*Covid Cinta. Covid dan Cinta Memaksaku Mengenal Diriku Sendiri*

(Design By : Ade Dame)
“Covid Cinta”
*Covid dan Cinta Memaksaku Mengenal Diriku Sendiri*
Kesunyian adalah suara
di dalam ketakutan.
Bukan rasa sakit melainkan
Suara perdamaian.
Jika mereka tidak memiliki perasaan.
Mereka tidak merasa ketakutan.
Tetapi jika mereka tidak merasa ketakutan
Mengapa mereka lari?
Covid tidak bisa kita halau kan. Selain kita berpegang pada Cinta. Maka kamu dapat melewati keadaan ini semua. Karena “Covid Cinta” dihadirkan tidak dilihat dari Baik & Buruk Hidupmu. Itu lah Covid Cinta.
Otak ku berpikir dan bersandar pada kebodohanku sendiri. Pertanyaan itu muncul dan menggerogoti dinding sel saraf dalam otak. Covid. “Apa sebenarnya Covid itu?” Kalimat tsb muncul dan mencari celah – celah didalam rongga kebodohan yang aku miliki. Bodohnya diriku berpikir keras tentang Covid. Tiba – tiba sebuah kalimat membenturkan kepalaku dengan keras. “Pergaulan Buruk, Merusak Kebiasaan yang Baik,” itulah Covid.
Ku kerutkan alisku keatas. Lalu aku bertanya pada otak bodohku. Apa maksud dari kalimat yang muncul baru saja. “Covid itu mengenal siapa dirimu sendiri.” Kini aku mengerti makna kalimat tsb. Terkadang kita tidak menyadari, hadirnya Covid begitu berarti dan mengajarkan banyak hal pada diriku. Mengapa dan kenapa kita semua harus menjauhi kerumunan dan selalu menjaga jarak. Alasan yang masuk diakal dan dimengerti oleh otak bodohku.
Kebenaran kalimat tsb, benar adanya. “Pergaulan Buruk Merusak Kebiasan Baik.” Ku hisap sebatang rokok dengan ditemani segelas kopi untuk mengisi kesendirian ku saat ini. Asap yang ku hembuskan seolah – olah berkata, “Lidah memang tidak bertulang. Tapi, karena lidah bisa membunuh banyak orang. Perkataan yang kau ucap melalui mulutmu, itu akan berbalik dan dapat membunuhmu.” Seperti balok yang menimpa kepala dan memecahkan seluruh isi otakku.
Bagaikan gunung merapi yang memuntahkan lava panas ke muka Bumi. Demikian otak bodoh ku bekerja begitu cepatnya merangkai kalimat – kalimat yang tak aku pahami. Lidah? Mulut? Apalagi yang otak ku bicarakan saat ini. Kembali lagi ku hisap rokok yang bersembunyi disela -sela jemari dan ku teguk kopi yang setia mendampingi. Pahit manisnya begitu terasa dilidah. Otak bodohku memberikan penjelasan tentang lidah dan mulut. Seluruh umat di muka Bumi ini harus mengikuti peraturan yang dikeluarkan dengan menggunakan Masker. Dengan sebuah alasan Protokol Kesehatan.
Lagi – lagi pertanyaan yang buram mulai meracuni sel sarafku. Apa hubungannya dengan Masker. Ku tatap langit yang mulai gelap dan teriakan suara kematian yang hilir mudik di jalan membisingkan telinga. Otak bodoh ku menjawab. Tanpa kita sadari. Mengapa kita semua haruslah memakai Masker. Masker bukan hanya mencegah Covid masuk kedalam tubuh kita, melainkan kita pun harus menata kata – kata kita yang keluar dari mulut. Sehingga orang lain tidak menjadi terluka oleh kata yang kita ucapkan.
Sebuah bom meledak begitu cepatnya dalam otakku. Hingga membuat seluruh isi yang ada didalamnya berhamburan kata – kata. Aku terdiam sejenak untuk mencoba menyatukan pecahan pecahan kata tsb. Secara perlahan, ku coba susun kata – kata yang keluar menjadi suatu rangkaian kalimat. Begitu selesai tertata. Betapa terkejutnya diriku membaca. “Janganlah Membalas Kejahatan Dengan Kejahatan. Melainkan Kasihilah Musuhmu. Seperti Dirimu Sendiri.” Itulah Covid.
Otakku sakit dan terluka diakibatkan bom yang baru saja meledak. Apalagi maksud dan makna kalimat yang baru ku tata. Covid mengajarkan banyak hal pada diriku. Ku tenangkan diri ini sejenak dan mencoba menterjemahkan susunan kalimat tsb. Covid dan Cinta memang dapat membunuh seseorang dalam sekejap. Covid dan Cinta membuat luka yang tak bisa dihapuskan dalam ingatan kita. Apakah seseorang yang terjangkit Covid dan Cinta haruslah kita musuhi atau bahkan kita jauhi. Apakah dengan membalas kejahatan dapat menghapus memori yang sudah tertulis dihidup ini.
ADK, 5 Januari 2021, 23.23 wib
No comments:
Post a Comment