Aku
menyadari jiwaku yang kosong ini tak lagi sendiri, ia telah hadir menemani
kekosongan yang hampa dalam diriku. Waktu menunjukkan pukul jam satu malam, tak
sadar aku bahwa malam sudah jauh. Dan aku masih tetap terpaku di tempat dudukku
menemani ia bermain dengan meyibakan senyum indah yang ia tebarkan dilarutnya
malam, membuat aku terbuai dalam lamunan panjang. Kuraih sebatang rokok untuk
mengusir pikiran yang mengusikku menjadi sebuah dilema dalam hidup. Ketika aku
ingin meraih sebatang rokok dari meja yang tepat berada di sampingku. Kini
telah hilang lenyap, entah kemana perginya. Aku tersenyum melihat dadu scrabel
yang berbaris. Membuat sebuah kata yang tertulis di atas meja, sebagai ganti
rokokku yang telah hilang.
“Tidur, Apaney.
Besok ke Amain.” Ia mengingatkan dan mengetahui bahwa aku gelisah. Ia
memperhatikan meskipun sedang asyik bermain bersama teman-temannya. Dan
melihatku telah menghabiskan beberapa batang rokok, yang terkumpul bersatu
dengan abu di dalam asbak. Diantara anak-anak lain yang seusia dirinya dan
pernah dekat manja denganku, harus kuakui bahwa Keyzalah yang paling
menyebalkan. Kali ini aku tidak memarahinya telah menyembunyikan barang
kesayanganku. Sebagai teman sepi pengusir jenuh dalam hariku.
Aku
teringat akan perkataan mang Udin, kepadaku. Apapun yang terjadi didalam hidup
kamu, Ney. Kamu harus menghadapi semuanya dengan tegar dan jangan cengeng. Karena
semua kesempatan datang ketika kamu siap. Satu hal yang harus kamu ingat. Jangan pernah kamu melihat hasil atas apa
yang telah semua kamu lakukan. Tapi lihatlah proses yang telah kamu jalani
dalam hidupmu, sebab sekarang kamu berada di dalam sekolah kehidupan dan kamu
berada di dalam kelas penderitaan. Suatu hari nanti kamu akan mendapatkan
hadiah besar dari Sang Pemilik Jagat Raya ini Yaitu: Piala kehidupan yang akan
kamu terima. karena CCTV Surga Tidak Pernah Mati Lampu.
Aku
bangkit dari tempat dudukku yang sudah memaku diriku sepanjang malam. Menunggu
mentari pagi yang akan merubah hidupku. Dan merapikan semua barang-barang yang
ada di atas meja depan teras kamarku. Aku membiarkan ia masih asyik bermain.
Sebelum aku berlalu pergi untuk merebahkan tubuh dan beristirahat, aku
terjongkok di depan pintu kamar. Sambil memperhatikan ia bermain, dan memangku
wajahku dengan kedua tangan sebagai sandaran harapan yang tak sekalipun terlintas
dalam benak. Segera ia meninggalkan temannya menghampiriku. Dan memberikan
ciuman terhangat dikeningku.
Aku
terkejut ketika ia melakukan itu padaku dan tersenyum sambil berlalu pergi.
Seluruh organ tubuhku menjadi lemas. Ketika ciuman itu mendarat dikeningku dan
hampir saja membuat aku terkapar tak berdaya. Hati ini bagaikan tersambar petir
dan ingin aku memeluk dekap penuh kehangatan yang aku berikan untuknya. Tapi
semua itu tak dapat kulakukan karena dunia kami sangatlah jauh berbeda. Tergugah
hati ini yang hampir rusak. Aku bangkit dan pergi merebahkan tubuh menuju
tempat dimana aku bermalas-malasan. Jiwaku yang kosong tak lagi sendiri
meskipun aku ditemani oleh seorang anak yang berbeda dari anak-anak umum lain.
Dengan kehadirannya mengisi hari-hariku membuat hidupku menjadi lebih berarti
dan penuh warna.
***




