Wednesday, January 29, 2020

Novel Ain & Ney_Kisah Cinta Yang Terlarang


01. Jiwa Yang Tak Kosong
Terpaku sendiri dalam keheningan malam, tubuhku yang sakit merambak kejiwaku yang terasa kelam. Akankah keabadian akan segera menyapa jiwaku yang terdalam. Di bawah sinarnya rembulan malam aku seperti patung yang bernyawa, hanya terdiam dan memperhatikan ia bermain bersama teman-temannya tanpa ada rasa dendam. Begitu gembiranya mereka bermain sambil berkejar-kejaran, tak ada beban yang terlihat hanyalah senyum dan gelak tawa menghiasi wajah polos mereka. Tuhan memilihku untuk menceritakan kebahagiaan ini. Melukiskan senyum tawa yang tersirat diwajah bahwa ada kebahagiaan mereka miliki.
Echa. Aku boleh pinjam mainan kamu gak? Ia berlari menghampiriku dengan membawa mainan yang aku miliki.
Apakah boleh aku pinjamkan Apaney? Aku hanya tersenyum dan menganggukan kepala memberikan jawaban kepadanya. Anak perempuan kecil ini memiliki attitude yang baik. Ia tahu mainan itu bukanlah miliknya, ia menghampiriku meminta izin untuk dipinjamkan. Kuhembuskan nafas panjang, seperti ada rasa cemburu melihat kebahagiaan mereka. Rembulan malam begitu indah diwajahnya, senyum kedamaian terpancar ketika cahaya itu menyinari. Aku masih tetap seperti patung, terbuai dengan tingkah laku mereka bermain bersama. Tersadar aku dari pesona wajah mungil, membuai aku terlalu jauh hingga malam meninggi. Hening dan begitu tenang teras malam membuat sebuah cerita kebahagiaan yang tak pernah kulihat.
Boleh kok. Apaneyku sudah mengizinkannya. Sambil berlari menghampiri dan memberikan mainan tersebut. Ia memperhatikan aku ditengah-tengah kegembiraan malam yang telah larut. Warna hidupku begitu beda, sejak kehadirannya mengisi hari-hariku. Kekosongan jiwaku telah terisi. Gelap, suram tanpa ada masa depan hidupku melangkah. Sampai pada akhirnya aku berjumpa dengan anak perempuan kecil ini, cerita hidupku penuh warna. Meskipun tidak dapat dicerna baik oleh otak sehat. Aku sungguh sangat menyayanginya, ia telah mengisi kesepian jiwaku, dan membuat warna-warna indah dalam menghiasi kehidupanku.
Benak hitam menyelimuti gelapnya malam. Bulan yang menyinari, kini perlahan-lahan sirna. Awan hitam menghalangi bias cahaya. Tertelan waktu hingga tenggelam. Hidupku bagaikan kertas kosong yang tak berharga dan tak memiliki nilai apa-apa. Tak ada warna maupun gambar yang tercermin dalam kehidupan. Andai saja salah satu mesin cetak dapat mencetak hidupku. Hingga lembar demi lembar dalam bagian hidupku menghasilkan warna atau gambar. Mungkin tak sesuram yang aku jalani. Otak bodohku menyelundup dalam kegelisahanku malam ini. Layaknya kertas HVS yang hanya dipakai untuk fotocopy, meskipun di letakkan di bawah sinar matahari atau sinar lampu tak sedikitpun kertas itu berubah warna. Dalam ruang produksi terdengar bising mesin. Mesin-mesin bergerak cepat menarik lembar perlembar kertas yang telah terpotong sesuai ukuran. Bau tinta cetak sangat menyenggat. Ditengah larutnya malam, mereka bergelut dengan dateline. Operator cetak sibuk mengejar warna yang diminta klien. Bangkai-bangkai kertas yang tak terpakai berserakan di samping mesin. Beberapa karung telah terisi oleh kertas-kertas yang siap dijual dan ditimbang.
Ada berbagai macam jenis kertas untuk keperluan cetak mencetak. Salah satu yang paling sering kita temui yaitu jenis kertas HVS. Kertas ini termasuk jenis uncoated yang permukaannya tidak dilapisi sehingga bersifat kasar, daya serap besar, karena tidak rata permukaannya menyebabkan hasil cetak tidak glossy. Untuk kertas HVS, orang awam seringkali salah kaprah terhadap jenis kertas ini. Ada yang bilang kertas HVS adalah sama dengan kertas folio.