02A. Kenakalanku
Aku seperti seorang jagoan ketika
berhadapan dengan lawan. Seringkali aku diteriaki oleh mama, saat kami akan
bertengkar. Sepertinya yang terlihat kami adalah penguasa lapangan, tapi
sebenarnya tidaklah seperti itu. Hanya ada sedikit peraturan yang dibuat,
ketika kami bermain bersama jangan ada sebuah pertengkaran.
“Ney. Masuk.”
Suara
mama sangat keras, memecahkan pusat perhatian diantara kami. Aku dan seluruh pasukan
bubar berbalik arah dan menghindarkan barisan serta berlalu pergi. Sambil
melihat suasana kembali aman. Kami kembali berkumpul di tengah lapangan dan
membuat suasana berbeda bermain bersama dengan layang-layang. Aku dan teman-temanku
yang hampir saja membentuk barisan menyerang musuh dan menimbulkan sebuah
pertempuran hebat. Dengan layang-layanglah kami memulaikan suatu areal tempur
di atas langit dan menunjukkan diri, siapa yang jadi juaranya.
“Ney, Tarik benangnya. Jangan sampai
mereka dapat duluan.” Teriak salah satu temanku. Aku dan temanku berlari untuk
mendapatkan sebuah layangan. Lari dengan begitu kencang menyelusuri bebatuan
serta aliran air yang mengalir. Tanpa memperdulikan ada bahaya yang setiap saat
akan menghampiri. Teman-temanku menyukaiku. Aku sangat dikenal sebagai seorang
pembuat layangan. Aku akui. Aku tidak mampu untuk membeli layangan. Dengan
berbagai macam cara supaya aku memiliki dan tidak membuat hati mama bersedih.
Karena mama tidak memiliki uang untuk membelikanku sebuah layangan. Papa jarang
sekali pulang dan setiap kali papa pulang, sedikit sepeser uang tak pernah ia
berikan pada mama. Aku seringkali memperhatikan tukang layangan dekat rumah. Teman-temanku
yang memiliki uang jajan yang diberikan oleh orangtuanya dengan mudah mereka
memiliki. Sementara aku. Hanya duduk manis memperhatikan si pembuat layangan.
Dengan menyiapkan selembar kertas dan menyatukan empat potongan kertas tersebut
menggunakan selotip. Terlebih dahulu aku menyatukan dua lembar potongan kertas
untuk membentuk bagian atas. Kemudian hal yang sama aku lakukan untuk membuat
bagian bawah. Aku harus memastikan potongan-potongan kertas itu terpasang
kencang. Setelah semua menjadi satu dan terpasang kencang. Langkah selanjutnya
yang aku lakukan adalah memotong keempat sudut menjadi bentuk layangan. Barulah aku ikat layang yang
aku buat dengan disanggah oleh bamboo tipis.
“Ney, aku buatin layangan yah.” Aku senang bisa
membuatkan temanku sebuah layangan. Bahkan terkadang mereka memberikan aku uang
karena sudah membuatkannya. Uang yang aku terima, meskipun jumlahnya tak cukup
banyak. Tak pernah aku nikmati, aku memberikannya kepada mama untuk dapat
membantu membeli lauk yang akan kami
makan. Aku hanyalah sebatang kayu
pohon yang diproses untuk menjadi sebuah kertas. Kertas dikenal sebagai media
utama untuk menulis, mencetak serta melukis dan banyak kegunaan lain yang
dilakukan dengan kertas. Misalnya untuk membungkus cabai atau bawang. Kertas
merupakan revolusi baru dalam dunia tulis menulis yang menyumbangkan arti besar
dalam peradaban dunia. Sebelum ditemukan kertas , bangsa-bangsa dahulu
menggunakan tablet dari tanah lempung yang dibakar. Peradaban ini pernah
dipakai oleh bangsa Sumeria, prasasti dari batu, kayu, bamboo, kulit atau
tulang binatang, sutra bahkan daun lontar dirangkai seperti yang pernah kulihat
pada naskah-naskah Nusantara tempo dulu.

Yuk Merapat Best Betting Online Hanya Di AREATOTO
ReplyDeleteDalam 1 Userid Dapat Bermain Semua Permainan
Yang Ada :
TARUHAN BOLA - LIVE CASINO - SABUNG AYAM - TOGEL ONLINE ( Tanpa Batas Invest )
Sekedar Nonton Bola ,
Jika Tidak Pasang Taruhan , Mana Seru , Pasangkan Taruhan Anda Di areatoto
Minimal Deposit Rp 20.000 Dan Withdraw Rp.50.000
Proses Deposit Dan Withdraw ( EXPRES ) Super Cepat
Anda Akan Di Layani Dengan Customer Service Yang Ramah
Website Online 24Jam/Setiap Hariny