Monday, April 20, 2020

CCTV Surga Tidak Pernah Mati Lampu



Cermin Retak
     Angin berhembus membawa kesejukkan, menyapa dedaunan yang terdiam. Dalam kelam aku tenggelam, mengharapkan cinta menebarkan kebahagiaan. Sekeping hati dikehidupan, meluluhkan diri dalam ketakutan. Aku berlari meraih mimpi untuk mendapatkan kedamaian dan kenikmatan cinta dikehidupan. Tangan lembut membelai aku penuh kasih sayang. Mengajak diriku menatap awan terang menuju Surga. Terpesona aku dalam kedamaian, meninggalkan sejenak ketakutan yang membayang. Ketika kuterjaga di kala fajar, namun cinta itu tak kudapati. Penderitaan dari kelembutan cinta, merobek hati hingga terluka. Bias cinta itu sirna bersama awan gelap yang mengiringi suasana jiwa.
     “Papa, Mama. Papa, Mama, Kakak.”  Aku memanggil dengan suara lantang. Mencari sesosok yang kusayang. Sambil berlari berteriak memanggil seseorang yang telah hilang.
     Dalam kamar yang remang oleh cahaya. Lihatlah koleksi tokoh-tokoh kartun yang lengkap, seperti : Lucky Luke, Bart Simpson, Tin Tin dan tokoh-tokoh kartun lain yang terpajang di atas lemari dan tertata rapi di kamarku. Dan beberapa mobil mainan berada disisi ranjang. Dari sekian banyak koleksi kartun yang aku miliki. Hanya kartun Tin Tinlah yang paling kusuka. Bahkan aku pun memiliki tokoh boneka kesayangan, untuk menghantar diriku terlelap setiap malam. Sebuah selimut bergambar mobil McQueen menutupi tubuh mungilku yang terbaring dalam kegelapan. Mata yang terpejam, sementara hati penuh kegelisahan. Tubuhku bergerak ke kanan dan ke kiri, keresahan menyelinap masuk kedalam.
     Malam yang kelam membuat suatu kesunyian menghantar tidur yang tak dapat terlelap. Buaian mimpi indah dengan memiliki keluarga harmonis dalam cinta telah sirna. Pecahan kaca yang terjatuh ke lantai, membuat suatu keributan di tengah malam. Suara keras itu membuat diriku terjaga. Terdengar dari dalam papa dan mama sedang bertengkar. Tak tahu apa yang sedang terjadi di luar kamar.
     “Apa yang sudah kau lakukan?” Suara mama yang sangat keras, hingga terdengar ke dalam.
     “Aku tidak perduli. Aku akan menceraikanmu.” Suara papa begitu lantang menjawab. Terdengar pukulan sampai mama menjerit ke sakitan.
     Serpihan barang pecah belah bertaburan. Suasana malam yang tenang menjadi suatu ketegangan bagiku. Aku terduduk di bawah samping ranjang, sambil memegang tokoh boneka kesayangan di tangan. Ketakutan hadir menghinggap dalam tubuh. Kututup kedua teliga dengan tangan. Seolah-olah tak ingin mendengarkan pertengkaran mereka. Sebuah rumah impian. Rumah yang sempurna yang aku dambakan. Lambang kebahagaian.
     “Jaga ucapanmu. Anak-anak sedang tidur di kamar.” Bantah mama keras. Bukan sekali ini saja aku mendengar mereka bertengkar. Terlintas di mata ada lebam biru, serta darah yang mengalir dari bibir. Sudah pasti terkena hantaman keras. Tak ada lagi kegembiraan, tak ada lagi tawa canda yang tersisa, hanyalah luka. Sebuah luka yang tergores dari peristiwa malam ini. Kusembunyikan wajah di balik boneka dan cucuran airmata yang berlinang.
     Aku tak dapat melakukan apa-apa. Lampu kamar yang remang menutupi kecemasan. Suara keras terdengar dari celah-celah lubang angin di dinding kamar. Bergema seperti harimau yang mengaum dalam goa dan siap menerkam sang lawan.
     Tak berapa lama kemudian mama yang hanya terdengar suaranya saja, membuka pintu kamar dan menyalakan lampu. Ia menghampiri ku yang bersandar di tepian ranjang. Dengan menyembunyikan wajah dari ketakutan yang menari-nari. Mukaku menampakkan guratan kesedihan saat dirinya menghampiri. Pelukkan erat diiringi airmata. Hatiku penuh dengan kekecewaan dan dendam terhadap papa yang sudah menyiksa tanpa ada belas kasihan, hingga membuat luka disekujur tubuh wanita yang kusayang. Betapa sakitnya hati ini melihat perlakuan makhluk buas seperti monster kejam dan tak memiliki belas kasihan.
Mentari  pagi mulai tampak gagah melalui sinarnya. Cahaya itu mengisyaratkan, pagi ini adalah sebuah dunia yang baru untuk dituliskan dalam lembar kehidupan. Aku pria kecil yang terlihat sangat menikmati tokoh mainan kesayangan. Dan meletakan tokoh-tokoh tersebut di atas meja ruang tamu sambil memainkan. Kakak menghampiri ku yang sedang asyik bermain dan membawakan sebungkus biscuit serta segelas susu. Sepotong biscuit disodorkan kedalam mulut. Tanpa membantah sedikit pun, mulut ini terbuka menyambut biscuit yang sudah berada di pinggir bibir. Setelah ia menyuapi sepotong biscuit, berlalu pergi dan membiarkan diriku kembali bermain.
Begitu sibuknya mama pagi ini dan berlalu keluar dari kamar dengan berpakaian rapi. Ia menghampiri telepon yang tergeletak di atas meja. Tangan halus penuh cinta meraihnya. Jari-jari lentik dengan lincah memencet nomor telepon yang ia tuju. Aku yang sedang bermain dengan koleksi tokoh kesayangan, memalingkan wajah dan mengarahkan salah satu koleksi mainan ke dirinya. Pikiran ku mencoba menerka, salah satu jagoan dari koleksi mainan yang aku miliki dapat melindunginya yang selalu tersakiti.
“Baiklah. Saya sudah mempersiapkan semua. Nanti saya akan kabari secepatnya, saat saya sudah di tempat.” Begitu serius ia berbicara dengan seseorang melalui telepon. Sambil tersenyum, aku kembali meletakan tokoh jagoan yang berdampingan dengan mainan yang lain. Setelah selesai ia berbicara lewat telepon dan kembali menghubungi seseorang.
 Pagi yang terlihat sibuk. Sampai-sampai ia tidak menyadari diriku telah menyiapkan seorang jagoan untuk melindunginya. Kakak menghampiri keseruan yang aku lakukan. Dirinya  begitu penuh kasih dan bertanggung jawab untuk mengurusku sebagai jagoan kecil yang asyik bermain dalam dunianya.
“Apa yang sedang kau lakukan dengan semua jagoanmu itu?” Keingintahuannya, membuat diriku semangat untuk memperlihatkan semua apa yang aku miliki.
“Ini adalah jagoanku. Namanya Lucky Luke. Ia akan melindungi mama dan kakak dari orang jahat.” Aku menyerahkan tokoh jagoan kepadanya. Dan menceritakan satu persatu prihal seluruh jagoan yang berada di atas meja tamu. Ia pun mendengar keseruanku bercerita. Keakraban dan kemesraan diantara kami terlihat di pagi ini. Kakakku  kagum akan cerita seru yang didapatkan dari adik laki-lakinya. Ia pun memegang tanganku yang mungil tersebut dan tawa kecil yang kami keluarkan.
“Kamu sangat pintar sekali dengan menceritakan seluruh tokoh jagoanmu.” Sambil membelai rambutku. Sungguh begitu senang ia kubuat melalui cerita yang didengarkannya. Pelukan hangat diberikan sebagai tanda terima kasih untuk ceritaku. Mama telah selesai dengan urusannya. Ia menghampiri kami yang dilapisi kebahagian kecil pagi hari. Tawa riang itu terhenti. Aku menoleh kearah mama.
“Ini untukmu mama. Mama harus membawanya kemanapun. Sebab ia akan menjaga mama dari orang-orang yang akan melukaimu.” Sambil menyerahkan tokoh jagoanku. Senyum penuh cinta terpancar dari wajah polosku untuk sang mama. Wajah ini terbias cahaya kebahagiaan. Aku pria kecil berusaha menunjukkan perlindungan untuknya. Kakak perempuanku yang sejak tadi menemani diriku bermain, tersenyum senang.
“Apa yang harus kulakukan dengan jagoanmu ini?” Ia menerima pemberian dari anak laki-laki kecilnya. Bentuk kasih sayang yang aku berikan. Mereka tak mengetahui kehancuran hati yang kurasakan. Peristiwa semalam merobek luka dalam diri.
Di samping halaman rumah dengan tanah yang cukup luas untuk bermain. Meskipun ada jemuran yang bergelantungan membuat pemandangan alam menjadi tidak indah, dan terdapat dua keranjang di bawah pohon yang rindang, untuk menaruh hasil ladang serta tampah di atasnya. Di sisi tembok sebelah kanan ada sebuah mobil mainan terpakir tenang dan di sisi tembok sebelah kiri pun ada juga sepeda beroda empat yang terdiam seperti tanpa ada pemiliknya. Aku duduk di tengah dua kendaraan yang berdiam di sisi tembok.
Semua mainan kesayanganku ada di atas meja kayu kecil dan di hadapanku ada sebuah bangku kayu yang tak berpenghuni. Selain diriku ada seorang laki-laki yang seusia denganku sedang asyik bermain bola. Ia menedang dan mengejar kemana arah bola itu pergi. Tak sedikit pun aku menghiraukannya. Sama-sama menikmati permainan dengan dunia kami. Bola mengelinding tepat di samping kakiku. Aku yang asyik bermain dengan tokoh mainanku, berpaling focus dengan kehadiran bola yang menghampiri. Tubuhku tertunduk meraih bola dan memberikan kepada pemiliknya.
“Kita main bola, yuk.” Ia memantul-mantulkan bola ke tanah dan melemparkan berulang-ulang ke tembok untuk mencari perhatian, agar bisa bermain bersamaku. Aku hanya menggelengkan kepala, menolak secara halus dan beralih ke mainan yang  kumiliki.
Matahari telah mulai pudar sinarnya, menandakan gelap akan datang. Pergeseran waktu telah hampir tiba. Diriku masih terlena dalam dunia tokoh jagoan, sehingga tak kuhiraukan hari hampir gelap. Aroma masakan terbawa oleh angin dan menembus ke indra penciuman. Menandakan saatnya makan malam telah disiapkan. Wangi itu mengusik dan mulai merasuk. Membangunkan organ-organ tubuh yang tertidur lelap. Rasa lapar kini mulai bergejolak  dan memberikan sebuah nada keras hingga terdengar di telinga.  Makan malam pun tiba. Aku berada di tengah keluarga yang tak dikenal. Hidangan telah tersedia di meja makan.
Piring telah tertata, nasi dan lauk ikan serta sayuran meramaikan meja makan malam ini.  Mereka dengan lahap menikmati santapan yang berada di atas meja. Sementara aku, hanya melahap nasi putih yang dihidangkan oleh tuan rumah. Miris, sedih hatiku. Tapi tetap kunikmati makanan tersebut. Aku menyadari, bahwa diriku hanyalah orang asing yang tinggal sesaat saja di tempat ini.
“Kamu harus makan yang banyak, yah…nak.” Seorang ibu yang ada dihadapanku, memberikan lauk pada anaknya. Mereka begitu harmonis terlihat berada di meja makan. Tak satu pun diantara mereka yang menghiraukan diriku.
Dalam pembaringan yang remang sedikit cahaya yang menerangi kamar. Aku menangis teringat akan kakak yang begitu sangat mengasihiku. Mama yang sangat sibuk dengan segala macam urusan mengenai pekerjaan. Dan aku harus dikorbankan untuk berpindah-pindah rumah untuk dititipkan ke tetangga. Masa yang kurindukan, ketika mama dan aku berjalan bersama ke sebuah super market.
“Apa kamu ingin mainan ini.” Mama memberikan sebuah mainan yang aku sukai. Tapi aku menolaknya. Tak diduga oleh mama, aku langsung memeluknya.
“Aku tak inginkan apapun. Aku hanya menginginkan selalu bersama mama dan kakak.” Air mataku membasahi bajunya. Ia pun menangis dan memelukku dengan erat. Rasa bersalah hadir dalam dirinya. Tapi ia pun tak berdaya akan situasi yang saat ini.
Ia memisahkan seorang adik dengan kakak, sementara dirinya tak dapat mengurus pria kecil yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Mama pun harus bekerja untuk memenuhi segala kebutuhan. Dengan berat hati dan terpaksa, menitipkan buah hatinya ke tetangga dan sering kali berpindah-pindah rumah. Hatinya pun terkoyak mendengar tangisan dari anak laki-laki yang ia sayangi. Tak bisa dihindari keadaan yang telah terjadi dalam hidup. Tak sedikit pun ia mengetahui apa yang terjadi pada pria kecil yang dititipkan kepada tetangga.
     Kutelusuri anak tangga menuju loteng rumah. Tempat aku bersemayam dalam kesepian dan kesedihan.  Loteng yang kotor dan berdebu, tak seorang pun yang datang untuk menyentuh. Ada sebuah lukisan yang terpajang di dinding ruang yang gelap, ku nyalakan beberapa batang lilin. Tampak terlihat aku sedang melakukan sebuah ritual permintaan. Menatap sebuah lukisan yang mulai terlihat kusam oleh debu.
     “Apakah Kau benar Tuhan?” Wajah polos tetap menatap lukisan yang berada dihadapanku. Api lilin meliak liuk kesana kemari mengikuti arah angin yang singgah dalam baranya api.
     “Kalau Kau benar Tuhan, bisa janji satu hal padaku?
Angin bertiup kencang, memadamkan bara api yang berasal dari batang lilin. Gelap. Kegelapan kini telah datang.
***


3 comments:

  1. PinoQQ
    MAINPINOQQ.COM | MAINPINOQQ.ORG | MAINPINOQQ.INFO |
    -KARTU BOLEH BANDING, SERVICE JANGAN TANDING !-
    Jangan Menunda Kemenangan Bermain Anda ! Segera Daftarkan User ID terbaik nya & Mainkan Kartu Bagusnya.
    Dengan minimal Deposit hanya Rp 20.000,-
    1 user ID sudah bisa bermain 9 Permainan.
    • BandarQ
    • AduQ
    • Capsasusun
    • Domino99
    • Poker
    • BandarPoker
    • Sakong
    • Bandar66
    • PerangBaccarat
    Kami juga akan memudahkan anda untuk pembuatan ID dengan registrasi secara gratis.
    Untuk proses DEPO & WITHDRAW langsung ditangani oleh
    customer service kami yang profesional dan ramah.
    NO SYSTEM ROBOT!!! 100 % PLAYER Vs PLAYER
    Anda Juga Dapat Memainkannya Via Android / IPhone / IPad
    Untuk info lebih jelas silahkan hubungi CS kami-Online 24jam !!
    • WA : +855 96 978 7541
    • LINE : pino_qq

    Daftar PinoQQ
    PinoQQ
    PinoQQ
    Agen BandarQ
    Kartu Online
    PinoQQ
    Judi Online
    AgenSakong
    BandarQ

    ReplyDelete
  2. kelinci99
    Togel Online Terpercaya Dan Games Laiinnya Live Casino.
    HOT PROMO NEW MEMBER FREECHIPS 5ribu !!
    NEXT DEPOSIT 50ribu FREECHIPS 5RB !!
    Ada Bagi2 Freechips Untuk New Member + Bonus Depositnya Loh ,
    Yuk Daftarkan Sekarang Mumpung Ada Freechips Setiap Harinya
    segera daftar dan bermain ya selain Togel ad juga Games Online Betting lain nya ,
    yang bisa di mainkan dgn 1 userid saja .
    yukk daftar di www.kelinci99.casino

    ReplyDelete
  3. Yuk Merapat Best Betting Online Hanya Di AREATOTO
    Dalam 1 Userid Dapat Bermain Semua Permainan
    Yang Ada :
    TARUHAN BOLA - LIVE CASINO - SABUNG AYAM - TOGEL ONLINE ( Tanpa Batas Invest )
    Sekedar Nonton Bola ,
    Jika Tidak Pasang Taruhan , Mana Seru , Pasangkan Taruhan Anda Di areatoto
    Minimal Deposit Rp 20.000 Dan Withdraw Rp.50.000
    Proses Deposit Dan Withdraw ( EXPRES ) Super Cepat
    Anda Akan Di Layani Dengan Customer Service Yang Ramah
    Website Online 24Jam/Setiap Hariny

    ReplyDelete