Thursday, April 2, 2020

Lanjutan_Novel Ain & Ney_Kisah Cinta Yang Terlarang








“Angkat satu kakimu dan pegang telingamu itu. Kamu ini perempuan bukan laki-laki!”
Kakakku tersenyum bahagia jika aku mendapat hukuman dari mama. Tapi aku tidak memperdulikan ledekan bahagia yang kakakku lemparkan, meskipun terkadang jengkel melihatnya yang menjadi perempuan lemah dan cengeng serta pengaduan. Tapi aku sangatlah mengasihi kakakku yang cengeng itu. Suatu hari aku sedang asyik bermain bersama teman-temanku. Teman kakakku menangis karena salah satu teman laki-laki mendorongnya. Hanya karena sebuah boneka miliknya direbut. Ketika aku melihat teman kakakku itu. Aku menghampiri, lalu meninjunya sampai berdarah dan merebut bonekanya kembali. Aku tidak menyukai seorang laki-laki yang pengecut dan berlaku kasar pada anak perempuan. Tak selamanya anak perempuan itu lemah. Kakakku berlari sekencang-kencangnya dan bersembunyi di dalam rumah. Meskipun kakakku adalah seorang mata-mata yang ditugaskan mama untuk melaporkan semua daftar kenakalanku. Dan aku harus menjalankan hukuman. Aku sangat menyayanginya dan berusaha selalu ada untuk melindungi. Tak lama kemudian setelah beberapa menit kejadian itu. Tiba-tiba mama hadir begitu saja tanpa aku ketahui. Aku belum pernah melihat mama marah sehebat itu dan memukul diriku dengan hanger yang biasa dipakai untuk menjemur pakaian.
“Kenapa kamu pukul anak orang sampai berdarah. Kalau mama tahu kamu nakal seperti ini, seharusnya mama buang dari perut mama.” Aku tersenyum bahagia melihat teman kakakku yang aku pukul hingga berdarah. Pukulan mama yang begitu hebatnya tak aku rasakan. Kakakku sangat begitu ketakutan sekali melihat mama marah dan memukuliku. Kakakku itu meski ia seorang pengaduan, dibalik sosok kelemahannya ia sangatlah perhatian. Ketika mama memberi hukuman yang harus dijalani dan aku tidak diizinkan untuk makan. Dengan diam-diam ia mengambil makanan dan menyuapiku. Aku tidak pernah takut pada siapapun terkecuali mama. Ya, hanya mama yang aku takuti. Sebab aku tidak ingin mama memiliki beban baru dalam hidupnya. Aku akui memang aku sangat sedikit memberontak. Meski terkadang kenakalanku membuat air mata mama menetes. Tak kuasa hati ini melihat mama yang selalu terkena hantaman pukulan papa.  Aku tak dapat membelanya seperti aku membela kakakku dari temannya. Ia membiarkan dirinya tersiksa demi kami. Masih tersimpan luka yang tak dapat terobati. Begitu kejamnya perlakuan papa terhadap mama. Pukulan papa mendarat, hingga membuat mama pingsan.
“Bangun. Jangan pura-pura pingsan.” Saut papa, tanpa ia memperdulikan keadaan dan menendang perut mama. Supaya mama terbangun dari pingsannya. Aku hanya terdiam. Ingin rasanya aku membalas perlakuan papa. Tapi apalah dayaku, aku hanyalah seorang anak kecil. Yang dapat menonton adegan yang tak layak kulihat. Peristiwa-peristiwa itu membuat benih luka yang terdalam.
Sejak papa kembali pada kami dalam keadaan sakit-sakitan. Aku sangat jarang di rumah. Hingga suatu ketika aku baru pulang dari rumah temanku. Aku terkejut setelah tiba di depan rumah.
“Mama kenapa?” Tanyaku sedikit agak bingung bercampur marah. Aku ditarik oleh salah seorang saudara mama. Aku tidak menerima perlakuannya terhadapku yang mencoba menjauhkan diriku dari mama. Dengan spontan melesat pukulan kerasku mendarat kewajahnya.
“Mama kenapa menangis!” Ia hanya terdiam. Aku geram dan sangat marah sekali, tak ada satupun makhluk yang menjawab pertanyaanku. Aku tak sanggup melihat keadaan mama dengan tangisannya. Ketiga kakakkupun mereka menangis. Perasaanku campur aduk karena bingung dengan keadaan rumah. Pintu kamar terbuka lebar, terlihat olehku di atas ranjang. Sebuah kain terbentang lebar berbentuk tubuh. Aku lari ke kamar dan mendapatkan tubuh papa yang sudah terbujur kaku. Aku menghampiri jenasah papa dan membuka kain yang menutupinya.
“Aku anak yang paling papa benci. Tapi lihatlah suatu hari nanti, akulah yang akan membahagiakan mama. Itu janjiku.” Ucapku dalam hati dan menutup kembali wajahnya dengan kain tersebut. Hatiku bercampur antara sedih dan senang atas kematian papa. Tidak ada lagi penderitaan  yang selalu mamaku dapatkan. Tidak ada lagi kerisauan yang terpancar dari wajahnya. Mamaku telah terbebaskan dari makhluk jahat yang ada dihidupnya. Rumah kami ramai oleh tetangga dan sanak saudara. Aku hanya terdiam dan berlalu pergi meninggalkan keramaian yang ada. Luka itu telah dibawa pergi oleh papa dan bekasnya masih tergores dalam kenangan buruk tak terhapuskan.
***



1 comment:

  1. Yuk Merapat Best Betting Online Hanya Di AREATOTO
    Dalam 1 Userid Dapat Bermain Semua Permainan
    Yang Ada :
    TARUHAN BOLA - LIVE CASINO - SABUNG AYAM - TOGEL ONLINE ( Tanpa Batas Invest )
    Sekedar Nonton Bola ,
    Jika Tidak Pasang Taruhan , Mana Seru , Pasangkan Taruhan Anda Di areatoto
    Minimal Deposit Rp 20.000 Dan Withdraw Rp.50.000
    Proses Deposit Dan Withdraw ( EXPRES ) Super Cepat
    Anda Akan Di Layani Dengan Customer Service Yang Ramah
    Website Online 24Jam/Setiap Hariny

    ReplyDelete