10.Sebuah Perintah
Aku menerima telepon dari Rayno sahabat
sekaligus atasanku untuk menemui dirinya. Aku memanglah sahabat sekaligus
karyawan yang diandalkan. Setibanya aku di restaurant dan menghampiri Rayno
bersama dengan seorang wanita yang bukan istrinya. Sedikit tampak terkejut bercampur
bingung, serta bertanya dalam hati. Siapakah wanita yang bersama Rayno?! Mamuca
itu lagi dalam hatiku. Rayno langsung memperkenalkan wanita yang bernama Ain.
Rayno meminta bantuanku untuk membuatkan sebuah design promosi. Pertanyaan bodoh
mulai menyelinap dalam otakku. Apa hubungan ia dengan Rayno. Darimana ia
mengenal wanita ini. Sedikitpun ia tidak menceritakan tentang dirinya padaku.
Aku baru mengenalnya beberapa minggu belakangan ini. Kini sahabatkupun memperkenalkan
wanita yang kukenal. Tidak ada kecurigaan sedikitpun aku terhadap Rayno. Wajar
ia dikelilingi wanita-wanita cantik. Rayno adalah seorang pengusaha muda dan ia
memiliki banyak partner kerja. Iya, salah satunya adalah wanita yang aku kenal.
Aku ditugaskan untuk membuat design promosi untuk café yang akan launching.
Sebuah bisnis kuliner yang akan dirintis oleh wanita tersebut. Dan aku ditunjuk
sebagai penanggung jawab.
Rayno tidak mengetahui bahwa akupun sudah
mengenal dirinya sebelum ia memperkenalkan aku kepada ibu muda cantik ini. Aku
hanya diam dan memperhatikan Rayno yang asyik berbicara. Sementara makanan
belum dihidangkan sama sekali diatas meja. Aku mengalihkan perhatianku dengan membaca
menu yang telah tersedia. Sesekali pandangan mataku bertatapan dengan wanita
yang berada dekat Rayno. Anak perempuan kecil inipun ikut hadir disini.
Sepertinya anak ini senang melihat kehadiranku. Masih sama saja aku lihat ibu
muda cantik ini, selalu menengak botol
minuman yang berisikan aroma tak sedap itu. Kertas dan pulpen untuk menuliskan
menu yang aku pesan itu terjatuh. Rayno dan ibu muda cantik itu, dengan cepat
pandangan mereka melihatku. Aku melemparkan senyum sambil meraih kertas dan
pulpen yang terjatuh. Lagi-lagi aku dapati kertas itu sudah tertulis dengan
sebuah kata “Ia menyukaimu”. Aku segera merobek kertas itu dan mengantungkannya
dalam jaket kusamku. Mereka masih asyik saja berbicara tanpa menghiraukan
diriku yang ada. Serius sekali pembicaraan mereka, sampai mereka lupa untuk
memesan makanan. Aku langsung saja memanggil pelayan restaurant untuk mengambil
menu pesananku. Rayno menatapku seperti harimau yang kelaparan.
“ Oh…ya, gw ampe lupa. Loe udah pesenin
makanan buat gw juga?” Rayno,
akhirnya tersadar. Bahwa ia belum sama sekali memesan menu makanan untuk
dirinya. Aku menggelengkan kepala menjawab pertanyaannya. Rayno melempar tissue
tepat ke mukaku. Aku membalas tissue yang ia lemparkan.
“Hahaa…dasar, loe. Dari dulu kaga berubah.
Loe kalo udah laper kaga ingat makhluk di bumi.”
Aku
tersenyum santai sambil membuka media social di handphoneku. Rayno sangat
mengenali karakterku, saat perutku sudah berteriak. Tak sedikitpun aku dapat
melihat makhluk-makhluk yang ada di sekitarku. Termasuk Rayno dan wanita yang
ada didekatnya itu. Akhirnya mereka meninggalkan obrolan serius dan beralih ke
menu makanan yang telah tersedia.
“Ney. Gw udah jelasin, kalo loe yang
bakalan ngurus semua.”
Diam-diam aku mencuri pandanganku ke wanita
yang ada di depanku. Pelayan restaurantpun berlalu pergi dari hadapan kami.
Anak perempuan kecil ini mendekatiku. Ia memperhatikan diriku yang asyik
melihat-lihat gambar dari handphone. Sebagai bahan refrensiku untuk mengarap
design yang akan ditugaskan oleh Rayno.
“Menurut loe. Nama Café apa yang cocok?”
Rayno meminta pendapatku nama apa untuk
café yang akan dibuka. Konsep semua ada dalam tangaku serta nama yang akan
dijadikan untuk bisnis tersebut. Aku masih belum menjawab atas pertanyaan yang
baru saja ia sampaikan. Sambil berpaling kepada wanita yang aku kenal. Tak lama
kemudian makanan yang kami pesanpun, akhirnya datang juga. Aku menganggukan
kepala mendengar penjelasannya. Sambil mendengarkan tugas yang diberikan Rayno
padaku.
“Ngedate Café Echa.”
Nama yang baru saja aku sebut spontan
terucap begitu saja. Ibu muda cantik itu menyirami makanannya dengan bubuk
garam. Aku memperhatikan dirinya yang menaburi bubuk garam begitu banyak ke sup
yang ia pesan.
“Sudah cukup garamnya.” Aku melarang
dirinya. Melihat hal itu mata Rayno melotot heran. Aku memang pernah melarang
mama Rayno menaburkan garam ke makanannya. Kinipun aku mengulangi hal yang sama
pada wanita yang ada didekatnya.
“Haahaaa…kamu, Ney. Semua orang kamu
larang untuk makan yang asin. Aku jadi kangen sama mama, lihat ulahmu ini.”
Aku gugup dengan ledekan Rayno. Ibu
muda cantik yang ada didekatnya pun, langsung menghentikan garam yang ia taburi
itu.
“Bagus namanya. Tolong jelaskan. Kenapa
pakai nama itu.”
Rayno setuju aku memberikan nama itu untuk
café yang akan launching. Aku harus presentase di meja makan. Aku menceritakan
masakan kuliner ini. Dengan disuguhkan berbagai macam makanan dan kue. Tujuan
nama ini, semua orang bisa berkencang dengan menyimpan rekaman. Bisa juga untuk
acara ulang tahun dan pernikahan. Café ini tidak memandang usia. Siapapun bisa
berkencan disini.
“Maksudnya rekaman?”
Rayno tampak bingung dan belum mengerti
apa penjelasanku. Perlahan-lahan aku memberi gambaran mengenai café kuliner tersebut.
Rekaman yang aku maksud adalah bonus untuk mereka yang datang sebagai data
pribadi dan bisa dijadikan bisnis. Tujuannya mereka mendapat sebuah kenangan
cantik yang kita berikan. Ngedat Café Echa bukan hanya sebuah café. Tapi
sebagai café yang merekam kenangan dalam suasana apapun yang terjadi. Termasuk
kencan bersama orangtuanya sendiri, dengan merayakan kebahagian yang hadir
dalam hidup mereka.
Akhirnya Rayno mengerti kenapa alasanku
memberi nama Ngedate Café Echa. Aku juga tidak mengerti. Kenapa aku memberikan
nama itu dan menjelaskannya dengan sangat begitu lancar. Aku dan anak perempuan
kecil ini tak dapat berbuat apa-apa. Kami hanya memperhatikan dirinya yang
menikmati botol ke sayangan, yang selalu ia bawa kemana-mana. Aku hanya
berpikir mengenai tulisan tempo lalu. Bahwa anak perempuan kecil ini
mengingatkanku untuk tidak memberikan makanan padanya terlalu asin. Aku hanya
menyimak pembicaraan dan penjelasaan Rayno, sambil memperhatikan sosok anak
kecil yang berada disamping wanita yang bernama Ain tersebut. Setelah beberapa
lama kemudian pembicaraan mengenai usaha
kuliner yang akan dijalani oleh Ainpun selesai dibahas oleh Rayno. Dan akupun
menyetujui serta siap membantu untuk masalah design.
***



