Terpaku sendiri dalam
keheningan malam, tubuhku yang sakit merambak kejiwaku yang terasa kelam.
Akankah keabadian akan segera menyapa jiwaku yang terdalam. Di bawah sinarnya
rembulan malam aku seperti patung yang bernyawa, hanya terdiam dan
memperhatikan ia bermain bersama teman-temannya tanpa ada rasa dendam. Begitu
gembiranya mereka bermain sambil berkejar-kejaran, tak ada beban yang terlihat
hanyalah senyum dan gelak tawa menghiasi wajah polos mereka. Tuhan memilihku
untuk menceritakan kebahagiaan ini. Melukiskan senyum tawa yang tersirat
diwajah bahwa ada kebahagiaan mereka miliki.
“Echa. Aku boleh pinjam
mainan kamu gak?”
Ia berlari menghampiriku
dengan membawa mainan yang aku miliki.
“Apakah boleh aku
pinjamkan Apaney?”
Aku hanya tersenyum dan
menganggukan kepala memberikan jawaban kepadanya. Anak perempuan kecil ini
memiliki attitude yang baik. Ia tahu mainan itu bukanlah miliknya, ia
menghampiriku meminta izin untuk dipinjamkan. Kuhembuskan nafas panjang,
seperti ada rasa cemburu melihat kebahagiaan mereka. Rembulan malam begitu
indah diwajahnya, senyum kedamaian terpancar ketika cahaya itu menyinari. Aku
masih tetap seperti patung, terbuai dengan tingkah laku mereka bermain bersama.
Tersadar aku dari pesona wajah mungil, membuai aku terlalu jauh hingga malam
meninggi. Hening dan begitu tenang teras malam membuat sebuah cerita
kebahagiaan yang tak pernah kulihat.
“Boleh kok. Apaneyku
sudah mengizinkannya.”
Sambil berlari menghampiri dan
memberikan mainan tersebut. Ia memperhatikan aku ditengah-tengah kegembiraan
malam yang telah larut. Warna hidupku begitu beda, sejak kehadirannya mengisi
hari-hariku. Kekosongan jiwaku telah terisi. Gelap, suram tanpa ada masa depan
hidupku melangkah. Sampai pada akhirnya aku berjumpa dengan anak perempuan
kecil ini, cerita hidupku penuh warna. Meskipun tidak dapat dicerna baik oleh
otak sehat. Aku sungguh sangat menyayanginya, ia telah mengisi kesepian jiwaku,
dan membuat warna-warna indah dalam menghiasi kehidupanku.
Benak hitam
menyelimuti gelapnya malam. Bulan yang menyinari, kini perlahan-lahan sirna.
Awan hitam menghalangi bias cahaya. Tertelan waktu hingga tenggelam. Hidupku
bagaikan kertas kosong yang tak berharga dan tak memiliki nilai apa-apa. Tak
ada warna maupun gambar yang tercermin dalam kehidupan. Andai saja salah satu
mesin cetak dapat mencetak hidupku. Hingga lembar demi lembar dalam bagian
hidupku menghasilkan warna atau gambar. Mungkin tak sesuram yang aku jalani. Otak
bodohku menyelundup dalam kegelisahanku malam ini. Layaknya kertas HVS yang
hanya dipakai untuk fotocopy, meskipun di letakkan di bawah sinar matahari atau
sinar lampu tak sedikitpun kertas itu berubah warna. Dalam ruang produksi
terdengar bising mesin. Mesin-mesin bergerak cepat menarik lembar perlembar
kertas yang telah terpotong sesuai ukuran. Bau tinta cetak sangat menyenggat.
Ditengah larutnya malam, mereka bergelut dengan dateline. Operator cetak sibuk
mengejar warna yang diminta klien. Bangkai-bangkai kertas yang tak terpakai
berserakan di samping mesin. Beberapa karung telah terisi oleh kertas-kertas
yang siap dijual dan ditimbang.
Ada berbagai macam jenis kertas untuk keperluan cetak mencetak. Salah
satu yang paling sering kita temui yaitu jenis kertas HVS. Kertas ini termasuk
jenis uncoated yang permukaannya tidak dilapisi sehingga bersifat kasar, daya
serap besar, karena tidak rata permukaannya menyebabkan hasil cetak tidak
glossy. Untuk kertas HVS, orang awam seringkali salah kaprah terhadap jenis
kertas ini. Ada yang bilang kertas HVS adalah sama dengan kertas folio.