Tuesday, April 21, 2020

Lanjutan Novel_CCTV Surga Tidak Pernah Mati Lampu



Terhilang
     Gelap. Awan gelap menutupi semua kenangan yang pernah aku lalui. Beberapa mesin kedokteran berada di sisi jendela kamar. Mataku terpejam. Tubuhku terbaring tak berdaya di atas ranjang. Tangan yang terpasang oleh selang infuse dan selang oksigen berada disela-sela lubang hidung untuk membantu pernafasaan ku yang tertidur dalam ruangan ICU. Jari jemari bergerak, menandakan diriku masih terjaga walau terlihat tak berdaya. Suara bising terdengar dari mesin pendektesi jantung yang memberikan tanda bahwa aku masih hidup. Hari-hariku kelabu selama 12 tahun, meski aku menjalani aktifitas yang ku lewati setiap hari. Tubuh berpijak pada bumi, tapi ragaku tak kembali. Dari luar kehidupan aku terlihat indah, mempunyai pekerjaan yang baik, melanjutkan kuliah dan sebuah keluarga yang bahagia. Aku mencoba menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan dan pekerjaan.
     Lorong yang begitu panjang kulalui dengan mendorong kereta yang dipenuhi alat-alat kerja. Mungkin saja seseorang melihat diriku menelusuri lorong panjang ini, tubuhku akan semakin mengecil. Karena begitu panjang perjalanan untuk menyisir lorong tersebut. Bukan perjalanan yang datar saja kulalui. Jalan menurun dan menanjak harus kutempuh. Lorong yang ku telusuri mengarahkan ke sebuah bangunan yang lain. Aku memanglah dipekerjakan sebagai Office Boy di tempat ini. Tapi aku tak tahu mengapa aku merasa sangat senang melakukan pekerjaan yang diberikan.
     “Apa kabar, Key?“
     “Kabar baik.” Jawabku. Salah satu karyawan menyapa. Ketika kami saling berpapasan di areal lorong penghubung gedung.
     Kupalingkan wajah melihat sekitar bangunan yang indah dan megah. Menikmati bangunan yang ada dan membawa hati penuh dengan sukacita. Sambil kutetap mendorong kereta yang beriringan dengan derap langkah kaki menelusuri lorong panjang. Taman yang indah terletak di sisi lorong penghubung. Bunga-bunga cantik memberikan kesegaran di sekitar gedung. Harum dari bunga terbawa oleh angin dan hinggap sejenak dalam penciumanku. Warna-warna bunga menghiasi seluruh taman mengantarkan ketenangan dalam jiwa. Terapi alam kurasa. Seluruh karyawan yang lelah seharian bekerja dapat menikmati aroma terapi dari taman. Akhirnya aku tiba juga berada di gedung ini. Setelah melewati lorong panjang yang kutelusuri. Kuletakkan kereta dorong peralatan kerja di pinggir dan mempersiapkan alat-alat yang akan kupakai.
     “Selamat siang, Key.”
     “Selamat siang.” Balasku menyapanya. Para pekerja di tempat ini, mereka semua sangatlah ramah sekali dan saling menyapa bila bertatap muka dengan karyawan lainnya. Seperti semut yang bertemu semut lain, selalu bersapaan.
     Kuraih sapu dari kereta dorong yang kubawa tadi. Untuk memulai bekerja di gedung yang cukup memakan waktu menuju kemari. Perusahaan ini gedungnya sangatlah luas dan memiliki lorong yang sangat panjang. Rasa lelah dan letih tak terasa olehku. Tak sedikitpun debu maupun sampah yang terlewatkan untuk dibersihkan. Seluruh gedung sangatlah terawat, tak ada manusia yang berkeliaran.  Sepi, tenang dan teduh kurasakan. Para pegawai semua berada di tempat yang sudah ditentukan dan semuanya disiplin serta bertanggung jawab setiap tugas yang diberikan.
     Aku diantar kemari. Aku terlibat kecelakaan dan kondisiku koma. Aku tidak tahu sudah berapa lama berada di tempat ini. Hanya yang teringat olehku, kedua anak laki-laki membawaku berada disini. Aku berdiri di depan gerbang, seperti berlapiskan emas murni. Daun pintunya terbuat dari perak. Dinding tembok yang indah terdapat batu permata yang mahal. Ada batu Zambrud, Musafir, Ruby, Berlian dan batu-batu mahal yang tak dapat kusebutkan satu persatu. Bahkan lantai yang kupijak pun berasal dari batu kali. Ciut nyaliku, karena kemegahan rumah yang kumasuki. Kedua pria kecil itu mengantarku menghampiri seseorang di ujung sana. Ia duduk di kursi yang sangat indah. Aku hanya menerka dalam hati, ia seperti seorang Raja yang duduk di singasana. Berkat merekalah, aku diizinkan tinggal di sini dan dipekerjakan sebagai Office Boy.
      Hari pertama aku bekerja, mendapatkan jadwal tugas pagi. Sebelum seluruh karyawan memulai aktifitas melakukan pekerjaan. Kami semua berkumpul di aula dan memulai pekerjaan dengan doa. Aku bingung dan risih. Untuk pertama kalinya, aku menjumpai sebuah perusahaan mengawali kegiatan melalui doa. Doa. Iya, menjalani aktifitas dengan sebuah doa.
     Tak kusangka perusahaan yang sebesar ini dengan jumlah karyawan yang begitu banyak, hingga tak dapat kuhitung melalui jari tangan. Mengawali aktifitas dengan doa. Aula ini adalah tempat seluruh karyawan berkumpul untuk memulai akitifitas sebelum bekerja. Mereka berbaris sangat teratur. Seperti sedang mengikuti upacara bendera. Seseorang berdiri di podium memberi arahan untuk seluruh karyawan yang hadir.
     “Terima kasih saya ucapakan untuk kehadirannya. Sebelum kita memulai aktifitas dalam bekerja. Baiknya kita memulai kegiatan hari ini dengan doa. Karena hanya doalah yang akan melindungi kita dari hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi.” Sang pemilik duduk tenang di singasana kebesarannya. Beliau pun taat mengikuti tiap arahan yang diberikan. Para hadirin yang berada dalam aula ini, hikmat mendengarkan suara yang berasal dari atas podium.
     Hati kecilku memuji sang pemilik perusahaan. Ia sungguh mulia mengarahkan seluruh karyawan dan mengajarkan untuk memulai aktifitas melalui doa. Tak pernah kutemukan seorang pimpinan maupun pemilik perusahaan yang membimbing seluruh karyawannya untuk mengawali aktifitas dengan berdoa.
     Tak terbayangkan olehku. Perusahaan ini sangatlah lengkap sekali. Kantor yang megah dengan management yang tertata rapih. Pabrik khusus untuk produksi pun ada, bahkan sebuah rumah sakit disediakan oleh pemilik perusahaan tersebut. Keamanan dan kenyamanan bagi karyawan disediakan. CCTV terpasang di setiap pojok ruangan dan mungkin saja terpasang juga di areal yang tersembunyi. Begitu perdulinya beliau terhadap seluruh karyawan yang bekerja di perusahaannya.
     Semua bangunan saling berhubungan. Ada sebuah lorong yang menghubungkan antara bangunan satu ke bangunan lainnya. Bukan seorang arsitek biasa yang memikirkan sedemikian rupa detail bangunan tersebut. Aku sangatlah bersyukur dapat diizinkan bergabung menjadi salah satu karyawan di tempat ini. Meskipun aku hanya seorang Office Boy yang bekerja membersihkan seluruh ruangan di bangunan megah dan mewah.
     Ritual yang sangat indah. Tapi meresahkan jiwa yang tak terbiasa. Hati tenang dan damai sejahtera melingkupi. Namun ragaku tak berdiam dalam tubuh. Pikiranku melalang buana berkelana membantah keadaan yang ada. Mataku berkeliaran kesana kemari dan kepala berpaling arah kanan kiri melihat mereka semua yang berdiam diri sungguh-sungguh dalam permohonan doa. Sementara aku. Aku hanya mengawasi mereka semua dalam kebodohan yang tak pernah kulakukan.
     Aku tidak sendiri membersihkan gedung sebesar dan seluas ini. Ada beberapa team yang dibentuk dan terbagi dalam tiga shift. Hari ini aku mendapatkan jadwal pagi. Menurut cerita dari salah satu temanku. Mengawali aktifitas berdoa sebelum bekerja, tidak hanya dilakukan setiap pagi saja. Melainkan shift dua dan tiga pun memulai kegiatannya dengan doa.
     Tanpa ada pengecualian ataupun alasan menolak untuk ikut mengawali kegiatan dengan berdoa. Ada banyak hal yang kudapatkan dan pelajari di tempat ini. Tugasku selanjutnya, setelah membersihkan gedung seberang. Kini aku membersihkan gedung yang terdapat lorong yang begitu panjang. Disisi lorong ada kamar yang bertuliskan sebuah nama pemiliknya. Pintu itu terkunci dan tertutup rapat. Kembali ku memuji sang pemilik perusahaan ini. Sungguh bijaksana sekali dalam memperhatikan karyawan. Beliau menyiapkan tempat untuk seluruh karyawan dan kamar-kamar tersebut, hanya satu orang pemiliknya.
     “Apakah ada kamar untukku?” Hatiku mengharapkan ada kamar yang tertera namaku di depan pintu. Tersenyum sendiri dan membayangkan kamar bertuliskan namaku. Sedikit berharap, walaupun tak banyak yang kuharapkan. Aku menyadari. Bahwa aku baru bergabung di perusahaan ini. Aku tak dapat memasuki areal tersebut. Tugasku hanya membersihkan areal lorong depan pintu kamar yang tertera nama di pintunya.
     Namaku Keyndi. Aku menimba ilmu di salah satu Universitas di kota ini. Aunty Handsomeku yang selalu hadir dan menutupi segala kenakalan yang aku perbuat. Mommy dan Daddy tidak pernah mengetahui permasalahanku. Aku bukan hanya si Penakluk Hati wanita, tapi juga seorang yang suka berkelahi maupun tawuran. Aku selalu berada di barisan depan demi membela teman-temanku.
     Tak pernah aku memikirkan diriku sendiri dengan resiko yang aku hadapi. Ketika teman maupun sahabatku bahagia itu adalah sebuah kesenangan untukku. Bagi mereka aku adalah seorang sahabat yang senang menolong orang lain dan tempat curhat yang paling asyik. Mereka merasa nyaman bersamaku dan semua berpikir bahwa aku adalah seorang pembela untuk mereka. Aku sangat dikenal kejam, galak, bandel, jagoan sekolah dan sangat susah diatur.
     Ada satu hal yang sangat mereka pahami dalam diriku, bahwa aku manusia yang tidak pernah takut pada siapapun. Karena itulah banyak hati wanita yang berlomba-lomba untuk jadi kekasih. Walau semua gadis tahu, kalau aku adalah player heart women. Tapi mereka tidak memperdulikan sikapku yang suka gonta-ganti pacar, dan banyak hati wanita yang terluka.
     Panasnya terik matahari hingga menusuk ke ubun-ubun kepala. Halaman parkir yang cukup luas untuk menjejerkan kotak beroda empat dan roda dua tertata rapih. Pohon-pohon  yang terlihat sombong berdiri tegak dengan daunnya yang rimbun mengisi kekosongan tempat ini. Dengan gembiranya debu bertebaran tersapu oleh angin dan berlabuh di wajah, menyisakan serpihannya di mata.
     Patung Buto yang tak pernah pindah, selalu setia menyambut kedatangan para tamu dan melintasinya memasuki halaman. Suasana siang ini begitu riuhnya dan ramai oleh segerombolan masa yang menyerbu kantin. Dari kejauhan terlihat sang penjaga tempat ini, tertidur lelap dan menyisakan sebatang rokok di tangan yang masih menyala. “Hmm...kebiasaan. Paling bentar lagi bangun..” Aku menggelengkan kepala melihatnya. Tanpa sengaja parodi kecil muncul dalam otakku terlintas begitu saja. Adegan yang paling aku sukai, ketika ia tertidur dan lupa membuang rokok yang masih tertinggal di tangan. Aku tersenyum sendiri, seolah-olah aku meledek tanpa sepengetahuan ia.
      Gedung ini cukup menampung banyak masa untuk mencari ilmu. Salah satunya adalah diriku. Iya. Aku terdampar di kota ini. Kota yang menurut ku asing untuk di tinggali. Tapi di sinilah semua kenangan itu terukir. Aku dan sebuah kenangan. Tempat favoritku untuk menikmati pemandangan dari kejauhan. Banyak cerita yang aku temui dan dapatkan. Mataku liar menjelajah ke setiap sudut, berharap menemukan sosok yang kucari. Cerita. Iya, cerita yang membuat aku berimajinasi dan membuat sesuatu drama dalam otak dan menghibur diri ketika aku penat.
     “Hai...Key. Koen ngelamun ae. Awan iki koen onok kelas, ngak?! Lek, ngak onok kelas. Melok aku, yo.  Cangkruk nang omah e koncoku.” Aku terkejut. Tiba-tiba pundakku di tepuk. “Sial”  Umpatku dalam hati. Nih...bocah demen banget die, yak...ganggu khayalan gw.
     “Kagak. Emang nape, dah...” Sejak aku menginjakkan kaki di kota ini. Dialah sahabatku yang selalu menganggu dan memperkenalkan keindahan kota ini padaku.
     Kota yang bersih dan sangat terkenal dengan sebutan Kota Pahlawan. Kota yang memiliki catatan penting di negeri ini. Bukan saja untuk negeri. Tapi untuk diriku pun menjadi suatu catatan utama dalam hidup. Kendaraan di jalan tidak terlalu padat dan tak ada sedikitpun kemacetan dimana-mana. Ruas-ruas jalan tertata rapih, sehingga memikat hati untuk kembali ke kota ini.
     Ku abaikan laju kencang motor yang di kendarai Bagus. Tak kudengar ia bercerita tentang keindahan kota asalnya. Suara dan logat kental yang ia ucapan terbawa oleh angin. Aku meringis kecil melalui kaca spion yang ditujukan padaku.  Karena aku kurang mengerti akan bahasanya. Mulutnya tak pernah berhenti dan lelah bercerita, meskipun aku tak mengerti apa yang ia sampaikan.  Perjalanan panjang telah kami lalui. Dari satu lampu merah ke lampu merah lainnya.
***

2 comments:

  1. kelinci99
    Togel Online Terpercaya Dan Games Laiinnya Live Casino.
    HOT PROMO NEW MEMBER FREECHIPS 5ribu !!
    NEXT DEPOSIT 50ribu FREECHIPS 5RB !!
    Ada Bagi2 Freechips Untuk New Member + Bonus Depositnya Loh ,
    Yuk Daftarkan Sekarang Mumpung Ada Freechips Setiap Harinya
    segera daftar dan bermain ya selain Togel ad juga Games Online Betting lain nya ,
    yang bisa di mainkan dgn 1 userid saja .
    yukk daftar di www.kelinci99.casino

    ReplyDelete
  2. Yuk Merapat Best Betting Online Hanya Di AREATOTO
    Dalam 1 Userid Dapat Bermain Semua Permainan
    Yang Ada :
    TARUHAN BOLA - LIVE CASINO - SABUNG AYAM - TOGEL ONLINE ( Tanpa Batas Invest )
    Sekedar Nonton Bola ,
    Jika Tidak Pasang Taruhan , Mana Seru , Pasangkan Taruhan Anda Di areatoto
    Minimal Deposit Rp 20.000 Dan Withdraw Rp.50.000
    Proses Deposit Dan Withdraw ( EXPRES ) Super Cepat
    Anda Akan Di Layani Dengan Customer Service Yang Ramah
    Website Online 24Jam/Setiap Hariny

    ReplyDelete