“Angkat satu kakimu dan pegang telingamu
itu. Kamu ini perempuan bukan laki-laki!”
Kakakku tersenyum bahagia jika aku
mendapat hukuman dari mama. Tapi aku tidak memperdulikan ledekan bahagia yang
kakakku lemparkan, meskipun terkadang jengkel melihatnya yang menjadi perempuan
lemah dan cengeng serta pengaduan. Tapi aku sangatlah mengasihi kakakku yang
cengeng itu. Suatu hari aku sedang asyik bermain bersama teman-temanku. Teman kakakku
menangis karena salah satu teman laki-laki mendorongnya. Hanya karena sebuah
boneka miliknya direbut. Ketika aku melihat teman kakakku itu. Aku menghampiri,
lalu meninjunya sampai berdarah dan merebut bonekanya kembali. Aku tidak
menyukai seorang laki-laki yang pengecut dan berlaku kasar pada anak perempuan.
Tak selamanya anak perempuan itu lemah. Kakakku berlari sekencang-kencangnya
dan bersembunyi di dalam rumah. Meskipun kakakku adalah seorang mata-mata yang
ditugaskan mama untuk melaporkan semua daftar kenakalanku. Dan aku harus
menjalankan hukuman. Aku sangat menyayanginya dan berusaha selalu ada untuk
melindungi. Tak lama kemudian setelah beberapa menit kejadian itu. Tiba-tiba
mama hadir begitu saja tanpa aku ketahui. Aku belum pernah melihat mama marah
sehebat itu dan memukul diriku dengan hanger yang biasa dipakai untuk menjemur
pakaian.
“Kenapa kamu pukul anak orang sampai
berdarah. Kalau mama tahu kamu nakal seperti ini, seharusnya mama buang dari
perut mama.” Aku tersenyum bahagia melihat teman kakakku yang aku pukul hingga
berdarah. Pukulan mama yang begitu hebatnya tak aku rasakan. Kakakku sangat
begitu ketakutan sekali melihat mama marah dan memukuliku. Kakakku itu meski ia
seorang pengaduan, dibalik sosok kelemahannya ia sangatlah perhatian. Ketika
mama memberi hukuman yang harus dijalani dan aku tidak diizinkan untuk makan.
Dengan diam-diam ia mengambil makanan dan menyuapiku. Aku tidak pernah takut
pada siapapun terkecuali mama. Ya, hanya mama yang aku takuti. Sebab aku tidak
ingin mama memiliki beban baru dalam hidupnya. Aku akui memang aku sangat
sedikit memberontak. Meski terkadang kenakalanku membuat air mata mama menetes.
Tak kuasa hati ini melihat mama yang selalu terkena hantaman pukulan papa. Aku tak dapat membelanya seperti aku membela
kakakku dari temannya. Ia membiarkan dirinya tersiksa demi kami. Masih
tersimpan luka yang tak dapat terobati. Begitu kejamnya perlakuan papa terhadap
mama. Pukulan papa mendarat, hingga membuat mama pingsan.
“Bangun. Jangan pura-pura pingsan.” Saut
papa, tanpa ia memperdulikan keadaan dan menendang perut mama. Supaya mama
terbangun dari pingsannya. Aku hanya terdiam. Ingin rasanya aku membalas
perlakuan papa. Tapi apalah dayaku, aku hanyalah seorang anak kecil. Yang dapat
menonton adegan yang tak layak kulihat. Peristiwa-peristiwa itu membuat benih
luka yang terdalam.
Sejak papa kembali pada kami dalam keadaan
sakit-sakitan. Aku sangat jarang di rumah. Hingga suatu ketika aku baru pulang
dari rumah temanku. Aku terkejut setelah tiba di depan rumah.
“Mama kenapa?” Tanyaku sedikit agak
bingung bercampur marah. Aku ditarik oleh salah seorang saudara mama. Aku tidak
menerima perlakuannya terhadapku yang mencoba menjauhkan diriku dari mama. Dengan
spontan melesat pukulan kerasku mendarat kewajahnya.
“Mama kenapa menangis!” Ia hanya terdiam.
Aku geram dan sangat marah sekali, tak ada satupun makhluk yang menjawab
pertanyaanku. Aku tak sanggup melihat keadaan mama dengan tangisannya. Ketiga
kakakkupun mereka menangis. Perasaanku campur aduk karena bingung dengan
keadaan rumah. Pintu kamar terbuka lebar, terlihat olehku di atas ranjang.
Sebuah kain terbentang lebar berbentuk tubuh. Aku lari ke kamar dan mendapatkan
tubuh papa yang sudah terbujur kaku. Aku menghampiri jenasah papa dan membuka
kain yang menutupinya.
“Aku anak yang paling papa benci. Tapi
lihatlah suatu hari nanti, akulah yang akan membahagiakan mama. Itu janjiku.”
Ucapku dalam hati dan menutup kembali wajahnya dengan kain tersebut. Hatiku
bercampur antara sedih dan senang atas kematian papa. Tidak ada lagi
penderitaan yang selalu mamaku dapatkan.
Tidak ada lagi kerisauan yang terpancar dari wajahnya. Mamaku telah terbebaskan
dari makhluk jahat yang ada dihidupnya. Rumah kami ramai oleh tetangga dan
sanak saudara. Aku hanya terdiam dan berlalu pergi meninggalkan keramaian yang
ada. Luka itu telah dibawa pergi oleh papa dan bekasnya masih tergores dalam
kenangan buruk tak terhapuskan.
***

Yuk Merapat Best Betting Online Hanya Di AREATOTO
ReplyDeleteDalam 1 Userid Dapat Bermain Semua Permainan
Yang Ada :
TARUHAN BOLA - LIVE CASINO - SABUNG AYAM - TOGEL ONLINE ( Tanpa Batas Invest )
Sekedar Nonton Bola ,
Jika Tidak Pasang Taruhan , Mana Seru , Pasangkan Taruhan Anda Di areatoto
Minimal Deposit Rp 20.000 Dan Withdraw Rp.50.000
Proses Deposit Dan Withdraw ( EXPRES ) Super Cepat
Anda Akan Di Layani Dengan Customer Service Yang Ramah
Website Online 24Jam/Setiap Hariny