Thursday, May 14, 2020

Sebuah Perintah



10.Sebuah Perintah
Aku menerima telepon dari Rayno sahabat sekaligus atasanku untuk menemui dirinya. Aku memanglah sahabat sekaligus karyawan yang diandalkan. Setibanya aku di restaurant dan menghampiri Rayno bersama dengan seorang wanita yang bukan istrinya. Sedikit tampak terkejut bercampur bingung, serta bertanya dalam hati. Siapakah wanita yang bersama Rayno?! Mamuca itu lagi dalam hatiku. Rayno langsung memperkenalkan wanita yang bernama Ain. Rayno meminta bantuanku untuk membuatkan sebuah design promosi. Pertanyaan bodoh mulai menyelinap dalam otakku. Apa hubungan ia dengan Rayno. Darimana ia mengenal wanita ini. Sedikitpun ia tidak menceritakan tentang dirinya padaku. Aku baru mengenalnya beberapa minggu belakangan ini. Kini sahabatkupun memperkenalkan wanita yang kukenal. Tidak ada kecurigaan sedikitpun aku terhadap Rayno. Wajar ia dikelilingi wanita-wanita cantik. Rayno adalah seorang pengusaha muda dan ia memiliki banyak partner kerja. Iya, salah satunya adalah wanita yang aku kenal. Aku ditugaskan untuk membuat design promosi untuk café yang akan launching. Sebuah bisnis kuliner yang akan dirintis oleh wanita tersebut. Dan aku ditunjuk sebagai penanggung jawab.
Rayno tidak mengetahui bahwa akupun sudah mengenal dirinya sebelum ia memperkenalkan aku kepada ibu muda cantik ini. Aku hanya diam dan memperhatikan Rayno yang asyik berbicara. Sementara makanan belum dihidangkan sama sekali diatas meja. Aku mengalihkan perhatianku dengan membaca menu yang telah tersedia. Sesekali pandangan mataku bertatapan dengan wanita yang berada dekat Rayno. Anak perempuan kecil inipun ikut hadir disini. Sepertinya anak ini senang melihat kehadiranku. Masih sama saja aku lihat ibu muda cantik ini, selalu  menengak botol minuman yang berisikan aroma tak sedap itu. Kertas dan pulpen untuk menuliskan menu yang aku pesan itu terjatuh. Rayno dan ibu muda cantik itu, dengan cepat pandangan mereka melihatku. Aku melemparkan senyum sambil meraih kertas dan pulpen yang terjatuh. Lagi-lagi aku dapati kertas itu sudah tertulis dengan sebuah kata “Ia menyukaimu”. Aku segera merobek kertas itu dan mengantungkannya dalam jaket kusamku. Mereka masih asyik saja berbicara tanpa menghiraukan diriku yang ada. Serius sekali pembicaraan mereka, sampai mereka lupa untuk memesan makanan. Aku langsung saja memanggil pelayan restaurant untuk mengambil menu pesananku. Rayno menatapku seperti harimau yang kelaparan.
“ Oh…ya, gw ampe lupa. Loe udah pesenin makanan buat gw juga?”         Rayno, akhirnya tersadar. Bahwa ia belum sama sekali memesan menu makanan untuk dirinya. Aku menggelengkan kepala menjawab pertanyaannya. Rayno melempar tissue tepat ke mukaku. Aku membalas tissue yang ia lemparkan.
“Hahaa…dasar, loe. Dari dulu kaga berubah. Loe kalo udah laper kaga ingat makhluk di bumi.”
 Aku tersenyum santai sambil membuka media social di handphoneku. Rayno sangat mengenali karakterku, saat perutku sudah berteriak. Tak sedikitpun aku dapat melihat makhluk-makhluk yang ada di sekitarku. Termasuk Rayno dan wanita yang ada didekatnya itu. Akhirnya mereka meninggalkan obrolan serius dan beralih ke menu makanan yang telah tersedia.
“Ney. Gw udah jelasin, kalo loe yang bakalan ngurus semua.”
 Diam-diam aku mencuri pandanganku ke wanita yang ada di depanku. Pelayan restaurantpun berlalu pergi dari hadapan kami. Anak perempuan kecil ini mendekatiku. Ia memperhatikan diriku yang asyik melihat-lihat gambar dari handphone. Sebagai bahan refrensiku untuk mengarap design yang akan ditugaskan oleh Rayno.
 “Menurut loe. Nama Café apa yang cocok?”
Rayno meminta pendapatku nama apa untuk café yang akan dibuka. Konsep semua ada dalam tangaku serta nama yang akan dijadikan untuk bisnis tersebut. Aku masih belum menjawab atas pertanyaan yang baru saja ia sampaikan. Sambil berpaling kepada wanita yang aku kenal. Tak lama kemudian makanan yang kami pesanpun, akhirnya datang juga. Aku menganggukan kepala mendengar penjelasannya. Sambil mendengarkan tugas yang diberikan Rayno padaku.
“Ngedate Café Echa.”
Nama yang baru saja aku sebut spontan terucap begitu saja. Ibu muda cantik itu menyirami makanannya dengan bubuk garam. Aku memperhatikan dirinya yang menaburi bubuk garam begitu banyak ke sup yang ia pesan.
“Sudah cukup garamnya.” Aku melarang dirinya. Melihat hal itu mata Rayno melotot heran. Aku memang pernah melarang mama Rayno menaburkan garam ke makanannya. Kinipun aku mengulangi hal yang sama pada wanita yang ada didekatnya.
“Haahaaa…kamu, Ney. Semua orang kamu larang untuk makan yang asin. Aku jadi kangen sama mama, lihat ulahmu ini.”
            Aku gugup dengan ledekan Rayno. Ibu muda cantik yang ada didekatnya pun, langsung menghentikan garam yang ia taburi itu.
“Bagus namanya. Tolong jelaskan. Kenapa pakai nama itu.”
Rayno setuju aku memberikan nama itu untuk café yang akan launching. Aku harus presentase di meja makan. Aku menceritakan masakan kuliner ini. Dengan disuguhkan berbagai macam makanan dan kue. Tujuan nama ini, semua orang bisa berkencang dengan menyimpan rekaman. Bisa juga untuk acara ulang tahun dan pernikahan. Café ini tidak memandang usia. Siapapun bisa berkencan disini.
“Maksudnya rekaman?”
Rayno tampak bingung dan belum mengerti apa penjelasanku. Perlahan-lahan aku  memberi gambaran mengenai café kuliner tersebut. Rekaman yang aku maksud adalah bonus untuk mereka yang datang sebagai data pribadi dan bisa dijadikan bisnis. Tujuannya mereka mendapat sebuah kenangan cantik yang kita berikan. Ngedat Café Echa bukan hanya sebuah café. Tapi sebagai café yang merekam kenangan dalam suasana apapun yang terjadi. Termasuk kencan bersama orangtuanya sendiri, dengan merayakan kebahagian yang hadir dalam hidup mereka.
Akhirnya Rayno mengerti kenapa alasanku memberi nama Ngedate Café Echa. Aku juga tidak mengerti. Kenapa aku memberikan nama itu dan menjelaskannya dengan sangat begitu lancar. Aku dan anak perempuan kecil ini tak dapat berbuat apa-apa. Kami hanya memperhatikan dirinya yang menikmati botol ke sayangan, yang selalu ia bawa kemana-mana. Aku hanya berpikir mengenai tulisan tempo lalu. Bahwa anak perempuan kecil ini mengingatkanku untuk tidak memberikan makanan padanya terlalu asin. Aku hanya menyimak pembicaraan dan penjelasaan Rayno, sambil memperhatikan sosok anak kecil yang berada disamping wanita yang bernama Ain tersebut. Setelah beberapa lama kemudian pembicaraan mengenai  usaha kuliner yang akan dijalani oleh Ainpun selesai dibahas oleh Rayno. Dan akupun menyetujui serta siap membantu untuk masalah design. 
***

Tolong Aku



09. Tolong Aku
Kota ini kering dan berdebu. Sebuah satelit yang tak terawat, 30 kilometer dari ibukota, dan semata-mata ada untuk melayani sang kapital. Hanya ada satu mal kelas C di sana-sini tumbuh kompleks tempet tinggal ukuran kecil yang rumah-rumahnya banyak dikontrakkan. Penduduknya kebanyakan pendatang yang dikirim oleh perusahaan tempat mereka mencari nafkah, untuk bekerja di pabrik yang bergerak siang-malam tanpa henti. Seperti diriku sendiri. Bos mengirimku ke sini untuk membuka kantor cabang sekaligus mengawasi mutu percetakan dengan mesin-mesin besar yang dibangun di kawasan khusus kota industry ini. Bosku itu orang baik. Dan sebetulnya ia cukup ganteng. Tapi, yang lebih penting bagiku adalah dia orang yang akrab dan setia kawan, bahkan pada anak buahnya. Ia tak pernah memaksa. Seperti ketika ia hendak memindahkan aku ke kota ini. Ia Cuma berkata, “Saya ada sedikit urusan pribadi di kota itu. Kota itu punya makna cukup istimewa bagi saya. Kalau kamu mau jadi kepala cabang di sana, saya bakal senang sekali. Saya akan sering ke sana.” Aku tak mampu menolaknya.
Dan di sinilah aku terdampar sejak lima bulan lalu. Tak ada istimewa selain jalan yang berdebu, truk-truk yang datang dan pergi dari kawasan industry menuju pelabuhan. Angkot-angkot dan pasukan motor yang tak pernah mematuhi lampu lalulintas. Tak ada yang istimewa, sampai kali aku mengantar kakakku dan  anaknya yang, ah, tak kelihatan bagi semua orang kecuali bagiku.
Awalnya, kupikir aku kurang tidur dan jadi halusinasi. Jangan-jangan tembakau oplosan dari temanku yang waktu itu kuhisap mengandung ganja sehingga aku melihat ada anak kecil menarik-narik rok seorang ibu muda cantik. Tapi aku tetap melihat anak itu lagi dalam pertemuan kedua kami di mal. Jadi, apa yang salah denganku? Ada apa dengan kota ini? Apakah tempat yang kering ini membuatku jadi bisa melihat?
Hari ini bos menugaskan aku untuk berjaga di percetakan. Ia punya pesanan brosur mobil yang membutuhkan presisi warna. Kliennya tak mau ada pergeseran warna. Untuk itu aku harus begadang di percetakan, mengecek dan member persetujuan setelan mesin pencampur warna tiap kali lembaran akan naik cetak. Kata bos, hanya aku yang mau dan bisa melakukan ini. Bahkan pegawai lelaki yang sudah berkeluarga tak becus melakukan tugas ini. Aku selalu bilang padanya, siap Bos. Pesannya, perhatikan warna merahnya. Harus merah darah. Tak boleh merah yang lain. Merah darah yang segar. Tak boleh darah yang mongering kehitaman.
Di luar matahari telah tenggelam. Di dalam bunyi mesin bergemuruh. Bau tinta dan minyak pelumas tak lagibisa dideteksi satu jam orang berada di sana. Mataku memelototi monitor dan lembaran contoh, sambil otakku mengulang-ulang pesan Bos: merah darah yang segar, merah darah yang segar…
Jam menunjukkan lewat pukul dua ketika aku merasa semua aman. Ketika itulah aku baru merasa mataku kering dan penat. Layard an meja tampak agak cembung sekarang. Dan jika aku berganti foukus pandangan, aku merasa buram sesaat sebelum betul-betul bisa melihat. Pastilah mataku keletihan. Juga tubuhku.
Aku pergi ke kamar kecil untuk hal yang telah sedari tadi kutahan, serta untuk menyegarkan wajahku yang terasa melorot. Pabrik cetak ini hanya punya kamar kecil untuk perempuan di lantai lobi. Hanya resepsionis dan tamu yang perempuan yang biasanya ada di sini, dan mereka biasanya tidak sampai ke bagian mesin. Dan biasanya mereka tak ada lagi setelah gelap. Hanya aku satu-satunya yang bukan lelaki. Aku sebetulnya berpikir untuk menggunakan WC pria terdekat. Tapi, belakangan ini orang-orang di kota ini makin konservatif, mereka selalu ingin memisahkan wilayah pria dan wanita. Jadi, aku pergi ke toilet wanita di area belakang lantai lobi yang telah senyap dan gelap.
Langkahku bergaung di lorong. Seolah-olah ada yang mengikuti aku. Aku menoleh ke belakang, tapi tentu saja tak ada siapa-siapa. Bosku kadang berkata: Kamu pasti aman meskipun jalan sendirian. Tak ada yang berani memperkosamu. Kamu sangat perkasa. Kupikir, ya, pada jam dua malam lewat, aku satu-satunya yang bukan lelaki di bangunan industry ini. Tapi, tiba-tiba seperti ada yang menegur pikiran itu dan berkata, tidak, aku bukan satu-satunya perempuan di sana.
Aku tertegun. Ketika aku berada di dalam kabin toilet, aku merasa mendengar ada orang lain di area wastafel. Seperti suara orang mengulung tisu. Ketika aku keluar tak kulihat siapapun. Tapi gulungan tisu dekat cermin menyisakan sedikit gerakan. Mungkin mataku yang masih kabur karena keletihan. Aku mengerjap-ngerjap, membangunkan mataku yang lelah agar bisa melihat lebih jelas. Kunyalakan kran untuk membasuh wajahku. Kulihat yang keluar dari sana adalah warna merah. Merah darah yang segar…
Aku meloncat mundur. Mataku melotot. Tapi kulihat yang mengalir itu memang warna merah. Merah yang segar. Bukan merah yang menghitam. Aku mencoba membuat semua ini masuk akal. Air tanah yang mengandung karat dan logam. Bukankah ini daerah industry. Tapi, lalu kudengar suara bergesek dan aku menoleh: Samar-samar kulihat gulungan tisu berputar ke bawah tanpa ada siapapun. Mataku yang letih tak bisa beralih focus dengan cepat. Adam omen kabur sesaat. Dan ketika itulah aku melihat dalam cermin seorang anak kecil. Si anak kecil. Ya, bocah kecil berwajah sedih yang telah dua kali kulihat. Ia seperti tersesat. Ia seperti minta tolong padaku.
Ketika mataku mendapatkan ketajamannya kembali, aku tak melihat apa-apa lagi. Air dari kran telah jernih, dan tak ada siapapun di sana kecuali aku. Kulihat tisu gulung itu memang telah terjatuh.

***

Kesadaranku



08. Kesadaranku
Rumah kakakku itu seringkali ramai oleh ibu-ibu muda nan cantik-cantik. Salah satunya adalah ibu blasteran indo, yang aku beri gelar dengan nama panggilan mamuca. Terkadang aku menjadi risih dengan mereka. Mereka semua adalah tamu-tamu Mbah. Dan persinggahan terakhir mereka adalah rumah kakakku. Entah, apa yang mereka obrolkan. Mungkin saja praduga bodohku saling berbagi cerita satu sama lain.
“Aku lagi kesel nih bunda.” Salah satu teman kakakku memulai sebuah obrolan.
“Kenapa lagi memangnya.” Kakakku menyambut perkataan temannya.
“Itu bapaknya anak-anak. Mulai gila lagi. Aku ngak dikasih jatah belanja.” Sambil menekuk mukanya. Seperti kardus yang dilipat dan siap untuk dikilo dan dijual. Tetap saja pandangan mataku tak lepas memandang wajah cantik ibu muda blasteran indo tersebut. Kali ini ada yang berbeda dari dirinya. Iya. Dimana anak perempuan kecil itu? Aku tidak melihatnya. Ruangan ini pecah oleh gelak tawa mereka. Seperti berada di tengah-tengah penonton yang sedang menyaksikan acara komedi. Kakakku dan teman-temannya sibuk dengan perbincangan mereka. Mungkin alangkah lebih bagus. Aku memberi judul acara untuk mereka “Curhatan Hati Para Istri”. Aku tertawa dan senyum-senyum sendiri. Sepertinya layak judul yang otakku berikan untuk mereka. Kutinggalkan ia yang sibuk dengan obrolan para istri. Kulangkahkan kakiku yang rapuh. Menuju pembaringan manja dengan bantal guling yang kesepian. Merindukan diriku untuk memeluknya. Hal yang terindah bagiku adalah bersembunyi dibalik selimut. Melepas bebaskan diri dari seluruh tugas yang melelahkan. Mumpung si pengaduan itu dikunjungi oleh teman-temannya.
 Malam udara begitu dingin. Derasnya air hujan membuat basah seluruh permukaan bumi, enggan rasanya aku keluar dari balik selimut yang telah menghangatkanku. Aku sangat senang dan menikmati udara seperti ini dengan bergelut dalam kemalasan yang membuat diriku engan untuk beranjak. Suara petir bersahut-sahutan bagaikan irama music yang mengalun keras, ditemani sang hujan yang berjatuhan ke atap. Alunan lagu yang berasal dari komputerkupun tak mau kalah dengan kebisingan suara-suara tersebut.  Aku tak ingin waktu yang kumiliki untuk beristirahat terganggu. Kegelisahan melanda jiwaku. Mata ingin terpejam, otakku malah berkeliaran melukis wajah-wajah itu. Wajah mereka berdua muncul dalam otakku dan tampak jelas kini di mata. Apakah sebenarnya hubungan mereka. Orangtua dan anak, atau apa. Bodoh. Kenapa aku begitu bodoh dengan pertanyaanku sendiri. Sulit bagiku mengusir bayangan mereka dari mataku. Sejak pertemuan itu. Aku selalu memikirkan tentang mereka. Sejenak aku termanjakan oleh kehangatan yang diberikan dari selimut ini, hingga aku tertidur pulas.
Suatu rumah yang cukup mewah bagi orang-orang yang memiliki segudang uang. Aku bingung dan bertanya-tanya dalam otak cerdasku. Berpikir sangat keras dan mencoba mengingat-ingat apakah aku pernah berada atau mengenali rumah ini. Pandangan mataku berkeliling, mencari jejak atau petunjuk yang bisa kutemukan. Dalam keraguan yang bersarang sambil mengendap-endap kumelangkah.
“Rumah siapakah ini? Kenapa aku berada di rumah ini.”
Mungkin saja aku pernah ke rumah ini atau mungkin juga amnesiaku kambuh sehingga aku tidak mengingatnya. Aku memperhatikan foto-foto yang bergelantungan di dinding. Mataku yang liar terhenti ketika melihat sebuah foto keluarga yang terletak di ruang kumpul keluarga. Aku mengenali wanita yang berada difoto ini. Iya. Aku sangat mengenali wajahnyanya. Wanita itu adalah mamuca. Ternyata ia memiliki suami seorang pelayaran dan tiga orang anak, satu perempuan dan dua laki-laki. Lalu siapa anak perempuan kecil itu.
 Rahasia hidup membuat diriku menjadi bodoh. Seandainya saja Tuhan memberitahukan sedikit saja, rahasia kehidupan yang aku jalani. Aku seperti ada di dalam lorong labirin. Berputar-putar dengan terus berusaha dapat menemukan jalan keluar. Tubuhku terpaku memperhatikan gambar yang ada di dinding rumah. Aku sangat tidak mempercayai apa yang kulihat dan berada dalam rumah mewah yang cukup lumayan mengkocek kantong. Anak perempuan yang berada difoto ini, bukan seperti anak yang berjumpa denganku. Lalu kenapa anak perempuan kecil itu selalu berada didekat mamuca.
              “Kamu yang sialan.”
              Tiba-tiba sebuah benda melayang kearahku, secepat kilat aku menghindar dari benda tersebut. Aku pikir ada pesawat UFO yang datang tanpa diundang masuk. Aku nampak bingung. Ada sebuah benda melayang menghampiri, untung benda itu tidak mendarat diwajahku. Bodoh. Seketika itu juga, kumenghampiri asal mula benda tersebut.
              “Menyesal aku menikah denganmu.”
              Suara seorang laki-laki berteriak keras kudengar. Terlihat olehku laki-laki hitam dengan muka seperti wajah monyet dan sangat mengerikan. Ia menghampiri ibu muda cantik yang kukenal sambil menunjuk-nunjukan jari kewajahnya.
              “Perempuan sialan.”
              Laki-laki itu melayangkan kepalan tangannya kewajah ibu muda cantik itu, sehingga mengeluarkan darah dari mulutnya. Aku shock melihat adegan tersebut. Dan mengulang kembali masa lalu yang pernah hadir dan membekas dalam hidupku. Ibu muda cantik itu tangannya ditarik hingga terpelintir dan tubuhnya diputar, hingga kepalanya terbentur ke dinding. Persitwa yang mengerikan itu telah terjadi kembali. Aku hanya bisa diam dan tanpa berbuat apa-apa.
              “Berbohong saja kamu kerjanya. Kamu pergi kemana?”
              Ia hanya terdiam. Terlihat olehku, laki-laki itu mengambil tali pinggang dari celananya. Secepat kilat tali pinggang itu bersandar di tubuhnya. Dan berulang-ulang kali laki-laki itu memukuli, bagaikan kuda yang dikebaskan oleh si penunggang untuk berjalan kencang. Melihat hal itu ketiga anak dari ibu muda cantik tersebut lari dengan sangat ketakutan dan bersembunyi di dalam kamar mereka masing-masing. Mamuca itu telah disiksa seperti orang yang disandra dalam perang, sampai lemas tak berdaya. Hanya sekedar mencari informasi apakah ia seorang mata-mata.  Pikiranku berbicara sendiri dan menerawang jauh untuk bisa melupakan, hal yang baru saja kulihat.
              Mamuca itu sungguh jauh berbeda dengan mama. Mama tidak pernah melarikan diri dari scenario hidupnya. Ia sangat baik menjalankan tugas yang Tuhan berikan. Mama tidak menenangkan hatinya dengan minum-minuman keras maupun mencari seorang pria tempat berlindung untuk mengadu. Hanya yang terlihat olehku, mama selalu mengandalkan Tuhan dengan berdoa. Mama selalu mengucapkan hal-hal penting untuk anak-anaknya. Ada sebuah kalimat yang ia sampaikan pada kami.
              “Kalian jangan pernah mengandalkan manusia. Karena manusia dapat mengecewakan. Tapi kalian harus mengandalkan Tuhan. Karena Tuhan tidak pernah mengecewakan. Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia. Tetapi diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan.”
              Hingga saat ini, apa yang mama katakan aku jalani melewati kehidupanku. Sangat aku sayangkan mamuca itu, ia lari dengan cara menegak minuman keras. Dua ke pribadian yang jauh berbeda. Mamaku dan mamuca. Aku melihat dua sosok ibu yang tersiksa. Satu ibu dengan berkelimpangan harta tapi tak memiliki sebuah kebahagian hidup yang ia jalani. Satu ibu lagi dengan memiliki hati yang mengampuni dan mendapatkan kebahagian dari ke empat anaknya. Mereka berdua layaknya koin dilihat dari dua sisi yang berbeda. Aku menyayangi mama dan akupun menyayangkan mamuca. Pelarian setiap makhluk hidup berbeda-beda. Bahkan mereka rela mengkocek kantongnya untuk mendapatkan kebahagian di luar sana. Bahkan sanggup membeli kebahagian yang mereka ingini. Setelah puas menyiksa mamuca tersebut, laki-laki yang wajahnya mirip monyet itu berlalu pergi. Hatiku teriris seperti disayat pisau melihat dirinya. Mamuca itu hanya terdiam dan mengambil tas besarnya, sambil menghapus darah yang keluar dari mulut dengan tissue, iapun menengak minuman itu sebagai penahan rasa sakit yang ia rasakan.
              Baru saja beberapa saat aku merebahkan tubuh dan menikmati lembutnya bantal guling yang menghantarku terlelap. Pintu kamarku sudah ada yang mengetuk. Sial. Umpatku kesal.
              “Ney. Buka pintunya dek.” Suara kakakku memanggil. Aku tidak pernah membantah setiap ia menyuruku. Sampai-sampai mamapun cemburu padanya.
              “Kalau kakakmu yang menyuruh. Tanpa membantah. Langsung kau pergi.” Ungkapan kecemburuan mama terhadap kakakku. Aku rasa. Aku cukup adil untuk mereka bertiga. Aku selalu ada setiap kali semua membutuhkanku. Apalagi disaat kakakku si jail. Ketika ia menghadapi kesulitan mengenai anaknya. Cucu mamaku yang pertama. Tanpa membantah aku segera meluncur menemui dirinya.
              “Ney. Buka pintunya dek. Tolongin kakak sebentar aja.” Aku pikir kakakku telah pergi dari depan pintu kamar. Tidakku jawab panggilannya.
              “Ney. Tolongin kakak sebentar.” Akhirnya tak tega hati ini dibuatnya. Telah berulang-ulang kali ia memohon. Agar aku membukakan pintu. Sudah berusaha keras, aku tidak mau membukakan pintu. Luluh juga hatiku.
              “Apa.” Jawabku sambil mengucek-ngucek mata. Kakakku yang satu ini teramat kusayang. Ia sangat lemah dan cenggeng. Aku selalu ada untuk menjaganya. Kini ia jauh berbeda. Tak seperti kakakku yang dulu. Ia terlihat tegar dan kuat, menghadapi permasalahan yang terjadi dalam rumah tangganya.
              “Tolongin kakak sebentar.” Dengan suara yang memelas. Meminta agar aku dapat membantunya. Baru saja aku ingin menolak permintaanya. Tiba-tiba saja mamuca muncul di belakang kakakku.
              “Tolong anterin aku. Boleh ngak?” Ia menyahut menghampiri dan dengan nada manja ia meminta.
              “Iya. Tolong anterin Ain sebentar. Ia mau beli makanan.” Langsung saja kakakku menyambar. Seperti bensin yang tesulut api, hingga cepat menyala. Tanpa banyak komentar aku menganggukkan kepala. Kakakku berlalu pergi. Sementara mamuca masih berada di depan kamar. Malas rasanya aku beranjak keluar. Tapi permintaan itu tak bisa kumenolaknya. Mau tak mau, harus mau. Aku tak ingin kakakku kecewa dan mamuca itupun kelaparan. Mau minta pertolongan pada siapa lagi mereka. Kalau bukan aku yang diandalkan. Aku ambil topi dan jaket yang berada di balik pintu. Aku pergi mengantarnya membeli sesuatu yang ia butuhkan. Tiba-tiba ia memeluk pinggang dan bersandar pada pundakku. Ku biarkan kenyaman itu ia nikmati. Sesaat aku teringat. Dengan mimpiku yang baru saja hadir mengenai dirinya. Dan bekas lembam yang ku lihat waktu itu. Aku tak boleh terlarut dengan mereka berdua. Ini akan membahayakan bagi diriku sendiri.
***

Pertemuan Yang Tak Terduga



07.Pertemuan Yang Tak Terduga
Aku melanjutkan perjalananku menuju kesebuah mal sederhana di kota ini untuk membeli sesuatu yang tidak ada di warung mang Udin.  Sebuah mainan tokoh kesukaanku Bart Simpson yang terbuat dari karet. Lampu penerangan jalan sudah mulai dinyalakan tak terasa waktu terus bergerak, seperti mentari yang bergeser untuk bersembunyi serta melepaskan tugasnya dipagi hari. Rembulan mulai sedikit nampak menyinari dan siap menjalankan tugas peralihan. Hari mulai sedikit agak gelap. Malam mulai menonjolkan diri, pertanda penguasa malam mulai berkuasa dan siap untuk menemani kesendirianku melalui pergantian waktu. Suasana mal begitu ramai hilir mudik oleh pengunjung yang sangat sibuk dengan keperluan dan kebutuhan untuk dibeli. Kaca-kaca mengelilingi seluruh bangunan kokoh ini, seperti ada di akuarium besar aku sekarang. Pengunjung yang datang memakai busana dari yang mewah sampai busana sederhana, terkecuali SATPAM.
Akupun memasuki gedung yang berlapiskan dinding kaca dan udara sejuk menyambut kedatanganku. Aku menulusuri pertokoan yang berada di dalam mal. Lelah sudah aku mencari barang yang aku ingini telah habis terjual dan belum diantar lagi ke toko. Putus asa menyelusuri dan menghasutku untuk menyesal tidak membelinya. Mainan itu sudah lama aku cari. Saat aku tidak memiliki uang, mainan itu tak dapat kubeli. Ketika aku memiliki sedikit uang dan aku ingin membelinya, barang itu sudah tidak terpajang lagi. Aku tak ingin menyia-nyiakan waktu yang kumiliki dan tetap terus mencari tokoh maianan yang kuingini.  Para penjaga toko duduk menunggu datangnya pembeli dari balik tembok kaca, sebagian toko lain yang kulewati berteriak-teriak menawarkan barang. Pernak pernik disuguhkan oleh pihak gedung. Alunan music bersaut-sautan di setiap toko yang ada. Anak-anak berlarian begitu bebas lepas melihat ruangan yang begitu luas. Toko-toko berlomba untuk mempertunjukkan produk yang mereka jual dan mencoba mencuri perhatian dari para pengunjung mal.
SALE, DISKON.
Tulisan itulah yang menggugah hati para pengunjung yang berdatangan di mal tersebut. Terutama para ibu-ibu berlomba-lomba untuk melihat produk apa yang ada bertulisan SALE di depan toko. Ruangan sebesar ini udaranya begitu dingin. Bukan karena suasana hujan tapi central dari pusatlah yang mengeluarkan udara dingin. Sehingga para pengunjung dari kelas atas sampai bawah merasa nyaman. Aku dapat memperhatikan mereka semua dari dalam, begitupun mereka dapat melihatku yang hanya terpisah oleh tembok kaca. Dan toko inilah pijakan terakhirku untuk mencarinya. Aku menyisiri setiap rak dan hampir semua rak tak terlewatkan olehku. Bart Simpson mainan yang aku ingini sejak dulu. Tiba diriku di pengujung rak. Rasa penasaranku yang menahan dan mengurungku untuk tetap terus mencari tokoh tersebut. Berakhir sudah pencarianku. Tak dapat kusesali lagi waktu yang telah lalu. Keadaanku saat itu memang tidak memiliki uang untuk membelinya. Penyesalan dan kesedihan menjadi satu perasaan yang terlebur dalam hati. Sia-sia sudah perjalananku ke tempat ini.
Tak berapa lama kemudian pandangan mataku yang liar memperhatikan sekeliling mendadak terhenti. Tertuju kepada seorang anak perempuan kecil yang pernah berjumpa denganku. Anak itu bersama dua orang ibu. Mereka berdiri tepat di samping dan membelakangi posisiku. Sehingga mereka tidak mengetahui keberadaanku. Hanya anak perempuan kecil itulah yang melihat dan melemparkan senyum manis dari wajah polos seorang anak. Akupun membalas senyuman yang ia berikan padaku. “Aha…mamuca (mama muda cantik) dan anak kecil itu berada disini juga.” Aku menggumam dalam hati sambil memperhatikan mereka. Barang yang aku cari tidak ada. Tapi aku sangat senang berjumpa lagi dengannya yang sudah mencuri perhatianku. Ibu muda cantik itu sungguh menggugah selera setiap mata yang memandang. Perhiasan mewah yang di pergelangan tangan, cincin emas berjejer di jemari serta kalung yang melingkar di lehernya. Mencerminkan ia orang berbeda. Rok mini di atas lutut hingga terlihat betapa mulus kulitnya bersinar serta kemeja ketat dengan kancing yang sedikit terbuka, membuat belahan dadanya terlihat. Meskipun rambutnya di ikat tidak rapi, tapi ia terlihat sangat seksi dan cantik. Dengan bibir yang di cat merah. Make up yang ia pakaipun tidak terlalu tebal. Aku terpesona melihat ke cantikan dirinya dan tubuh seksi yang semok, sehingga membuat seseorang ingin memeluk.
Bodoh sekali diriku. Aku terlalu jauh memikirkan dan menilai seorang mamuca. Ia menarik tangan diantara salah satu ibu yang berada di dekatnya. Mecoba memberitahukan keberadaanku. Akupun membalas senyumannya sambil menggelengkan kepala sebagai tanda tidak setuju, ia berbuat demikian. Ia menganggukan kepala sambil menarik kembali. Ibu itupun tersentak kaget. Dan menoleh melihat sekeliling untuk memastikan siapa yang sudah menarik tangannya. Matanya terus berputar mencari sumber penyebab seseorang yang sudah menarik tangannya. Akhirnya mata itu tertuju padaku, sepertinya seolah-olah akulah penyebab dari kejadian yang baru saja ia alami dan aku merasa terintimidasi menjadi salah tingkah.  Langsung saja aku membuang pandangan mataku ke salah satu mainan yang berada dihadapanku. Ketika aku ingin melihat kembali anak itu. Ia sudah tidak ada. Ada sesuatu yang menarik hatiku dan rasa ingin mengenalnya lebih dekat.
“Hai, kok bisa kebetulan ketemu disini.”
Aku tersentak kaget karena target yang aku cari sekarang berada di hadapanku. Anak perempuan kecil itu tersenyum.
“Kita cari makan, yuk.”
Akhirnya kamipun berlalu meninggalkan toko mainan yang aku singgahi. Tiba-tiba saja ia memeluk tanganku dengan erat. Seperti sepasang kekasih yang sedang berjalan di tengah-tengah keramain. Tubuhnya telah oleng karena terlalu banyak minum.
“Kita mau makan di mana, tante?” Tanyaku pada ibu muda cantik yang sudah terlihat mabuk.
“Iiih…jangan panggil tante, ah.” Ia menolak menunjukkan protes ketidak sukaannya terhadapku, memanggil dirinya tante. Aku mengerutkan alis.
“Kita makan di sini aja, yah.” Ibu muda cantik itu hanya menganggukan kepala. Seperti ada daya tarik yang sangat kuat aku dengan dirinya. Entah itu apa.
“Aku mau makan ikan asin.”
 Seolah-olah memohon padaku untuk memenuhi permintaan yang baru saja ia sampaikan. Tubuhnya terasa hangat menempel di kulitku.  Perasaanku bergejolak tiba-tiba. Tanpa sengaja aku melihat di bahu kirinya ada memar merah kebiru-biruan. Seperti lembam pukulan. Aku membiarkan dirinya bermanja bahagia, mendekap erat tanganku yang hampir keram kesemutan. Akankah ada sebuah kisah yang terurai dari ibu muda cantik ini. Kini aku sadar. Bahwa hanya akulah yang dapat melihatnya yang sedang berlari-larian penuh bahagia.
Akhirnya kamipun masuk ke restaurant yang sudah dipilih oleh anak itu. Ia terlihat sangat bahagia, ketika aku menyetujui tempat untuk kami makan. Sebagai rasa terima kasihnya padaku, ia tersenyum sambil berlari kearah sebuah ruangan khusus dan langsung duduk di bangku yang ia pilih. Aku sangat senang melihatnya. Ia duduk sambil mengoyang-goyangkan kakinya mendengar alunan music yang diputar oleh restaurant. Aku memanggil salah satu pelayan untuk memesan menu yang ada di daftar meja. Ketika saat aku ingin menulis. Kertas itu terjatuh. Aku membaca pesan yang baru saja aku ambil dari bawah lantai. Aku menoleh ke arahnya. Ia memberi suatu pesan rahasia melalui senyuman. Aku tidak mengerti bahasa isyarat yang dimilikinya.
“Kok, kamu tahu aku suka asin?”
 Ibu muda cantik itu terlihat kaget. Kuhisap rokok yang baru saja kubakar, untuk mengusir gugup dengan mencoba mencari jawaban yang tepat.
 “Menurut dokter. Usia seumur tante sekarang, tidak boleh banyak makanan asin.” Aku menjelaskan. Ia tersenyum bahagia, ketika aku menjelaskan menu makanan untuk dirinya.
“Ria, ini Ney. Barusan yang aku ceritain tadi.”
 Ia mencoba memperkenalkan aku dengan teman yang ada disampingnya. Bodoh. Aku memang bodoh, aku belum tahu siapa ibu muda ini. Rasa penasaran mendorongku. Untuk mencari tahu siapa yang dimaksud Mbah.
“Maaf tante. Eh…Ain. Aduh salah lagi gua.”Tiba-tiba saja kertas dan pulpen jatuh tepat di kakiku. Sesaat aku membiarkan kertas itu beberap menit. Tetap pada tujuan utamaku untuk mencari jawaban tentang sosok Mbah. Bukan maksud hatiku mengabaikannya.
“Heeehee, kenapa Ney?” Aku hanya mengikuti aturan main yang baru saja dimulai saat ini.
“Maaf, saya mau tanya. Mbah itu siapa yak?!” Ku raih kertas dan pulpen yang terjatuh. Sebuah tulisan tertera dengan sebuah kata. “Ia menyukaimu.” Isyarat apalagi yang anak ini akan sampaikan. Siapa ia yang dimaksud anak perempuan ini.
 “Ooh, Mbah. Memangnya ada apa?!”
 “Ngak papa. Cuman penggen tau aja.” Secepat kilat kata-kata itu meluncur begitu saja.
“Mbah itu masih muda dan cantik, makanya kami datang untuk meminta penggasihan darinya.”
“Pengasihan itu apa, sih?!” Pertanyaan bodoh ku lontarkan kepadanya dan ia hanya membalas senyuman.
Pengasihan itu semacam pemanis untuk bertemu sesorang atau bicara dengan seseorang. Mereka yang datang harus memakan bunga kantil. Satu persatu mereka diajak masuk keruangan praktek. Sebuah mangkuk terbuat dari tanah liat yang berisikan kembang tujuh rupa dan di tengahnya telah terbakar dua buah hio. Menurutnya itulah cara berkomunikasi dengan arwah. Bahkan sebuah tungku untuk membakar menyanpun terdapat di dalam ruangan. Dua buah kelapa hijau di taruh bersandingan dengan tungku menyan dan mangkuk tujuh kembang. Setiap tamu yang datang diberikan batu cincin. Batu yang diberikan itu bermacam-macam bentuk rupanya. Tamu-tamu yang hadir akan dimandikan air kembang. Tujuannya untuk membuka aura. Adapun tamu yang diberikan oleh si Mbah hanya sebuah jarum dan silet yang terbungkus dalam kain hitam. Jika tamu yang memiliki permasalahan dengan suaminya. Mereka hanya menyerahakan celana dalam bekas pakai si suami. Juga ada beberapa tamu yang menyerahkan foto dengan di tuliskan nama, tanggal lahir serta nama orangtua laki-laki. Aku menyimak ceritanya begitu serius.
Teringat akan sesuatu pada saat aku membuka kulkas. Ada sebotol minyak wangi yang berisikan beberapa helai seperti bulu. Bulu itu dinamakan bulu perindu. Aku pernah mendengar percakapan kakakku. Bulu perindu itu untuk sesorang yang akan selalu merindukan si pemakainya. Kakakku memakai minyak itu, ketika ia bertemu dengan mantan suaminya. Kembali kufokuskan otakku untuk mendengarkan cerita selanjutnya. Terkadang para tamu membawakan ayam hitam untuk diambil darahnya dan disiram ke foto yang diserahkan kepada Mbah. Mereka semua yang datang berobat atau berkonsultasi memberikan amplop yang berisi uang semampu mereka yang datang. Si Mbah memberikan saran untuk para tamunya dengan menyerahkan uang syariat untuk permohonan kepada ratu putri. Dan ada lagi keanehan terjadi. Sesekali si Mbah kemasukan roh-roh yang berbeda. Suaranya terkadang berubah menjadi seorang nenek-nenek tua, suara laki-laki bahkan suara anak-anak. Setelah berobat dengan si Mbah usaha mereka laris dan ada yang berhasil suaminya tunduk pada istri.
Ada pernah terdengar kabar. Bahwa salah satu pasien si Mbah, ketika usahanya laris dan ia lupa memberi syariat yang diminta oleh si Mbah. Dalam sekejap saja usaha itu langsung bangkrut. Aku tertegun mendengar cerita seru dari sosok Mbah. Menurut cerita yang aku dengar dari mamuca. Bahwa setiap tamu-tamunya menyerahkan kalung emas, cincin emas dan gelang emas. Alasan si Mbah untuk diisi sesuatu sebagai jimat atau pelindung bagi pemilik barang tersebut.
***