06. Kecemburuanku
Siang
ini tampak langit begitu cerah, awan diatas berkejar kejaran menghiasi
keindahan langit. Terlihat oleh mata kameraku seorang anak yang sedang asyik
menikmati es yang berada di dalam kantung plastic dan disisi lainnya ada sebuah
karung kumal. Ia berteduh dari teriknya matahari dan menyederkan tubuhnya ke
salah satu pohon yang berdiri kokoh. Terlihat dari wajahnya, begitu sangat kelelahan
mencari barang-barang bekas untuk dapat dikilo. Tak lama kemudian seseorang
anak datang menghampiri. Seorang kakak bersama adik kecilnya, menikmati
seruputan es. Senyumku mebias seperti matahari yang sedang mereka hindari. Di
balik pohon kokoh yang membuat dirinya nyaman dan beristirahat. Melihat
keberadaan keindahan sang pencipta, aku segera membidik objek yang terlihat
dari mata kameraku. Setiap hasil jepretan kamera, selalu aku edit di computer
dan membuat design baru sebagai bank file yang suatu saat akan aku perlukan.
Tak pernah sedikitpun aku mau ke hilangan moment, yang menurut aku sangat
penting untuk koleksi-koleksi file design yang aku butuhkan. Untuk perusahaan di
mana aku bekerja.
Aku
bekerja dibidang percetakan. Rayno adalah atasan sekaligus sahabatku sejak SMP.
Dengan segala macam aktifitas yang membuat tembok jarak diantara kami. Orangtua
Rayno sangat dekat denganku dan mereka begitu menyayangiku seperti anaknya
sendiri. Sejak aku diusir oleh papa dengan alasan yang tidak jelas, aku
melangkahkan kaki keluar dari rumah. Rayno memanglah anak manja. Karena ia anak
tunggal, yang tidak memiliki adik maupun kakak. Apapun yang diminta olehnya,
pasti diturutii semua. Aku diberi kepercayaan olehnya
untuk mengurusi anak perusahaan di kota kecil ini. Keluarga Rayno tidak
kesepian, sejak aku tinggal di rumahnya. Dari rumah inilah pribadiku terbentuk
sendiri. Rasa syukurku terhadap Tuhan yang mengirim mereka untuk menerimaku.
Andai saja Tuhan tidak mempertemukan aku, pada saat papa mengusirku. Mungkin
saja perkataan papaku itu tergenapi. Dan mungkin juga, aku tidak menjadi sosok
manusia seperti sekarang. Rayno adalah sahabat sekaligus boss di perusahaan
yang aku awasi sekarang. Akuakui. Rayno memanglah suka mempermainkan dan
memberikan janji-janji bui kepada setiap perempuan. Pernah suatu hari, rumahnya
kedatangan orangtua yang menuntut pertanggung jawaban Rayno. Kembali aku
berpikir. Prihal cara mendidik anak. Pandangan kacamataku, orangtua Rayno
sangatlah mendidiknya sangat baik. Dari pendidikan, kasih sayang, perhatian
bahkan sangat mengerti apa yang diinginkan seorang anak. Hanya satu kekurangan
dari keluarga ini. Akhirnya membuat ke pribadian yang Rayno miliki sesuka hati.
Semua masalah begitu mudah diselesaikan orangtua Rayno dengan mengandalkan uang
mereka yang berlebih. Rayno bukanlah sesosok laki-laki yang tidak bertanggung
jawab yang aku kenal. Bukan berarti aku membelanya, karena utang budi atau
apapun menurut anggapan kalian semua. Tapi aku sangat memahami karakternya. Ia
memang konyol. Dan sangat benci sekali dengan sikap perempuan yang gampangan.
“Guys.
Kenalin ini Ney, saudara angkat gw. Cewe ganteng.”
Aku merasa tersanjung sekaligus minder berada ditengah-tengah mereka
semua. Lebih sangat terkejut lagi ketika ia mengenaliku pada temannya sebagai
saudara angkat.
“Elo,
tuh bukan cewe. Ney. Elo cewe ganteng saudara angkat gw.”
Kata-kata
itu terlalu amat sering aku dengar dari mulutnya. Menjadikan aku seseorang yang
lebih berarti dan berbeda dari perempuan-perempuan yang ia jumpai. Sehingga
diriku merasakan gambaran makna sebuah keluarga. Aku memang terlahir disebuah
keluarga yang memiliki seorang papa yang tabiatnya kurang baik. Aku terkadang
merasa memiliki utang budi. Tapi semua itu aku buang jauh-jauh, hanya kasih
sayang dari merekalah yang selalu aku ingat. Menurut pendapat bodohku ini.
Seorang sahabat selalu ada untuk sahabat lainnya. Baik dalam susah maupun
senang dan seorang sahabat tidak pernah menyembunyikan suatu rahasia dari
sahabatnya yang lain. Arti seorang sahabat yang menganggapku seperti saudara
kandungnya sendiri.
“Kalau
ada masalah segera berikabar.”
Dari
kejauhan ia tetap sebagai atasanku, ketika bertemu ia adalah seorang sahabat
bagiku. Terkadang Raynopun memarahiku jika aku tidak melaporkan masalah dalam
perusahaannya. Kemewahan fasilitas yang diberikan orangtua Rayno selalu aku
tolak. Karena mama mengajarkanku tidak boleh memanfaatkan kebaikan orang pada
kita. Sehingga hal demikian tidaklah membuat aku terbuai atas segala fasilitas
kemewahan tersebut. Tapi pada dasarnya Tuhan telah mengatur dan merancangkan
diriku seindah mungkin dan dilahirkan dari rahim siapa dan keluarga yang
seperti apa. Peran. Setiap kita yang ada di muka bumi ini memiliki peran
masing-masing. Ketika peran itu sudah menjadi sebuah tokoh karakter yang kita
perankan, untuk menjadi actor terbaik untuk diri kita sendiri. Penulis Skenario
dan Sutradara terbaik adalah Tuhan. Ketika kita terjebak dalam kesusahan maupun
penderitaan, hanya satu yang aku ingat. Aku termasuk salah satu yang dipilih
Tuhan untuk masuk dalam rencananya. Meskipun kini aku dalam perangkap sebuah
sekolah kehidupan dan berada di kelas Penderitaan.
Aku melanjutkan perjalanan ini kembali dan
meninggalkan kepadatan jalan yang membuat aku penat. Warung mang Udin adalah
tempat biasa aku singgah sambil meneguk kopi atau es untuk membasahi tenggorokan. Seorang pemilik warung yang ramah.
Banyak sekali pelajaran yang aku dapati dari beliau. Mengenai bertahan menjalani
setiap jedah waktu yang Tuhan berikan kepada kita. Untuk mejejangi level
tingkat atas dalam kehidupan. Beliau bercerita tentang bagaimana ia bisa
mendapatkan izin berjualan di tempat ini. Ia dengan rendah hati membersihkan
sampah di sekitar kali dan menyulapnya menjadi warung favoritku, tempat yang
bersih dan nyaman membuat aku enggan beranjak ketika mampir ke warung ini. Mang
Udin adalah pelopor kali yang bersih tanpa ada sampah yang terlihat di sekitaran
kali. Di pinggirnya terdapat warung dengan pemilik yang ramah. Aku sangat
senang ketika beliau memberikan kunci-kunci kehidupan. Ketika kita berada di
sebuah sekolah kehidupan dengan berbagai macam kelas. Seperti salah satunya
adalah kelas penderitaan. Peran kita selama menapaki kaki menginjak bumi dan mewarnai
tiap warna hidup yang berbeda. Menjadi sebuah lukisan kehidupan yang dilukis
oleh Sang Penguasa Jagat Raya Alam Semesta.
“Mang…es
jeruk satu.”
“Ney…tumben pulangnya rada sore, memangnya tidak
banyak kerjaan di kantor?” Sambil memberikan es pesananku. Mang Udin melayani
pelangannya tidak sendiri, ia dibantu dengan dua karyawan. Ia membawa orang
dari kampung untuk membantunya. Aku sangat kagum terhadap beliau, orang tua
seusia beliau masih semangat untuk bekerja dan memberikan nafkah kepada anak
istri yang tinggal jauh. Tidak seperti Alm. Papa yang mefoya-foyakan penghasilannya
dengan membiayai wanita lain. Alm. Papa bagaikan jalangkung. Datang tak dijemput
dan pulang tak diantar.
“Eh…iya,
mang.”
Sautku
sambil menyeruput es yang disuguhkan olehnya. Aku sangat menyukai keramahannya
dan mengingat muka serta nama pelangan tiap kali mampir. Aku yang bodoh ini
menciptakan sebuah barisan cemburu. Dengan segala perjuangan dan pengorbanan
mang Udin untuk anak istri di kampung. Warung yang sangat sederhana, dipinggir
kali bersih tanpa ada sampah. Airnya menggalir sangat tenang dan lancar, di
bawah pohon dengan dedaunan untuk cukup menutupi sinar yang jatuh tepat di
tengah-tengah bale. Senyum ramah si pemilik warung membuat aku dan para
pengunjung selalu ingin mampir melepaskan suntuk sepanjang hari bekerja. Ku
hisap rokok yang ada di tanganku sambil memperhatikan mereka satu persatu. Dengan dunia mereka masing-masing.
Ada
yang menggobrol, ada yang memainkan handphone selular dan ada juga pengunjung
yang hanya menikmati sebatang rokok ditangan sama seperti yang aku kerjakan.
Ada pula yang sedang menikmati gorengan yang disediakan di warung ini.
Sementara si pemilik warung tetap sibuk melayani pesanan. Aku memanglah
penghuni baru di kota ini, tapi entah mengapa aku sangat senang sekali
berkunjung. Diriku merasa nyaman, dan jiwaku terusik dengan kecemburuan.
Meskipun jarak memisahkan mereka. Tapi beliau masih menyempatkan untuk
berkomunikasi dengan anak dan istrinya di kampong. Hubungan itu di bangun oleh
beliau begitu sangat indah. Sapaan itulah yang membuat aku selalu rindu dan
ingin mampir ke warung ini.
Tiba-tiba
pikiranku terlintas dengan kejadian sewaktu aku mejemput kakakku si pengaduan
itu. Kini isi otakku hanya memikirkan Ain dan anak perempuan kecil itu. Dengan
sejuta tanya yang membuat diriku bergejolak untuk mencari tahu siapakah mereka.
Ada apa mereka hadir mewarnai hidupku. Kenapa aku yang mereka libatkan.
Bagaimana nantinya yang akan terjadi pada diriku. Setelah memberi suatu
kelegaan di kerongkonganku, yang telah kering terpanggang, ricuh suasana bising
di jalan. Kenapa otak ku tertuju pada mereka berdua, termasuk juga kakakku.
Dari
situlah pikiran kumulai terganggu dengan peristiwa aneh. Rumah Aneh yang
dipenuhi oleh ibu-ibu cantik dan anak muda yang cantik-cantik pula, salah
satunya si Mbah yang masih muda tersebut.
***

kelinci99
ReplyDeleteTogel Online Terpercaya Dan Games Laiinnya Live Casino.
HOT PROMO NEW MEMBER FREECHIPS 5ribu !!
NEXT DEPOSIT 50ribu FREECHIPS 5RB !!
Ada Bagi2 Freechips Untuk New Member + Bonus Depositnya Loh ,
Yuk Daftarkan Sekarang Mumpung Ada Freechips Setiap Harinya
segera daftar dan bermain ya selain Togel ad juga Games Online Betting lain nya ,
yang bisa di mainkan dgn 1 userid saja .
yukk daftar di www.kelinci99.casino