Enerjologi Cahaya Kemuning Kemuliaan Nya “Covid Cinta” ‘Shakila’

(Design By: Ade Dame)
*Respon Memang Sangat Penting*
Penulis : Ade Dame Kondel
Lukisannya Sugeng Santoso dari Narasi Novel Ade Dame Kondel yang mana sudah mampu mewakili esensi dan substansi ini, ada 5 buah hasil dari perkawinan seniwati novelita dengan seniman lukisan enerjologi pada 11 Maret 2020.
“Perkawinan Ener Jo logi VS Longor Jo logi”
(Sebuah Maha Karya dari Sang Pencipta dengan memandukan Dua Talenta dalam Lahir Kelahiran Jari Menari menjadi keajaiban Karya, Novelita Ade Dame dan Pelukis Enerjologi Ekspresionis Impresionis Sugeng Santoso)
Enerjologi Cahaya Kemuning Kemuliaan Nya “Covid Cinta”
‘Shakila’
Narasi 09:
Cinta itu Fatamorgana Dunia. Ketika terlihat dari jauh, ia begitu Bahagia. Saat tampak dekat ia penuh dengan Derita. Keindahan seorang wanita tidak dilihat dari cantik paras wajah dan tubuhnya. Melainkan dari hati yang terpancar lewat pribadi tingkah laku. Seperti Cahaya Kemuning yang berkilau bagaikan Emas Murni yang mengetarkan Nurani. Hawa itu adalah bukti Cahaya Kemuning Kemuliaan Nya dan menjadi pendamping bagi Adam di taman Surga Kesadaran dan Alam Penemuan Penelusuran Akal dan Daya Imajinasi Kreatif Kita.
Makna
Mr dan Mrs Covid membentuk sebuah gambaran baik serta buruk bagi setiap bangsa.
Corona Covid 19 hadir dan bertahta di panggung ingatan kita semua, serta merasuk ke pusaran jiwa.
Percayalah saat Covid dan Cinta berlalu pergi, yang tertinggal hanyalah sebuah Kenangan dirindukan.
Peristiwa itu terlukis dalam lubuk hati yang paling terdalam.
Sadarkah kita sang Tokoh Utama yang berperan di Panggung Dunia membawa sebuah makna Penting bagi kita.
Seluruh Dunia serentak membuat UU Darurat. Peraturan yang dikeluarkan untuk menjaga luasnya virus secara cepat. Safety self dengan berdiam diri di rumah, membuat pernyataan dalam diri demi keselamatan bersama.
Pademi Covid 19 mengajarkan ku untuk berdiam, merenung, menenangkan serta belajar mengerti akan rencana Kehendak Cinta Ilahi.
Kini aku menyadari, saat aku mengukir nama seseorang di tangan ku dan memeterai dirinya dalam hati. Maka aku harus siap menanggung segala resiko yang datang menghantam.
Itulah Covid Cinta yang mewarnai dan hadir dalam hidup kita.
Iya, Putaran roda itu terus berguling di atas aspal, melaju dengan cepat yang terkontrol oleh jarum jam speedometer. Seluruh dunia tidak akan pernah tahu wabah ini akan berlalu, grafik angka kematian terus meningkat layaknya perlombaan dalam pertandingan dunia.
Pademi ini menyadarkan ku tentang system cara kerjanya Tuhan baik pada diriku sendiri maupun untuk Dunia. Otak bodoh ku terlintas dan bertanya-tanya begitu saja tentang hadirnya untukku. Apakah Tuhan lebih buruk dari kita? Menurutku Tuhan tidak akan pernah masuk ke hati seseorang yang keras kepala.
Mengenal Tuhan lewat pengakuan dan penundukkan diri menghadap diri Nya. Didalam Tuhan itulah pengakuan yang kita ungkapkan, saat kita tahu Tuhan maka kita tidak mati secara tubuh, melainkan mati secara rohani.
Kisah derita dan penderitaan yang kita semua alami untuk di jalani hanyalah mengajarkan prihal Cinta, Sayang, Kasih Nya buat kita semua. Rasa sakit itu adalah Peristiwa. Saat kamu tidak merasakan sakit. Maka kamu tidak akan dapat menceritakan yang kamu alami ke semua orang.
Kenapa harus kita takuti Covid yang hadir dan menguasai Dunia. Semua yang terjadi di muka Bumi ini sudah ada goresan Pena Sang Ilahi. Corona Covid 19 akan menjadi buah bibir sepanjang masa. Iya. Seperti bayangan masa lalu menjadi suatu mimpi buruk buat kita dalam bentuk sebuah Trauma.
Tuhan menciptakan mata manusia hanya 2 dan selalu menghadap ke depan. Kedua mata itu tidak dapat melihat kebelakang maupun kesamping. Selain kita memutarkan kepala sambil membalikan badan atau menoleh ke sisi lain.
Lanjutan Narasi 09
Ketika seseorang yang begitu mencintai, menyayangi dan mengasihimu. Ia sangat memahami luar dan dalam siapa dirimu. Pertahankanlah ia. Jangan pernah kamu sia-siakan. Suatu hari dirinya pergi meninggalkanmu. Akan hanya ada penyesalan yang tak dapat terucap. Karena Cinta, Sayang akan pudar. Tapi, Kasih tak kan Pudar meski Dunia telah punah.
Makna
Dunia terasa gelap, mati, kosong dan hampa. Maka yang timbul dari lubuk jiwa sebuah ketakutan, emosi, kekhawatiran serta ketegangan hingga menggucangkan kejiwaan diri.
Harapan yang tak terlihat itu menjadikan kita menjauh dari Sang Pencipta.
Hadirnya Covid melukiskan luka dalam ingatan kita. Dirinya menjadi pamor dalam catatan Dunia.
Mr dan Mrs Covid semakin berkembang biak begitu hebatnya. Mereka membusungkan dada dengan kesombongan, karena berhasil menguasai Panggung Dunia. Tali-tali kematian melambai-lambai siap melilit hidup kita. Suara sinere berteriak sepanjang jalan, seolah-olah berkata “Kalian semua akan berada didalamnya.” Ketakutan menghasut nurani, membuat kita tidak mampu menghadapi.
Mr dan Mrs Covid membangun kerajaannya sendiri dengan megah. Ia berhasil melumpuhkan segala aspek dan kegiatan kita. Ia hadir dan bertahta dalam hati dan pikiran. Kerajaannya berdiri kokoh di gorong-gorong hitam dan kotor dalam hidup setiap manusia. Didalam ketakutanlah ia berkuasa dan mencoba mengintimidasi setiap makhluk yang pergumulan pikiran dan pemikirannya menggunakan akal budi Nya apa persepsi perasaan ketakutan kecemasan nya yang dangkal.
Tanpa kita sadari kesaksian yang terlemah tersembunyi, sangat cerdas, tangguh penuh imun dan yang mampu kita jaga, Kita bangun adalah Iman Kita; dan keberimanan kita yang mampu menemukan pandangan ke indah an di jaman Covid ini; sebab Ke indah an itulah bukti terpakainya mata IMAN Kita.
Adanya penemuan akal budi dan pikiran kita atas KE INDAH AN dalam Covid, itulah Cahaya Kemuning KemilauNya dalam diri Kita yang justru terbangkitkan di Jaman Covid ini
Coba kita berpikir untuk mengulas ingatan kita kembali. Tepat pada tanggal 01 January 2020 Adalah tahun dimana Tuhan sedang meRenovasi Jagad. Berawal dari Banjir dan hingga detik ini ke khawatiran melanda kita dengan Hadirnya Covid.
Tapi…bagi orang yang Bijak, ia akan mengerti Peran Covid sesungguhnya. Karena Covid Mengajarkan Banyak Hal. Salah satunya adalah Ke indah an Cinta. Ke Indah an “Covid Cinta” Ilahi menyadarkan diri kita untuk selalu berharap dan bersandar pada Nya. Mengapa kita meragukan Kasih Nya, setiap waktu dalam hidup kita tak sedikitpun tak pernah Ilahi meninggalkan.
Terlihat oleh kita langit begitu suram tanpa harapan, Awan hitam menghambat perjalanan Cahaya Sinar Kemuning Kemuliaan Nya;
dan seluruh Dunia menghadapi Badai yang sangat menakutkan. Kehidupan terus menyelusuri jalan hidup yang kita lalui. Ada masa transisi yang harus dilewati. Masa-masa itu menjadi suatu bagian dari Perjalanan Hidup untuk kita. Ada kenangan yang terlupakan dan ada pula kenangan yang tak terlupakan. Warna hidup itu membuat sebuah Lukisan yang indah dan selalu kita ingat sepanjang masa. Ke indah an dalam seluruh kaca mata kesadaran dan kebersyukuran dari Covid itu dengan hadirnya Karunia Hidayah Ke Indah an Covid Cinta Ilahi bagi umat Nya.
Jadikan hidupmu seperti Matahari. Ia selalu memberikan kehangatan Sinarnya, tanpa memandang siapapun. Entah…itu orang kaya atau miskin dan bahkan tak memilih apakah seseorang itu tampan maupun cantik. Tak melihat seseorang itu Baik atau Jahat.
Terima kasih KASIH mamaku yang terhebat, sudah memberikan tempat untukku yang terindah, dalam rahimmu.
Makna
Shakila adalah seorang anak perempuan kecil yang menjerit batinnya dan tersungkur di atas sajadah. Dirinya menangis memohon pada Sang Ilahi untuk kesembuhan sang ibu yang sudah lama tidak dapat berjalan dikarenakan sakit. Kesaksian ini ku tulis untuk semua para pembaca dan dapat belajar Merespon bahwa Hadirnya Covid Mengajarkan Banyak Hal.
Matahari begitu menyengatnya diubun-ubun kepala. Diri ini menghindar dengan cepat dari terik panasnya. Ku sandarkan tubuh ini di pojok ruang yang hening.
Shakila. Nama itu tergiang keras ditelinga. Shakila. Siapa dia? Ada apa dengan Shakila.
Nama adalah Doa.
Aku harus mencari dimana seseorang yang memiliki nama Shakila.
Sejenak aku abaikan nama tersebut. Kini nama itu muncul lewat bisikan hati. Kegelisahan mulai merasuki ku. Merobek-robek jiwa.
Apa yang harus aku lakukan dan perbuat untuk menemui seseorang yang memiliki nama Shakila.
Dengan respon cepat, aku mengambil handphone selular dan memasang nama tersebut di status. Cukup waktu lama otak ku berpikir keras tentang Shakila. Ku hembuskan nafas panjang. Mengapa nama itu kuat sekali memanggilku.
Waktu terus berputar, berkejar-kejaran dengan nurani. Namun, nama itu masih terdengar dan hati ini berkata ‘Shakila.’
Aku hampir gila dan tak berdaya, keputus asaan melanda jiwa.
Shakila. Dimanakah dirimu berada. Saat hati ini gundah gulanah. Sebuah nama muncul di chat hpku. Ucel Jhon. Segera aku buka chat yang baru saja masuk dan membacanya. “Itu nama anaknya Dije, Cha.” Begitu terkejutnya diriku saat membacanya.
Namaku Racha. Aku seorang musafir yang tidak pernah berdiam disuatu tempat. Diriku berkelana kemana saja , ketika tugas memanggil. Sudah 24 tahun aku tidak pernah bertemu dengan Dije sejak lulus dari bangku sekolah.
Enerjologi “Covid Cinta” Ilahi mempertemukan kami kembali.
Shakila dirinya seperti kunang-kunang yang terbang ditengah kegelapan malam dalam hidupku. Ia dikirim Tuhan bagaikan anak panah yang siap meluncur dan melesat cepat menuju titik sasaran yang aku inginkan. Terbang melewati batas pikiran otak normal manusia.
Antara ada dan tiada. Kini sahabatku yang bernama Dije yaitu ibunda dari Shakila merasakan hadirnya Cahaya Kemuning Kemuliaan Nya dengan kesembuhan terjadi.
Ketika kamu merespon apa yang Tuhan suruh. Maka sesuatu AKAN terjadi.
Makna
Uncel Jhon merespon status yang aku pasang tentang ‘Shakila’ sehingga kesembuhan terjadi atas sahabat kami. Cahaya Kemuning Kemuliaan Nya terpancar dalam diri seorang anak yang menangis diatas sajadah.
Tapi ingat. Jangan pernah lupakan setan. Jika tidak ada setan. Maka tidak ada PROSES dalam hidup kehidupanmu secara utuh penuh nan menuju sempurna.
Makna
Perbuatan jahat sesorang adalah bagian dalam cerita hidup untuk memproses kita menjadi lebih dekat kepada Ilahi sang pemilik jagad raya ini.
Respon Memang Sangat Penting
Editor : Guntur Bisowarno
No comments:
Post a Comment