneguk kopi atau es untuk membasahi  tenggorokan. Seorang pemilik warung yang ramah. Banyak sekali pelajaran yang aku dapati dari beliau. Mengenai bertahan menjalani setiap jedah waktu yang Tuhan berikan kepada kita. Untuk mejejangi level tingkat atas dalam kehidupan. Beliau bercerita tentang bagaimana ia bisa mendapatkan izin berjualan di tempat ini. Ia dengan rendah hati membersihkan sampah di sekitar kali dan menyulapnya menjadi warung favoritku, tempat yang bersih dan nyaman membuat aku enggan beranjak ketika mampir ke warung ini. Mang Udin adalah pelopor kali yang bersih tanpa ada sampah yang terlihat di sekitaran kali. Di pinggirnya terdapat warung dengan pemilik yang ramah. Aku sangat senang ketika beliau memberikan kunci-kunci kehidupan. Ketika kita berada di sebuah sekolah kehidupan dengan berbagai macam kelas. Seperti salah satunya adalah kelas penderitaan. Peran kita selama menapaki kaki menginjak bumi dan mewarnai tiap warna hidup yang berbeda. Menjadi sebuah lukisan kehidupan yang dilukis oleh Sang Penguasa Jagat Raya Alam Semesta.
“Mang…es jeruk satu.”
 “Ney…tumben pulangnya rada sore, memangnya tidak banyak kerjaan di kantor?” Sambil memberikan es pesananku. Mang Udin melayani pelangannya tidak sendiri, ia dibantu dengan dua karyawan. Ia membawa orang dari kampung untuk membantunya. Aku sangat kagum terhadap beliau, orang tua seusia beliau masih semangat untuk bekerja dan memberikan nafkah kepada anak istri yang tinggal jauh. Tidak seperti Alm. Papa yang mefoya-foyakan penghasilannya dengan membiayai wanita lain. Alm. Papa bagaikan jalangkung. Datang tak dijemput dan pulang tak diantar.
“Eh…iya, mang.”
Sautku sambil menyeruput es yang disuguhkan olehnya. Aku sangat menyukai keramahannya dan mengingat muka serta nama pelangan tiap kali mampir. Aku yang bodoh ini menciptakan sebuah barisan cemburu. Dengan segala perjuangan dan pengorbanan mang Udin untuk anak istri di kampung. Warung yang sangat sederhana, dipinggir kali bersih tanpa ada sampah. Airnya menggalir sangat tenang dan lancar, di bawah pohon dengan dedaunan untuk cukup menutupi sinar yang jatuh tepat di tengah-tengah bale. Senyum ramah si pemilik warung membuat aku dan para pengunjung selalu ingin mampir melepaskan suntuk sepanjang hari bekerja. Ku hisap rokok yang ada di tanganku sambil memperhatikan mereka satu persatu. Dengan  dunia mereka masing-masing.
Ada yang menggobrol, ada yang memainkan handphone selular dan ada juga pengunjung yang hanya menikmati sebatang rokok ditangan sama seperti yang aku kerjakan. Ada pula yang sedang menikmati gorengan yang disediakan di warung ini. Sementara si pemilik warung tetap sibuk melayani pesanan. Aku memanglah penghuni baru di kota ini, tapi entah mengapa aku sangat senang sekali berkunjung. Diriku merasa nyaman, dan jiwaku terusik dengan kecemburuan. Meskipun jarak memisahkan mereka. Tapi beliau masih menyempatkan untuk berkomunikasi dengan anak dan istrinya di kampong. Hubungan itu di bangun oleh beliau begitu sangat indah. Sapaan itulah yang membuat aku selalu rindu dan ingin mampir ke warung ini.
Tiba-tiba pikiranku terlintas dengan kejadian sewaktu aku mejemput kakakku si pengaduan itu. Kini isi otakku hanya memikirkan Ain dan anak perempuan kecil itu. Dengan sejuta tanya yang membuat diriku bergejolak untuk mencari tahu siapakah mereka. Ada apa mereka hadir mewarnai hidupku. Kenapa aku yang mereka libatkan. Bagaimana nantinya yang akan terjadi pada diriku. Setelah memberi suatu kelegaan di kerongkonganku, yang telah kering terpanggang, ricuh suasana bising di jalan. Kenapa otak ku tertuju pada mereka berdua, termasuk juga kakakku.
Dari situlah pikiran kumulai terganggu dengan peristiwa aneh. Rumah Aneh yang dipenuhi oleh ibu-ibu cantik dan anak muda yang cantik-cantik pula, salah satunya si Mbah yang masih muda tersebut.
***

1 comment:

  1. kelinci99
    Togel Online Terpercaya Dan Games Laiinnya Live Casino.
    HOT PROMO NEW MEMBER FREECHIPS 5ribu !!
    NEXT DEPOSIT 50ribu FREECHIPS 5RB !!
    Ada Bagi2 Freechips Untuk New Member + Bonus Depositnya Loh ,
    Yuk Daftarkan Sekarang Mumpung Ada Freechips Setiap Harinya
    segera daftar dan bermain ya selain Togel ad juga Games Online Betting lain nya ,
    yang bisa di mainkan dgn 1 userid saja .
    yukk daftar di www.kelinci99.casino

    ReplyDelete